{"id":290650,"date":"2024-08-05T11:00:59","date_gmt":"2024-08-05T04:00:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=290650"},"modified":"2024-08-05T10:42:21","modified_gmt":"2024-08-05T03:42:21","slug":"skripsi-sudah-usang-adalah-pendapat-ngawur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/skripsi-sudah-usang-adalah-pendapat-ngawur\/","title":{"rendered":"Menganggap Skripsi Sudah Usang Adalah Pendapat Ngawur, Nyatanya Skripsi Masih Banyak Manfaatnya kok!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu saya membaca esai Mojok berjudul, <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/sama-seperti-kkn-skripsi-sudah-usang-dan-tidak-berguna\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sama Seperti KKN, Skripsi Sudah Usang dan Tidak Berguna<\/span><\/i><\/a> <span style=\"font-weight: 400;\">yang ditulis oleh Mas Khoirul Atfifudin. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dia berpendapat kalau skripsi saat ini sudah usang dan sebaiknya ditiadakan. Banyak orang juga sependapat. Banyak orang memandang skripsi sebagai beban, pusatnya stress, dan sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, menurut saya, menganggap skripsi usang itu terlalu berlebihan dan hanya menggeneralisasi sebagian pandangan saja. Tulisan Mas Khoirul mungkin bisa diterima oleh beberapa kalangan mahasiswa yang, maaf, nggak paham tentang skripsinya sendiri. Saya yakin responnya akan berbeda apabila esai itu dibaca oleh mahasiswa yang benar-benar memahami apa yang mereka kerjakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tulisan ini sebenarnya saya ingin membuka mata bahwa skripsi sampai saat ini masih tetap dibutuhkan. Lantaran skripsi juga berfungsi untuk menjaga tradisi intelektual. Malahan, secara nggak langsung dan mungkin secara nggak sadar, skripsi itu bermanfaat banget.<\/span><\/p>\n<h2><b>Skripsi melatih kemampuan analitis dan pengembangan diri mahasiswa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skripsi bisa meningkatkan kemampuan riset dan analisis kritis mahasiswa. Mereka\u00a0 belajar untuk mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data yang relevan, menganalisis informasi secara sistematis. Terakhir menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan. Terdengar simpel, tapi itu semua proses yang membutuhkan waktu cukup lama untuk beberapa mahasiswa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat proses itu, kita bisa tahu bahwa mengerjakan skripsi adalah proses yang sangat hati-hati dan tajam. Wajar saja, tahap ini bak gerbang terakhir mahasiswa sebelum menghadapi dunia yang sebenarnya. Bayangkan saja, jika tahapan ini ditiadakan dan semua unsur di atas hilang. Bagaimana bekal kemampuan mahasiswa saat masuk ke dunia nyata nanti? Bukannya di dunia kerja juga butuh pemikiran analitis dan pengambilan keputusan berbasis data juga, ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman rekan-rekan saya yang tergabung dalam grup mengerjakan skripsi juga memberikan testimoni nyata. Mereka bilang kalau mengerjakan skripsi sangat berguna untuk mengembangkan keterampilan manajemen proyek dan waktu. Mereka bisa menyusun rencana penelitian mereka, menetapkan target mereka, dan mengelola mana tahapan yang harus didahulukan serta mana tahapan yang harus mereka kesampingkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu masih dari aspek mekanisnya, belum lagi dari aspek komunikasinya. Beberapa rekan saya malah sangat bersyukur karena proses pengerjaan penelitian demi syarat kelulusan itu ternyata melatih <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/skill-komunikasi-yang-awut-awutan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kemampuan berkomunikasi<\/a> baik secara lisan maupun tulisan. Pasalnya, argumen-argumen yang mereka susun dalam mengerjakan dan mempresentasikan idenya semakin jelas dan tersusun.<\/span><\/p>\n<h2><b>Masih relevan di dunia kerja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi dan lagi, katanya, hubungan skripsi dan pekerjaan itu nggak ada, atau nggak akan pernah nyambung. Saya tentu kurang setuju dengan pernyataan ini. Realitas yang saya alami berbeda. Banyak sekali kakak tingkat saya, saudara-saudara saya, bahkan rekan komunitas saya yang berhasil mendapat pekerjaan karena skripsi mereka. Mereka bilang, para pemberi kerja justru sangat menghargai skripsi yang dibuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman kakak sepupu saya yang kerja di bidang industri misalnya. Waktu itu dia diterima kerja karena berhasil mempresentasikan ulang skripsinya di hadapan <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/bali\/berita\/d-6554770\/hrd-adalah-fungsi-tugas-dan-tanggung-jawabnya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">HRD<\/a>. Sebab, katanya, pengalaman-pengalaman saat menyusun skripsi seperti kemandirian, cara menganalisis masalah dengan kompleks, dan menyajikan temuan penelitian secara terstruktur sangat dibutuhkan oleh industri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha, bagaimana tidak, di era yang serba was-wes-wos seperti ini keterampilan mengolah informasi, memilih dan memilah tren, serta membuat rekomendasi berbasis data juga sangat dibutuhkan di pekerjaan. Lalu, hal-hal semacam itu dari mana lagi kalau nggak diinisiasi oleh skripsi. Belum lagi jika pekerjaannya di ranah akademisi, lha kalau nggak ada skripsi, kredibilitasnya bagaimana?!<\/span><\/p>\n<h2><b>Skripsi bukan tantangan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi poin saya yang sebenarnya adalah janganlah menganggap skripsi sebagai tantangan. Lihatlah tahap ini sebagai proses belajar atau sesuatu yang akan memberikan dampak baik bagi mahasiswa. Ya, mungkin secara nggak langsung, tapi itu secara pasti. Jujur, dari sisi pengembangan diri, kontribusi akademik, hingga keterkaitannya dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/banting-setir-di-dunia-kerja-nggak-selamanya-indah-pahami-risikonya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dunia kerja<\/a>, skripsi masih memiliki nilai dan jauh dari kata usang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya sih sederhana saja. Alih-alih kita gembar-gembor memberi masukan untuk meniadakan tahapan ini, seharusnya kita perlu fokus memperbaiki bagaimana relevansi dan kualitas. Tentu dengan cara-cara yang tepat, saya jamin skripsi masih menjadi komponen yang penting di ranah pendidikan tinggi dan masyarakat luas. Apalagi jika tujuannya untuk menciptakan lulusan yang mampu menghadapi tantangan dunia yang serba ribet ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Adhitiya Prasta Pratama<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/maba-jangan-mudah-percaya-kata-kata-tentang-ormek\/\">Dear Maba, Berikut Kalimat yang Nggak Perlu Kalian Percaya tentang Ormek<\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menggaggap skripsi usang adalah pedapat yang berlebihan. Skripsi bisa melatih analisis kritis mahasiswa dan masih relevan di dunia kerja.<\/p>\n","protected":false},"author":1549,"featured_media":290893,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[921,34,356,236,4264],"class_list":["post-290650","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-kampus","tag-mahasiswa","tag-penelitian","tag-skripsi","tag-tugas-akhir"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/290650","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1549"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=290650"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/290650\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/290893"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=290650"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=290650"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=290650"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}