{"id":290053,"date":"2024-07-29T16:52:40","date_gmt":"2024-07-29T09:52:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=290053"},"modified":"2024-07-29T16:52:40","modified_gmt":"2024-07-29T09:52:40","slug":"tumpak-sewu-lumajang-memang-indah-tapi-apa-apa-serba-bayar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tumpak-sewu-lumajang-memang-indah-tapi-apa-apa-serba-bayar\/","title":{"rendered":"Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang Memang Indah, tapi Apa-apa Serba Bayar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya gemar berwisata ke air terjun. Dari sekian banyak tempat yang pernah dikunjungi, Air Terjun Tumpak Sewu di Lumajang yang paling memikat. Indah dan megah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/persiapan-wisata-ke-air-terjun-kedung-kayang-magelang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Air terjun<\/a> yang dikenal juga sebagai Coban Sewu ini punya ketinggian hingga 120 meter. Bentuk aliran airnya seperti tirai yang melebar. Di kalangan pecinta air terjun, bentuk aliran seperti ini termasuk tipe tiered. Betul-betul indah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama Tumpak Sewu berarti &#8220;naik seribu\u201d. Penamaan itu terinspirasi dari aliran air yang turun berjejer dari tebing, bentuknya jadi mirip seperti tirai. Di taraf internasional, Air Terjun Tumpak Sewu mirip seperti Air Terjun Niagara di Amerika Utara. Bedanya, Air Terjun Tumpak Sewu memiliki ketinggian melebihi Air Terjun Niagara yang hanya setinggi 50 meter.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ketipu tarif parkir<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, keindahan itu ternodai oleh banyaknya retribusi ketika masuk ke kawasan wisata. Saya nggak mempermasalahkan retribusi di tempat wisata ya. Toh tarif semacam ini memang diperlukan untuk pengelolaan wisata. Persoalannya, Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang terlalu banyak retribusi. Kesannya, apa-apa harus bayar!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, saya dengan teman-teman kuliah mengunjungi Tumpak Sewu untuk liburan. Begitu memasuki jalan menuju tempat parkir, kami ditarik Rp2.000 per motor dan diberi semacam tiket kecil berwarna kuning. Dalam hati saya \u201cWah, ternyata cukup murah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/tarif-tukang-parkir-bali-bikin-perantau-jogja-kaget\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">biaya parkir<\/a> di tempat wisata seperti ini\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesampainya di parkiran, kami memarkirkan motor, menaruh helm, dan memasukkan Jaket ke dalam bagasi. Tak berselang lama, ada seorang mas-mas berjalan ke arah kami dan memberikan kami tiket berwarna biru yang bertuliskan \u201cParkir Sepeda Motor Rp10.000\u201d. Lah, bukannya tadi sudah bayar per motor Rp.2000 kok sekarang malah bayar lagi Rp10.000?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk memastikan agar bisa protes ke mas-mas tadi, saya cek kembali tiket kuning pas awal masuk yang belum sempat saya baca. Di situ tertulis \u201ckarcis untuk perawatan jalan\u201d. Peh, saya kira karcis yang awal itu buat karcis parkir. Padahal karcis parkir dan tiket masuk itu juga sudah bisa buat perawatan jalan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Retribusi Tampak Sewu yang nggak praktis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nggrundel<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di parkiran, kami berjalan menuju loket masuk Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang. Harga tiket masuk Rp10.000 per orang. Saya pikir harga ini masih wajar, mirip seperti tempat-tempat wisata air terjun lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami melanjutkan perjalanan menyusuri perkebunan warga sejauh kurang lebih 500 meter untuk sampai di Panorama Tumpak Sewu. Spot ini menawarkan pemandangan Air Terjun Tumpak Sewu dari atas. Sangat indah sekali hingga kami berkeinginan untuk turun menuju bawah air terjun tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami turun ke arah air terjun melewati ratusan anak tangga dari besi sejauh kurang lebih 700 meter. <a href=\"https:\/\/www.metrotvnews.com\/play\/bJECnv6q-sungai-glidik-meluap-sebabkan-banjir-di-lumajang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sungai Glidik<\/a> tempat di mana Air Terjun Tumpak Sewu mengalir. Kami sempatkan foto-foto terlebih dahulu karena lokasinya yang cukup bagus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepuluh menit berselang kami melanjutkan perjalanan ke arah Air Terjun Tumpak Sewu. Eh ternyata, sebelum memasuki bawah air terjun ada sebuah loket dan kami harus bayar lagi Rp20.000 per orang. Haduh gusti, saya kira tiket masuk tadi sudah mencakup semua fasilitas. Karena dana yang kami bawa adalah dana mahasiswa yang minimalis, kami tidak jadi pergi ke bawah air terjun. Padahal udah capek-capek turun ke sungai ternyata malah bayar lagi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Apa-apa harus bayar bikin malas berkunjung ke sana<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena tidak jadi ke bawah air terjun, kami pun menghabiskan waktu di sungai tersebut untuk foto-foto. Saya dan satu orang teman saya mencari spot foto di area sungai tersebut. Dari kejauhan, terlihat ada sebuah tebing yang sisinya ditumbuhi tanaman dan mengalir air dari atasanya. Sangat bagus sekali untuk spot foto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat berjalan kesana, kami melewati dua orang bapak-bapak yang sedang duduk santai di tepi sungai. Tiba-tiba kami diteriaki, \u201cHeh mas udah punya tiket? Kok main nyelonong aja\u201d. Saya jawab \u201cSudah pak tadi di atas udah beli tiket\u201d. Dengan nada agak keras bapak-bapak tersebut mengatakan kalau tebing\u00a0 yang saya maksud tadi sudah beda kawasan dengan tiket awal, namanya Goa Tetes. Jadi harus bayar lagi per orang Rp10.000.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waduh, banyak banget tiket masuknya. Padahal semua tadi ada dalam 1 kawasan \u201cTumpak Sewu\u201d. Padahal seharusnya 1 tiket masuk sudah bisa akses ke semua <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tempat-wisata-yang-sering-dikira-berada-di-jogja-padahal-bukan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">spot wisata<\/a>, apalagi ini wisata alami bukan buatan manusia. Kalau seperti ini, bisa jadi wisatawan jadi malas ke sana karena terkesan banyak sekali yang harus dibayar. Sebaiknya pengelola air terjun Tumpak Sewu Lumajang memikirkan kembali sistem retribusi yang nggak praktis seperti ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Nurhadi Mubarok<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pantai-sendang-asih-kendal-terbengkalai-padahal-punya-potensi\/\"><b>Pantai Sendang Asih: Pantai Potensial di Kendal yang Terbengkalai, Banyak Sampah dan Bau<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tumpak Sewu Lumajang, destinasi wisata air terjun yang indah. Hanya saja sistem retribusinya nggak praktis, apa-apa serba bayar. <\/p>\n","protected":false},"author":808,"featured_media":290081,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8439,13873,22814,25505],"class_list":["post-290053","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-air-terjun","tag-lumajang","tag-tumpak-sewu","tag-tumpak-sewu-lumajang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/290053","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/808"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=290053"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/290053\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/290081"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=290053"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=290053"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=290053"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}