{"id":290606,"date":"2024-08-03T14:07:00","date_gmt":"2024-08-03T07:07:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=290606"},"modified":"2024-08-03T08:25:47","modified_gmt":"2024-08-03T01:25:47","slug":"5-peribahasa-sunda-yang-nggak-ada-dalam-pelajaran-bahasa-sunda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-peribahasa-sunda-yang-nggak-ada-dalam-pelajaran-bahasa-sunda\/","title":{"rendered":"5 Peribahasa Sunda yang Nggak Ada dalam Pelajaran Bahasa Sunda"},"content":{"rendered":"<p><em>Peribahasa Sunda berikut biasanya hanya terlontar di tongkrongan, jadi jangan harap bisa menemuinya dalam pelajaran Bahasa Sunda di sekolah, ya.<\/em><\/p>\n<p>Peribahasa merupakan sebuah ungkapan dalam bentuk kalimat yang singkat serta memiliki makna tertentu. Rajin pangkal pandai adalah salah satu bentuk peribahasa dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-kosakata-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Indonesia<\/a> yang sangat populer. Makna dari peribahasa tersebut adalah setiap orang yang ingin menjadi pandai harus rajin dalam belajar.<\/p>\n<p>Bukan hanya dalam bahasa Indonesia, peribahasa juga biasanya ada dalam beberapa bahasa daerah, tak terkecuali bahasa Sunda. Salah satu peribahasa dalam bahasa Sunda yang cukup terkenal adalah \u201ccikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok\u201d yang bermakna bahwa usaha yang terus dilakoni meskipun sedikit demi sedikit lama-lama akan membuahkan hasil yang maksimal.<\/p>\n<p>Orang Sunda terkenal dengan kepribadiannya yang suka bercanda. Tidak jarang mereka juga suka menciptakan sebuah kalimat atau peribahasa yang unik. Biasanya peribahasa tersebut sering digunakan dalam tongkrongan. Berikut ini merupakan peribahasa Sunda yang sebenarnya nggak ada dalam pelajaran Bahasa Sunda.<\/p>\n<h2><strong>#1 Keureut ceuli aing, peribahasa Sunda untuk menunjukkan kejujuran<\/strong><\/h2>\n<p>Beberapa dari kalian mungkin pernah mendengar atau melihat peribahasa Sunda ini di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/media-sosial\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">media sosial<\/a>. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya potong telinga saya.<\/p>\n<p>Peribahasa ini mempunyai makna tentang seseorang yang berusaha meyakinkan lawan bicaranya bahwa apa yang dibicarakannya memang benar adanya. Agar si lawan bicara percaya 100%, orang Sunda akan memakai peribahasa ini untuk menunjukkan kejujurannya.<\/p>\n<h2><strong>#2 &#8220;Tapi umi nyangu?&#8221; biasa dipakai saat bingung mau jawab apa<\/strong><\/h2>\n<p>\u201cTapi umi nyangu?\u201d atau \u201cTapi ibu masak nasi? merupakan salah satu peribahasa Sunda yang paling bikin jengkel. Gimana nggak jengkel, ketika kita berbicara panjang lebar tentang suatu hal, lawan bicara malah membalas dengan kalimat \u201cTapi umi nyangu?\u201d dengan raut wajah yang juga bikin kesal.<\/p>\n<p>Biasanya peribahasa menyebalkan ini dipakai ketika lawan bicara sudah nggak bisa berkata apa-apa lagi alias informasi yang disampaikan sudah kelewat jelas. Peribahasa ini juga sering terlontar saat si lawan bicara kalah dalam berdebat dan bingung harus menjawab apa.<\/p>\n<h2><strong>#3 Beungeut sia hurung, peribahasa Sunda yang kasar<\/strong><\/h2>\n<p>Selanjutnya ada salah satu peribahasa yang termasuk kasar. Beungeut merupakan bahasa kasar dari muka atau wajah. Sia adalah kata ganti kamu yang kasar. Sementara hurung mempunyai arti menyala. Jadi, \u201cbeungeut sia hurung\u201d memiliki arti \u201cwajah kamu menyala\u201d. Peribahasa Sunda ini sering dipakai saat berada di tongkrongan.<\/p>\n<p>Biasanya &#8220;beungeut sia hurung&#8221; dipakai untuk mengungkapkan kekesalan kepada lawan bicara. Kekesalan ini biasanya sudah berada pada level tertinggi karena lawan bicara mengungkapkan hal yang keliru. Peribahasa kasar ini juga bisa dipakai kepada lawan bicara yang kelewat keras kepala seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketololan-gaya-baru-benci-orang-berdasarkan-zodiak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">zodiak Aries<\/a>, misalnya.<\/p>\n<h2><strong>#4 Entah siapa yang pertama kali mencetuskan kalimat &#8220;aing leuwih percaya Hitler dimakamkeun di Garut&#8221;<\/strong><\/h2>\n<p>Entah siapa yang pertama kali mencetuskan peribahasa\u00a0 Sunda satu ini. Tapi kalimat \u201caing leuwih percaya Hitler dimakamkeun di Garut\u201d mempunyai konotasi yang unik dan lucu. Jika diterjemahkan, peribahasa ini memiliki arti \u201csaya lebih percaya kalau Hitler dikuburkan di Garut\u201d. Orang-orang yang memakai peribahasa satu ini biasanya sudah kadung nggak percaya sama ucapan lawan bicaranya yang dinilai mengada-ngada.<\/p>\n<p>Mereka yang pakai jurus peribahasa ini akan jauh lebih \u201cpercaya\u201d kalau Adolf Hitler sebenarnya memang <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2023\/06\/14\/140000379\/apakah-hitler-mati-di-garut-?page=all\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dimakamkan di Garut<\/a> daripada informasi yang diberikan oleh lawan bicaranya. Tapi, saya juga nggak tahu persis, sih, kalau Hitler itu makamnya ada di mana.<\/p>\n<h2><strong>#5 &#8220;Lamun aing mah ngaliang, da!&#8221; digunakan untuk bicara dengan orang ngeyel<\/strong><\/h2>\n<p>Terakhir ada ungkapan \u201clamun aing, mah, ngaliang, da!\u201d (kalau saya lebih baik menggali lubang) yang biasa digunakan saat mendapati lawan bicara yang ngeyel, padahal jelas-jelas dia salah. Contoh kasusnya, temanmu menuduh kamu menyembunyikan ponselnya, padahal dia sendiri yang lupa menyimpannya. Nah, kamu bisa memakai peribahasa dalam bahasa Sunda ini. Maknanya adalah lebih baik menggali lubang karena malu dengan perilaku sendiri.<\/p>\n<p>Itulah beberapa peribahasa yang sering dipakai oleh orang Sunda. Peribahasa ini tentunya nggak ada dalam pelajaran Bahasa Sunda alias hanya dipakai dalam tongkrongan agar nggak terlalu kaku. Peribahasa mana yang sering atau pernah kalian dengar?<\/p>\n<p>Penulis: Erfransdo<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/peribahasa-sunda-gen-z-wajib-tahu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">8 Peribahasa Sunda yang Wajib Diketahui Gen Z<\/a>.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>cara ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Peribahasa Sunda berikut biasa dipakai di dalam tongkrongan orang-orang Sunda. Jangan harap mempelajarinya dalam pelajaran Bahasa Sunda, ya.<\/p>\n","protected":false},"author":654,"featured_media":290705,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[6512,8938,25564],"class_list":["post-290606","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-bahasa-sunda","tag-peribahasa","tag-peribahasa-sunda"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/290606","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/654"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=290606"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/290606\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/290705"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=290606"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=290606"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=290606"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}