{"id":291004,"date":"2024-08-06T13:34:21","date_gmt":"2024-08-06T06:34:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=291004"},"modified":"2024-08-06T13:24:05","modified_gmt":"2024-08-06T06:24:05","slug":"nasi-goreng-solo-terlalu-manis-di-lidah-orang-jawa-timur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasi-goreng-solo-terlalu-manis-di-lidah-orang-jawa-timur\/","title":{"rendered":"Susahnya Mencari Nasi Goreng di Solo yang Cocok di Lidah Orang Jawa Timur, Semuanya Terlalu Manis!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya orang Jawa Timur, tepatnya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-asal-ponorogo-repot-kalau-mau-mudik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ponorogo.<\/a> Nasi goreng di daerah saya punya ciri khas menggunakan nasi pera dan kering, sehingga bulir-bulir nasinya benar-benar terpisah satu sama lain. Berkat tekstur tersebut, bumbu nasi goreng bisa lebih meresap dan tercampur sempurna dengan nasinya. Warnanya yang merah dan rasanya yang dominan gurih jadi ciri khas lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, nasi goreng Jawa Timuran biasa disajikan dengan suwiran ayam dan irisan mentimun di atas nya. Tak lupa juga dihidangkan bersama kerupuk sebagai pendamping nasi goreng. Biasanya penjual nasi goreng Jawa Timuran\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">menyediakan cabe ijo utuh bagi pembeli yang merasa <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">nasi goreng yang dihidangkan kurang nampol di lidah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nasi goreng seperti di atas selalu membuat saya kangen ketika pergi ke luar kota. Hal itu benar-benar saya rasakan ketika memutuskan merantau pada 2022 yang lalu. Saya merantau dari Ponorogo ke Solo demi melanjutkan pendidikan di salah satu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ukt-ptn-indonesia-makin-mahal-mending-kuliah-ke-5-negara-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">perguruan tinggi negeri<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Puncak rasa kangen itu pada 2022 ketika saya memutuskan untuk merantau dari Ponorogo ke Kota Solo untuk melanjutkan pendidikan. Alih-alih kesulitan menyesuaikan budaya di Kota Batik itu. Saya lebih kesulitan beradaptasi dari sisi makanan, semuanya serba manis, termasuk nasi goreng.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sulit betul menemukan nasi goreng yang enak di kota ini. Saya harus menjajal hingga 6 kali baru menemukan nasi goreng gaya Jawa Timur yang mendekati ekspektasi saya. Ingat, ini baru mendekati ya, belum benar-benar sesuai atau melebihi ekspektasi saya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Nasi goreng Solo terlalu manis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nasi goreng pertama yang saya cicipi di Solo berasal dari seorang penjual yang mangkal di dekat kos. Saat kaget betul ketika pertama kali mencicipinya, warnanya coklat dan banyak irisan kubis di atasnya. Rasanya bukan gurih pedas, tapi cenderung gurih manis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman zonk itu tidak mengurungkan niat saya untuk menjajal nasi goreng lain di Solo. Saya kemudian mencari beberapa nasi goreng lain di sekitar kos, tetap saja mengecewakan. Ada yang warnanya pucat ada juga yang ditambahi topping yang aneh-aneh. Benar-benar nggak cocok di lidah saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, saking frustasinya, saya pernah menjajal nasi goreng magelangan di burjo. Teman saya menyarankan sebuah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/geliatwarga\/mengungkap-alasan-warung-burjo-dan-warmindo-kuningan-tidak-jualan-bubur-kacang-hijau-lagi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">burjo<\/a> yang menyajikan magelangan paling enak. Setelah saya cicipi, cita rasa magelangan cenderung manis. Nasinya menggunakan nasi pulen sehingga bumbunya tidak bisa meresap dengan maksimal.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Akhirnya dapat yang mendekati ekspektasi\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai suatu hari, saya menjajal nasi goreng yang dijual di barat<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Stadion_Manahan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Stadion Manahan<\/a>. Jarak penjual nasgor itu lumayan dari kampus, tapi beberapa orang sudah menyarankannya, termasuk pacar saya.\u00a0 Saya yang penasaran akhirnya berangkat untuk mencicipinya dengan harap-harap cemas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah perjalanan panjang mencari nasi goreng ala Jawa Timur, akhirnya saya menemukan yang paling dekat dengan ekspektasi. Nasi goreng dengan rasa dominan gurih asin yang lumayan berasa rasa pedasnya. Walau begi saya, rasa pedas itu masih kurang nampol. Hal penting lain, nasgor ini menggunakan nasi pera,\u00a0 dimasak bersama telur dan suwiran ayam. Penyajiannya pun sesuai dengan bayangan saya, dibubuhi acar timun dan potongan daun seledri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkat menjajal nasi goreng di tempat itu, saya jadi kembali punya harapan. Sebelumnya, saya pikir Kota Solo ini tidak ada nasi goreng enak yang cocok di lidah orang Jawa Timur seperti saya. Pencarian nasi goreng ala<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa_Timur\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Jawa Timur<\/a> di Solo pun terus berlanjut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini, setelah kurang lebih dua tahun tinggal di Solo, setidaknya saya punya tiga tempat nasi goreng yang sudah lolos verifikasi lidah saya. Bagi kalian orang Jawa Timur yang tinggal di Solo, nasi goreng apa yang menjadi favorit? Bagi rekomendasi ke saya dong.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Dikky Yudi Pradana<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketoprak-jakarta-beda-jauh-dengan-ketoprak-solo-bikin-kecele\/\">Ketoprak Jakarta dan Ketoprak Solo Namanya Saja yang Sama. Bentuk, Isi, dan Rasa Makanannya Jauh Berbeda<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nasi goreng Solo terlalu manis bagi lidah orang Jawa Timur yang baisanya makan nasi goreng dengan rasa pedas dan tekstur nasi pera.<\/p>\n","protected":false},"author":2724,"featured_media":291076,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[2501,25619,25618,2284],"class_list":["post-291004","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-jawa-timur","tag-nasi-goreng-jawa-timur","tag-nasi-goreng-solo","tag-solo"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/291004","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2724"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=291004"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/291004\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/291076"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=291004"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=291004"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=291004"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}