{"id":290693,"date":"2024-08-03T08:36:58","date_gmt":"2024-08-03T01:36:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=290693"},"modified":"2024-08-03T08:36:58","modified_gmt":"2024-08-03T01:36:58","slug":"wedang-ronde-vs-bandrek-bu-dewarsi-pusaka-lidah-orang-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wedang-ronde-vs-bandrek-bu-dewarsi-pusaka-lidah-orang-jogja\/","title":{"rendered":"Bandrek Bu Dewarsi vs Wedang Ronde, Adu Mekanik Minuman Tradisional dan Pusaka Lidah Orang Jogja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wedang ronde, menurut saya, adalah minuman yang pas untuk menghangatkan badan sekaligus mengganjal perut lapar. Minuman yang diisi oleh bola ketan, kacang, pasta wijen, jahe, dan gula merah, telah dijual oleh berbagai pedagang kaki lima di Jogja. Bahkan minuman ini telah menjadi ikon kuliner.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, masih ada minuman hangat yang mampu menandingi wedang ronde, yaitu bandrek. Minuman ini tidak banyak dijual di Jogja, bahkan hanya ada satu dan termasuk legend. Namanya Waroeng Bajigur dan Bandrek Bu Dewarsi. Lokasinya berada di jalan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mendebat-pagar-alun-alun-utara-jogja-yang-kehilangan-fitrah-takhta-untuk-rakyat-nya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Alun-Alun Utara<\/a>, samping timur Kraton, tepatnya depan SD Keputran I.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melansir Radar Jogja, Bandrek Bu Dewarsi telah berdiri sejak 1999. Warung tersebut merupakan inisiatif dari Pak Gowok dan Bu Warsi. Kebetulan keduanya dulu pernah menjadi penjual jamu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minuman tradisional tersebut sudah lama tidak dijual lagi di kota pelajar. Memasuki masa pensiun, keduanya beralih ke minuman bandrek dan bajigur yang lebih sederhana dan banyak diminati oleh berbagai kalangan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Awal mula kemunculan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditarik dari sejarahnya, wedang ronde berasal dari tradisi Tiongkok. Meski telah melebur dan mengalami transformasi menjadi minuman <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sejarah-di-balik-cita-rasa-manis-masakan-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">khas Jawa Tengah<\/a> dan Jpgja. Unsur keaslian minuman ini terlihat pada ronde yang merupakan bola kecil terbuat dari tepung ketan. Isinya bisa kacang tumbuk atau gula jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa wedang ronde populer di Jogja? Dari laman ubuvilla.com, minuman tersebut diperkenalkan oleh seorang warga Tionghoa yang sudah menetap di kota ini sejak abad ke-19.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah bagaimana proses yang terjadi silakan para pegiat kuliner, akademisi, atau mahasiswa antropologi yang bingung mau ngangkat penelitian apa, boleh menjadikan objek penelitian untuk menelusuri faktanya lebih lanjut. Berbeda dengan negara asalnya, di negara Tirai Bambu minuman tersebut bernama tangyuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara bandrek merupakan minuman khas Sunda. Namun masih menjadi perdebatan tentang asal usul bandrek yang sebagian akademisi menganggap berasal dari India. Minuman ini telah ada sejak abad 10 sampai 20. Berdasarkan informasi dari detik.com, minuman tersebut telah menjadi primadona bagi masyarakat Indonesia, bahkan di masa kolonial orang Eropa sangat menggemari minuman ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Adu mekanik komposisi wedang ronde dan bandrek<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya, kedua minuman ini sama-sama terbuat dari jahe. Bedanya, wedang ronde diisi oleh tepung ketan berbentuk bulat seperti bola pimpong. Tambahan kacang dan kolang kaling menambah sensasi tersendiri di minuman ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya bagi orang Sumatera seperti saya, masih merasa baru dengan minuman ini. Saya nggak pernah menemukan wedang ronde di Sumatera, apalagi Kota Medan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang Sumatera, bandrek selalu menjadi andalan di kala cuaca dingin. Walaupun Komposisi bandrek hanya sekedar jahe yang direbus tapi khasiatnya tidak jauh berbeda dengan wedang ronde.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan harganya cukup murah, apalagi minumnya di \u201cWarung Bajigur dan Bandrek Bu Dewarsi\u201d. Tapi selera orang juga beda-beda. Nggak bisa dipaksakan harus minum ini atau itu, yang penting sudah pernah mencoba dan menambah referensi soal minuman tradisional.<\/span><\/p>\n<h2><b>Penikmat Bandrek Bu Dewarsi dari kalangan priyayi Jogja sampai mahasiswa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari penuturan Bu Dhesy, sebagai pewaris dagangan kedua orang tuanya, dulunya penikmat minuman bandrek banyak dari kalangan ningrat, khususnya priyayi sepuh. Saat ini, penikmat minuman bandrek sudah berbagai kalangan, seperti mahasiswa, pekerja kantoran, wisatawan, dan sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung Bu Dewarsi memiliki beragam variasi minuman bandrek, bahkan bisa bereksperimen. Contohnya saja, bandrek campur jeruk, bansutel (bandrek susu telur), bandrek durian, bahkan bisa dicampur kopi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada masalah dengan perut Anda, jangan dicoba ya dek ya. Kalian juga bisa mencoba minuman ini dengan menyantap beberapa hidangan yang disajikan, seperti <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tahu_bakso\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tahu bakso<\/a>, kacang tojin, risol, dan gorengan lainnya. Sangat jarang menemukan hal beginian pada penjual wedang ronde.<\/span><\/p>\n<h2><b>Melestarikan minuman tradisional<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melansir Kompas.id, budaya minuman Nusantara tidak sekadar untuk mabuk-mabukan. Minuman tradisional memiliki beberapa kegunaan, yaitu sebagai ritual adat, beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal, maupun mempererat hubungan sosial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Raymond, seorang Antropolog dari Universitas Indonesia, dalam beberapa catatan di prasasti bernama Watukura dan Panggumulan A, Babad Tanah Jawi, Kitab Negarakertagama, dan Kakawin Arjunawiwaha, bahwa budaya minum di Nusantara bukan yang mengandung alkohol. Tapi lebih mengarah pada nilai dan norma sesuai keyakinan dari nenek moyang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin saja karena nenek moyang kita bosan mabuk, jadi saat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-penderitaan-orang-gampang-masuk-angin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">masuk angin<\/a> beralih ke minuman yang ada rempahnya. Atau bisa saja karena masuknya sebagian agama juga turut menggeser minuman yang memabukkan ke minuman yang menghangatkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya, bisa saja ketika Bandung Bondowoso mengerjakan proyek pembangunan candi, istirahatnya sambil minum bandrek plus merokok. Ini menurut asumsi saya loh, ya. Selain itu, minuman tradisional juga kaya akan manfaat. Bandrek Bu Dewarsi dengan harganya yang murah mampu mengeluarkan angin bagi mahasiswa Jogja yang sering begadang mengerjakan tugas akhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau lagi mager mau pergi ke tempat Bandrek Bu Dewarsi, karena males ngadepi macetnya Jogja, boleh menggantinya dengan wedang ronde. Selain murah, kaya manfaat, buat kenyang, dan bisa didapatkan dengan mudah, karena tiap sudut Jogja sangat banyak penjual wedang ronde.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asalkan minuman itu memang asli jahe, ya. Soalnya ada kasus di beberapa daerah yang menjual bandrek tapi kebanyakan merica. Kalau dominan merica, panasnya hanya di lidah dan membuat buat batuk karena gatal di tenggorokan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berharap banyak pada penjual minuman tradisional yang jujur dan rajin menabung. Supaya melahirkan bandrek-bandrek seperti Bu Dewarsi di masa yang akan datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Fachri Syauqii<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-rekomendasi-angkringan-dan-wedang-ronde-terenak-di-sekitar-undip\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Rekomendasi Angkringan dan Wedang Ronde Terenak di Sekitar UNDIP<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>cara ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandrek Bu Dewarsi, bersama wedang ronde, menjadi warisan budaya dan pusaka lidah bagi orang Jogja. Keduanya nikmat dan berkhasiat.<\/p>\n","protected":false},"author":2682,"featured_media":290710,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[2900,115,25565,16856],"class_list":["post-290693","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-bandrek","tag-jogja","tag-minuman-khas-jogja","tag-wedang-ronde"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/290693","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2682"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=290693"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/290693\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/290710"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=290693"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=290693"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=290693"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}