{"id":291314,"date":"2024-08-08T17:00:11","date_gmt":"2024-08-08T10:00:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=291314"},"modified":"2024-08-08T16:45:27","modified_gmt":"2024-08-08T09:45:27","slug":"linkedin-nggak-toxic-kalian-yang-nggak-siap-jadi-profesional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/linkedin-nggak-toxic-kalian-yang-nggak-siap-jadi-profesional\/","title":{"rendered":"Anggapan LinkedIn Sosmed Toxic Hanyalah Kedok bagi Mereka yang Nggak Siap Menghadapi Dunia Profesional"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah membaca tulisan milik Mas Rully Novrianto di Terminal Mojok berjudul<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/linkedin-platform-media-sosial-paling-toxic\/\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan TikTok Atau X, Platform Media Sosial Paling Toxic Adalah LinkedIn<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, saya langsung mengernyitkan dahi. Kebingungan\u00a0 mencuat setelah membaca keseluruhan tulisan, dimana saya nggak bisa menemukan satupun poin yang membuat LinkedIn menjadi sosial media yang toxic. Oiya, saya sama sekali nggak ada masalah personal dengan Mas Rully Novrianto ya, hanya saja menurut saya ada beberapa hal yang ingin saya komentari saja dari tulisan beliau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya membahasnya lebih lanjut, saya ingin memberi konteks, memang banyak guyonan yang berseliweran di sosial media tentang LinkedIn. Guyonan yang paling populer ya \u201cJangan lupa siapkan mental ketika membuka LinkedIn\u201d. Media sosial ini memang kerap diasosiasikan dengan banyaknya pencapaian wow dari orang lain. Namun, saya baru tahu ada orang yang menganggap serius hal itu. Hadehhh, sepertinya bukan sosial medianya yang salah, kalian saja yang lemah dan nggak siap menghadapi dunia kerja.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenapa sampai tersinggung dengan pencapaian orang lain?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya saya hanya cuma ingin mengingatkan bahwa LinkedIn memang sosial media yang dibuat untuk \u201cbranding diri\u201d dalam dunia profesional. Nah, berdasarkan peruntukannya saja, seharusnya kita sudah aware bahwa memang isi postingan dan timeline yang akan muncul berkaitan dengan portofolio, kisah inspiratif, sampai pencapaian-pencapaian orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, ketika ada orang yang merasa terganggu saat melihat orang lain tak dikenal membagikan pencapaiannya ya menjadi aneh. Entah teman atau bukan, orang lain tentunya berhak membagikan pencapaian apapun dan sekecil apapun untuk branding dirinya sendiri. Justru aneh rasanya jika ada orang yang tersinggung dengan pencapaian orang lain yang tak dikenal hanya karena merasa ceritanya remeh, terasa nggak real, dan seolah-olah mengandung trik marketing. Ya, memang LinkedIn diciptakan untuk postingan seperti itu, bukan? <a href=\"https:\/\/glints.com\/id\/lowongan\/apa-itu-marketing-adalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Marketing<\/a> juga termasuk ilmu penting lho~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi, Mas Rully Novrianto menyampaikan kekesalannya karena merasa terdapat banyak postingan yang \u201ctoo good to be true\u201d. Kalau memang ada postingan semacam itu, saya rasa hal tersebut sama sekali nggak membuat sosial media ini menjadi toxic. Nah, kalau memang ceritanya real bagaimana? Sudah rugi karena marah-marah saat scroll timeline ditambah muncul prasangka tidak baik kepada orang yang nggak dikenal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mainnya kurang jauh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Argumen lain yang disampaikan pada tulisan tersebut menyatakan,\u00a0 Mas Rully nggak menemukan nilai dari konten yang muncul di LinkedIn. Lagi-lagi saya dibuat bingung dengan argumen tersebut karena selama ini saya justru sangat terbantu dengan banyak konten di sini. Beberapa konten yang saya rutin baca antara lain mengenai tutorial aplikasi penunjang pekerjaan saya sampai perkembangan industri yang saya tekuni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, kita sendiri juga perlu memperlakukan sosial media sebagaimana ia diperuntukkan. Saya pikir, LinkedIn ini bukan tipe sosial media yang perlu dipantau setiap hari dengan cara kita melakukan scroll timeline seperti kita membuka<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/reels-adalah-fitur-terburuk-yang-dimiliki-instagram\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Instagram<\/a> atau Twitter. Saya saja membukanya paling dua hari sekali saat ingin mencari informasi. Penggunaan paling benar dari LinkedIn ya dengan tidak melakukan scroll timeline, melainkan mencari konten yang kita butuhkan. Kalau kita memposisikan LinkedIn seperti medsos lain yang isinya berantem online ya tentu salah besar. Bukan konten LinkedIn yang tidak bernilai, tapi mainnya saja yang kurang jauh.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>LinkedIn sosmed yang paling mending<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu poin yang saya setujui dari tulisan Mas Rully hanya pada bagian akhir yaitu mengikuti konten berkualitas, mengurangi waktu scroll timeline, dan jangan baper dengan pencapaian orang lain. Hal yang paling saya garis bawahi ya mengurangi waktu konsumsi media sosial. Kalau mau dicari-cari, semua medsos nanti juga\u00a0 berdampak buruk ketika kita terlalu lama menggunakannya<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, LinkedIn malah sosial media yang paling mending jika dibandingkan dengan yang lain. Di mana lagi saya bisa mendapatkan ilmu untuk peruntukkan dunia profesional dari para ahlinya dan dibagikan secara gratis? Belum lagi, di sini saya bisa mendapatkan informasi rekrutmen atau perkembangan suatu perusahaan yang dibahas dengan cukup formal dan runut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya justru bingung bagaimana semua hal di atas bisa dikategorikan toxic? Menurut saya, membagikan pencapaian sekecil apapun di sini sah-sah saja toh\u00a0 semua orang perlu membangun citra untuk dirinya sendiri. Cerita inspirasi yang dibumbui kebohongan juga nggak sampai menimbulkan kerugian apapun. Kalau dibandingkan dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/off-dari-media-sosial-adalah-hal-yang-biasa-aja-nggak-usah-geger\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sosial media<\/a> yang lain tentu LinkedIn masih jauh lebih mending dalam hal konten karena isinya lebih substansial dan sumbernya dari orang profesional. Lalu, toxic dari mananya, ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Iqbal Habiburrohim<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/linkedin-platform-sosial-media-yang-bisa-bikin-insecure\/\"><b>LinkedIn, Mengubur Pencari Kerja dengan Rasa Insecure<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LinkedIn bukan sosmed toxic. Media sosial ini memang untuk dunia profesional sehingga unggahannya seputar capaian karier. <\/p>\n","protected":false},"author":1167,"featured_media":291434,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12906],"tags":[2710,1478,42,9686],"class_list":["post-291314","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-media-sosial","tag-dunia-kerja","tag-linkedin","tag-sosial-media","tag-toxic"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/291314","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1167"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=291314"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/291314\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/291434"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=291314"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=291314"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=291314"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}