{"id":290337,"date":"2024-08-01T11:24:37","date_gmt":"2024-08-01T04:24:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=290337"},"modified":"2024-08-01T11:24:37","modified_gmt":"2024-08-01T04:24:37","slug":"kuliner-jogja-yang-gagal-menggoyang-lidah-orang-malang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliner-jogja-yang-gagal-menggoyang-lidah-orang-malang\/","title":{"rendered":"3 Kuliner Jogja yang Gagal Menggoyang Lidah Orang Malang"},"content":{"rendered":"<p>Ada sebuah pertanyaan yang nggak akan pernah ada jawaban pastinya, &#8220;<span style=\"font-weight: 400;\">Antara Malang dan Jogja, mana yang punya kuliner paling enak?\u201d<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Tidak pernah ada kata sepakat atas pertanyaan tadi. Namun, satu hal yang pasti dan bisa disepakati, tidak semua kuliner Jogja bisa sukses dan laku di Malang. Pun sebaliknya, tidak semua kuliner Malang bisa sukses dan laku di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mas Moddie Alvianto benar dalam tulisannya yang berjudul <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-kuliner-malang-yang-gagal-total-dan-tidak-laku-di-jogja\/\"><i>3 Kuliner Malang yang Gagal Total dan Tidak Laku di Jogja.<\/i><\/a><b><i>\u00a0<\/i><\/b><b>\u00a0<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Tiga kuliner yang dibahas ada <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Cokelat Klasik, Mie Setan, dan Ayam Goreng Nelongso. Jangankan di Jogja, ketiga kuliner itu di Malang\u2014yang notabene adalah tuan rumah\u2014juga sudah nggak terlalu <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">hype<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, biar enak dan adil<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, saya akan coba menulis balik, merespon tulisan Mas Moddie. Saya ingin menulis tentang kuliner Jogja yang lesu dan kurang laku\u2014bahkan nggak laku\u2014di Malang. Namun, saya harus jujur, sebenarnya saya agak kesulitan untuk menemukan kuliner Jogja\u2014baik yang tradisional atau yang model <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">franchise<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u2014yang kurang laku di Malang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kuliner Jogja cenderung lebih dicintai di Malang\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kesulitan menemukan kuliner Jogja yang nggak laku di Malang karena harus diakui, makanan dari Kota Pelajar itu punya tempat tersendiri di hati orang Malang. Kuliner Jogja punya kekhasan cita rasa yang bikin orang-orang kangen dengan Jogja. Maka ketika ada kuliner Jogja yang dibawa ke Malang, biasanya akan cukup sukses. Misal,\u00a0 gudeg, bakmi jowo, Lesehan Yogyakarta, Mie Jogja Pak Karso, bahkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/preksu-harusnya-masuk-nominasi-ayam-geprek-terbaik-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Warung Preksu<\/a> (Ayam Geprek dan Susu).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, setelah saya kulik sana-sini, saya temukan juga beberapa kuliner yang gagal memikat hati orang Malang. Saya ngobrol dengan seorang kawan bernama Alfan Rahadi. Dia seorang pegiat\/pemerhati kancah musik independen dan orang yang cukup paham dalam urusan kuliner di Malang.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Meski banyak kuliner dari Jogja yang bisa sukses di Malang, tetap saja ada yang tidak se-booming gudeg, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-menyebalkan-yang-ada-di-warung-bakmi-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bakmi jowo<\/a>, atau warung preksu. Bagaimanapun, Malang punya cita rasa sendiri dengan sentuhan asin-gurih yang susah ditembus oleh kuliner Jogja kalau tidak ada penyesuaian. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau boleh meminjam kalimat dari Alfan Rahadi, \u201cSupremasi cita rasa kuliner Jawa Timur (dalam hal ini adalah Malang), menghadapkan beberapa kuliner Jogja ke dua pilihan: adaptasi atau gulung tikar&#8221;. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah obrolan itu, saya\u2014kami tepatnya\u2014akhirnya bisa menyimpulkan bahwa ada setidaknya 3 kuliner Jogja yang kurang laku di Malang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Kuliner Jogja bakpia basah, tunduk di hadapan pia kering khas Malang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bakpia, mau itu bakpia pathok dan sejenisnya, pokoknya sebangsa bakpia basah Jogja, boleh saja sesumbar sebagai kudapan (oleh-oleh) nomor satu di Jogja. Banyak juga wisatawan asal Malang yang pulang berlibur di Jogja membawa bakpia. Namun, jika bakpia sudah masuk ke Malang sebagai sebuah bisnis kuliner, mereka harus tunduk dan mengakui keunggulan telak bakpia\/pia kering khas Malang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah ada beberapa toko bakpia Jogja di Malang, dan toko-toko tersebut nggak bertahan lama. Paling yang bertahan sekarang ya bakpia basah industri kecil rumahan saja. Ya mau gimana, pia kering Malang\u2014seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pia-cap-mangkok-oleh-oleh-khas-malang-yang-jarang-diketahui-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pia Cap Mangkok<\/a> dan sebagainya\u2014terlalu superior di Malang. Bahkan, secara rasa (di lidah saya), memang lebih enak pia kering. Pia lebih kaya tekstur dan lebih pas untuk teman ngeteh atau minum kopi.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Sate Klathak antara ada dan tiada<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya mengira bahwa sata klathak ini akan jadi kuliner khas Jogja yang paling bisa diterima oleh lidah orang Malang. Secara rasa, sate klathak itu dominan asin-gurih. Cita rasa yang sama dengan kebanyakan kuliner Malang. Namun, entah mengapa, nggak pernah ada sate klathak yang berhasil di Malang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kita cari sate klathak di Malang, kita mungkin hanya nemu dua tempat. Pertama, sate klathak Mbak Rara yang mana tutup sementara entah sejak dan sampai kapan. Kedua, sate klathak Abah di daerah Tunggulwulung, Malang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kuliner yang kerap menyertai sate klathak semacam tengkleng atau gulai masih banyak yang laku. Nggak tahu kenapa sate klathak ini kok nasibnya beda, antara ada dan tiada. Padahal secara rasa masih cocok, dan secara harga juga nggak jauh beda dengan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sate_klatak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sate klathak<\/a> di Jogja atau kuliner olahan kambing lainnya yang ada dan sukses di Malang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Mangut Lele, nggak ada apa-apanya dibanding Mangut Kutuk<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak populernya mangut lele Jogja (Mbah Marto atau siapapun), kuliner satu ini memang langsung menyebar di berbagai wilayah, termasuk Malang. Entah sudah beberapa usaha kuliner khusus mangut lele atau yang ada mangut lele di Malang yang coba membawa cita rasa itu. Sayang, tidak ada yang benar-benar berhasil, entah mengapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mangut lele Jogja memang belum bisa bersaing dengan mangut kutuk (ikan gabus) khas Blitar yang sudah terlebih dahulu menempati hati dan lidah orang Malang. Menurut saya, lidah orang Malang itu sudah lebih dulu dan lebih lama dimanjakan dengan nikmatnya mangut kutuk khas Blitar yang cita rasanya lebih nikmat, kuahnya lebih sedap, lebih gurih, lebih segalanya daripada mangut lele Jogja. Jadi ketika mangut lele Jogja coba masuk ke Malang, ya jelas percuma, jelas kalah jauh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit pernyataan yang mungkin agak di luar konteks: mangut lele di manapun, bagi saya, masih kalah jauh rasanya dibanding mangut kutuk khas Blitar. Terutama yang ada di warung budhe saya di daerah Brongkos, Kesamben, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alun-alun-kota-blitar-tempat-indah-yang-diteror-kotoran-burung-kuntul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Blitar<\/a>. Kalah jauh, telak, nggak ada apa-apanya. Sudah, itu aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari tulisan ini, saya\u2014atau mungkin kita\u2014jadi mengerti bahwa kuliner Jogja yang kurang laku di Malang justru kuliner yang secara spektrum rasa punya kemiripan dengan kuliner Malang. Kuliner semacam gudeg, tempe\/tahu\/ayam bacem, yang secara rasa nggak terlalu \u201cnyambung\u201d dengan lidah orang Malang atau lidah Jawa Timuran malah cukup laku di Malang. Yah, namanya juga hidup, kata orang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sawang-sinawang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Iqbal AR<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kuliner-tegal-enak-yang-layak-dikenal-lebih-banyak-orang\/\"><b>5 Kuliner Tegal yang Layak Dikenal Lebih Luas, Ayo Orang Tegal Jangan Buka Warteg Melulu<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada beberapa kuliner Jogja yang laris di daerah asalnya, tapi kurang laku di Malang, seperti bakpia basah, sate klathak, dan mangut lele.<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":290356,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[115,438,4418,985],"class_list":["post-290337","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-jogja","tag-kuliner","tag-kuliner-jogja","tag-malang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/290337","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=290337"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/290337\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/290356"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=290337"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=290337"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=290337"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}