{"id":289788,"date":"2024-07-27T14:36:15","date_gmt":"2024-07-27T07:36:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=289788"},"modified":"2024-07-27T14:36:15","modified_gmt":"2024-07-27T07:36:15","slug":"solo-memang-tidak-istimewa-tapi-menawarkan-ketenangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/solo-memang-tidak-istimewa-tapi-menawarkan-ketenangan\/","title":{"rendered":"Solo Memang Tidak Seistimewa Jogja, Tidak Semanis Bandung, tapi Menawarkan Ketenangan dan Ketentraman"},"content":{"rendered":"<p><em>Solo memang biasa saja, tak semanis Bandung dan seistimewa Jogja, tapi hidup di sini begitu tenteram dan tenang<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia punya banyak daerah atau kota yang memberikan warna dan kesan bagi setiap pendatang atau penduduk di dalamnya. Jogja misalnya, punya keistimewaan tersendiri sehingga membuat banyak orang ingin mendatanginya. Meski bagi saya, keistimewaan Jogja saat ini terlalu diglorifikasi sehingga tidak tampak istimewa lagi. Bali dengan corak budayanya yang begitu kental, atau Bandung yang menawarkan romantisasi manisnya kehidupan masyarakat sunda yang berwajah lebih modern. Belakangan Purwokerto juga disebut sebagai sebuah Kota menenangkan bagi sebagian orang, termasuk Pandji Pragiwaksono.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, bagi saya, ada satu Kota yang punya segala atribut yang dibutuhkan untuk merasakan kenyamanan menjalani hidup, Kota itu adalah Solo. Ya Solo yang wali kotanya baru saja resign itu. Dihimpit oleh Kabupaten Sukoharjo, Boyolali, Karanganyar, dan Klaten, Solo adalah sebuah kota yang kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saya punya argumen mengapa Solo saya anggap punya atribut sebagai kota yang nyaman. Berada di kota ini, saya merasakan keramaian tapi tidak bising dan semrawut seperti di Jogja. Solo tidak sepi, di dalamnya banyak orang yang berlalu-lalang, malamnya pun tidak sunyi, setiap kedai susu, angkringan, atau warmindo, selalu terisi oleh orang-orang yang enggan mengakhiri hari. Tapi entah kenapa, dengan keramaian dan aktivitas yang terus bergerak, kota ini terlihat begitu tenang dan tidak bising.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Setiap sudutnya menawarkan keramahan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap sudut Solo menawarkan keramahan. Orang-orang di dalamnya saling menyapa tanpa adanya kecurigaan soal motif kejahatan yang melatarbelakanginya. Saya bahkan mudah sekali akrab dengan lingkungan sekitar kos-kosan saya, tukang laundry, dan marbot masjid di kawasan Kampus ISI Surakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membahas soal keramahan, Solo juga terkenal dengan tukang parkirnya yang dedikatif dan sopan. Mereka menyapa kemudian memberikan pelayanan semaksimal mungkin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para ojek online pun punya standar pelayanan yang sama. Mereka tersenyum kepada customer, menanyakan nama dengan suara pelan dan sopan, serta tidak sungkan memberi saran ketika kita bertanya banyak hal soal Solo. Kebaikan para ojol pernah saya ceritakan di tulisan Terminal Mojok <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/solo-tempatnya-driver-ojol-yang-ramah-dan-sopan-susah-ditemui-di-jakarta\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sebelumnya<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, ada driver ojol yang dengan ikhlas membantu mencarikan dan mengantarkan saya ke puskesmas untuk periksa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo juga punya fasilitas transportasi public yang cukup terintegrasi. Yah tidak sebaik Jakarta, tapi setidaknya cukup baik untuk disejajarkan dengan Semarang. Di Solo, kita bisa menikmati tiga fasilitas transportasi publik, yaitu Pertama, Bus Rapid Transit (BRT) yang jadi transportasi penghubung Solo dengan daerah-daerah di sekitarnya. Kedua Batik Solo Trans (BST), jadi transportasi dalam Kota yang bisa dimanfaatkan untuk mengelilingi kawasan Solo Raya. BST membuat para pendatang tidak kebingungan ketika ingin menjelajahi Kota Solo. Petugas di dalam BST juga begitu ramah dan sabar memberi petunjuk kepada para pengguna BST yang berstatus pendatang. Hal itu menghadirkan ketenangan tersendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga adalah Commuter Line Solo-Jogja. Transportasi public ini sangat membantu dan memangkas waktu untuk orang-orang yang ingin pergi ke Jogja. Dalam perjalanan menuju Jogja, juga beberapa perhentian di daerah-daerah luar Solo, seperti daerah Boyolali.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Destinasi wisata sedikit, tapi&#8230;<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo memang tidak menawarkan banyak destinasi wisata, karena memang bukan itu daya tariknya. Selain dikenal sebagai Kota Batik, Solo adalah kota kuliner yang menawarkan banyak jenis makanan. Di Pasar Gede, saya mendapati banyak sekali jajanan tradisional, mulai dari makanan berat hingga makanan ringan seperti lenjongan, karak, atau intip. Selain di Pasar Gede, destinasi kuliner lain yang bisa dikunjungi yaitu Alun-alun Kidul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biaya hidup di kota ini juga terbilang murah. Misalnya soal makanan, mudah sekali menemukan warung tenda atau sejenisnya yang menu makanannya bisa dinikmati di bawah Rp10k. angkringan dan kedai susu juga menawarkan harga minuman dan makanan yang terjangkau sehingga bisa menjadi variasi ketika bosan dengan sajian makanan rumahan ala warteg atau masakan padang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, yang menarik lagi dari Solo adalah banyak pentas seni dan budaya yang bisa diakses oleh publik. Biasanya yang mengadakan adalah Pemkot atau kampus seperti <a href=\"https:\/\/isi-ska.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ISI Surakarta<\/a>. Lokasinya pun bisa beragam, bisa di ISI Surakarta, Kantor Wali Kota, Alun-alun, atau di Pura Mangkunegaran.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Solo tak sempurna<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo memang bukan kota yang sempurna, tentu saja ada beberapa masalah lain misalnya kepadatan penduduk yang bisa jadi bom waktu. Yah, Solo hanyalah kota kecil, tanpa penataan dan pemetaan kota yang baik, akan muncul kawasan kumuh-kumuh. Selain itu, kepadatan penduduk juga nantinya akan memicu kemacetan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan sampah juga perlu jadi perhatian, karena hingga saat ini, Pemkot Solo masih malu-malu kucing untuk melarang penggunaan kantong plastik. Padahal, kantong plastik sendiri jadi salah satu penyumbang sampah terbesar kota ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah tapi perlu diingat, daerah atau kota di Indonesia mana yang tidak punya masalah? Bukannya mau menormalisasi, tapi yang namanya masalah memang selalu ada di tiap-tiap daerah dan kota di Indonesia. Tinggal pemerintahnya sadar atau tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari itu, Solo memang tidak seistimewa Jogja, tidak seindah Bali, tidak semanis Bandung, tapi bagi saya, Solo punya semua atribut untuk hidup lebih tentram, tenang, nyaman, dan bahagia.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-keunikan-kota-solo-yang-nggak-mungkin-ditiru-kota-lain\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Keunikan Kota Solo yang Nggak Mungkin Ditiru dan Diterapkan Kota Lain karena Bakal Jadi Aneh dan Ambyar<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Solo memang biasa saja, tak semanis Bandung dan seistimewa Jogja, tapi hidup di sini begitu tenteram dan tenang.<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":263330,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[141,7539,6936,115,12997,2284],"class_list":["post-289788","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandung","tag-biaya-hidup","tag-isi-surakarta","tag-jogja","tag-slamet-riyadi","tag-solo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/289788","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=289788"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/289788\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/263330"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=289788"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=289788"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=289788"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}