{"id":290801,"date":"2024-08-05T10:40:36","date_gmt":"2024-08-05T03:40:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=290801"},"modified":"2024-08-05T10:43:54","modified_gmt":"2024-08-05T03:43:54","slug":"angkringan-solo-bikin-syok-perantau-ponorogo-menu-bakaran-kok-gini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/angkringan-solo-bikin-syok-perantau-ponorogo-menu-bakaran-kok-gini\/","title":{"rendered":"Angkringan Solo Bikin Syok Perantau Ponorogo: Menu Bakaran kok Nggak Pakai Bumbu Bakar? Ini sih Namanya Nget-ngetan Gorengan!"},"content":{"rendered":"<p><i>Menu bakaran di angkringan Solo sih lebih cocok disebut nget-ngetan gorengan!<\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah hidup hampir 20 tahun di sebuah kabupaten kecil di bagian barat Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Nama kabupaten ini nggak terlalu populer kecuali reog yang memang menjadi identitas yang melekat kuat dan simbol kabupaten ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari lahir sampai lulus SMA, saya hampir nggak pernah keluar dari kabupaten ini kecuali saat mau main ke pantai karena<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ponorogo-lebih-nyaman-ditinggali-daripada-trenggalek\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Ponorogo<\/a> nggak kebagian garis pantai. Jadi, selama belasan tahun setiap harinya saya berkutat dengan tempat, makanan, dan hiburan yang nggak banyak pilihannya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Menu bakaran di angkringan Ponorogo diberi bumbu bakar yang sedap<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tempat nongkrong yang sering jadi tujuan saya dan teman-teman untuk menikmati dinginnya suasana malam adalah angkringan. Tempat ini cukup menjamur di Ponorogo dan bisa ditemui di sepanjang jalan raya. Angkringan yang saya maksud di sini yang berjualan memakai gerobak di pinggir jalan dengan tikar kecil untuk bercengkerama sambil menikmati secangkir kopi dan bakaran gorengan yang nikmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika kalian datang ke Kabupaten Ponorogo, cobalah untuk mampir ke angkringan dan menyantap menu bakaran yang ada di sini. Saya jamin, kalian bakal ketagihan dengan sensasi nikmat menu bakaran\u2014tidak semua tapi hampir mayoritas\u2014di sini. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengurutkan-5-gorengan-dari-kasta-tertinggi-sampai-terendah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gorengan<\/a> yang disediakan untuk bakaran tak jauh dari tempe, tahu isi, piya-piya, bakwan jagung, ceker, sate usus, tahu dan tempe bacem, dan beberapa jenis lainnya. Biasanya gorengan akan dicelupkan ke bumbu\u2014seperti bumbu yang dioleskan pada ayam bakar\u2014sebelum dibakar di atas arang. Makanya menu bakaran di angkringan Ponorogo memiliki cita rasa yang cenderung pedas mantap. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jamin, ketika kalian mencicipi menu bakaran di sini kalian nggak akan bisa berhenti mengunyah saking enak dan meresapnya bumbu bakaran. Sering juga saya makan nasi pakai lauk bakaran angkringan ini di rumah karena bumbunya memberikan rasa seperti ayam bakar.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Angkringan Solo beda dengan Ponorogo<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal-hal yang biasa saya lakukan di Ponorogo selama belasan tahun kemudian berubah ketika saya harus merantau. Setahun setelah lulus sekolah, saya mencoba ikut tes dan akhirnya diterima di universitas negeri yang ada di Kota Solo. Saya nggak pernah membayangkan bakal tinggal di sana dalam jangka waktu yang cukup lama untuk melanjutkan studi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada begitu banyak perbedaan atau bahasa kerennya culture shock yang saya rasakan sebagai orang Ponorogo yang merantau ke Solo. Tapi satu hal yang paling saya sadari adalah soal makanan yang dijual di Solo, khususnya di angkringan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fyi, kata yang digunakan untuk menamai angkringan di Kota Solo biasanya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-wedangan-ala-kafe-di-solo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wedangan<\/a> atau HIK. Sebenarnya kata wedangan masih saya pahami ketika pertama kali mendengarnya karena otak saya langsung merujuk pada objek yang sama, yakni angkringan. Tapi kata HIK ini yang sedikit membingungkan untuk saya cerna sebagai warga Jawa Timur. Sebab, saya tak pernah mendengar kata HIK sebelumnya<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p>Balik lagi ke makanan yang dij<span style=\"font-weight: 400;\">ual di angkringan Solo, saat pertama kali mencoba makan di sini, saya salfok dengan menu bakaran yang diantarkan. Bakaran yang datang adalah gorengan biasa tanpa ada apa pun yang menempel. Ekspektasi saya langsung hancur begitu melihat menu bakaran di angkringan Solo yang polos tanpa diselimuti bumbu bakar.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Menu bakaran yang sekadar dibakar untuk menghangatkan<\/strong><\/h2>\n<p>Sejatinya memang sem<span style=\"font-weight: 400;\">ua menu bakaran di angkringan Solo yang pernah saya coba selama dua tahun tinggal di sini ya begini. Awalnya saya mengira hanya di angkringan tertentu saja, tapi ketika saya mencoba angkringan lainnya ya menu bakarannya sama semua: polos, tanpa bumbu bakar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Men<span style=\"font-weight: 400;\">u bakaran di angkringan Solo sekadar dibakar untuk menghangatkan gorengan yang sudah digoreng sejak sore hari. Tujuannya agar memberikan sensasi &#8220;gorengan baru matang dan hangat&#8221; saat dimakan.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa angkringan yang menambahkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kecap-sawi-kecap-legendaris-sejak-1935-kebanggaan-kediri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kecap manis<\/a> ketika membakar gorengan. Tapi kecap juga sekadar formalitas yang nggak memberikan pengaruh rasa signifikan terhadap menu bakaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itu tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan menu bakaran di angkringan Ponorogo. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, di Ponorogo, gorengan dicelupkan ke dalam bumbu hingga meresap baru dibakar. Makanya rasanya ada tambahan sensasi pedas yang bikin nggak mau berhenti makan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mencoba berkali-kali menu bakaran di angkringan Solo, saya menganggap menu ini nggak layak disebut &#8220;bakaran&#8221;. Lebih cocok disebut nget-ngetan gorengan karena cuma gorengan yang diangetin lagi di atas api sebelum dimakan alih-alih dibakar menggunakan <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/sulsel\/kuliner\/d-6484357\/5-resep-bumbu-bakaran-untuk-acara-malam-tahun-baru-2023\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bumbu bakaran.<\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian mosok bakaran cuma diangetin terus udah gitu langsung disajikan. Namanya bakaran ya dioles bumbu lah biar makin enak. Kalian setuju, kan?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dikky Yudi Pradana<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tahu-bacem-adalah-menu-bakaran-paling-underrated-di-angkringan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tahu Bacem Adalah Menu Bakaran Paling Underrated di Angkringan<\/a>.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>cara ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Ponorogo, menu bakaran angkringan diberi bumbu sebelum dibakar di atas bara api. Sementara angkringan Solo nggak begitu.<\/p>\n","protected":false},"author":2724,"featured_media":290899,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[1641,16045,25588,1407,22540],"class_list":["post-290801","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-angkringan","tag-angkringan-solo","tag-bakaran","tag-gorengan","tag-orang-ponorogo"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/290801","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2724"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=290801"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/290801\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/290899"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=290801"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=290801"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=290801"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}