{"id":289699,"date":"2024-07-28T14:06:36","date_gmt":"2024-07-28T07:06:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=289699"},"modified":"2024-07-28T14:06:36","modified_gmt":"2024-07-28T07:06:36","slug":"bahasa-tegal-yang-bikin-orang-jogja-syok-berat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-tegal-yang-bikin-orang-jogja-syok-berat\/","title":{"rendered":"5 Kosakata Bahasa Tegal yang Bikin Orang Jogja Syok Berat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yang lahir di Jogja terbiasa menggunakan bahasa Jawa. Ketika dewasa kemampuan berbahasa Jawa saya bertambah bahasa Gresikan karena sempat bekerja di<a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/gresik-sudah-mati-dibunuh-status-kota-industri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Gresik<\/a> selama 2 tahun. Kemampuan berbahasa Jawa semakin melebar ketika saya ditempatkan di kantor cabang di Tegal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, pengalaman saya bersinggungan dan belajar bahasa Tegal sedikit menantang. Bagaimana tidak, ketika mendengar orang Tegal ngomong saya selalu tergelitik. Bukannya buruk atau jelek, saya merasa bahasa Tegal terlampau unik. Mungkin kuping ini yang belum terbiasa ya, tapi yang jelas, keunikan ini jadi tantangan sendiri untuk berbahasa Jawa Tegal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan yang paling jelas dari bahasa Tegal dan bahasa Jawa adalah intonasinya. Pada bahasa Tegal pelafalan huruf b, g, dan k sangatlah jelas. Selain itu, bahasa yang dituturkan oleh orang-orang yang tinggal di pesisir utara, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Tegal<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, dan bagian barat Kabupaten Pemalang itu nggak mengenal hirarki bahasa. Tidak seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-jawa-yang-kaya-minum-bisa-diterjemahkan-jadi-8-kata\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Jawa<\/a> yang ada kromo inggil dan ngoko.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan itu yang membuat saya sebagai penutur bahasa Jawa kadang masih kagok. Selain itu, ada beberapa kosakata yang benar-benar asing dan cukup membuat syok.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Pan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama ini saya mengenal &#8220;Pan&#8221; sebatas Partai Amanat Nasional, sebuah partai politik yang kerap menjadikan artis sebagai caleg-calegnya itu. Namun, di Tegal, pan memiliki arti lain yakni &#8220;repan&#8221; atau &#8220;arep&#8221; dalam bahasa Jawa. Dalam bahasa Indonesia &#8220;arep&#8221; berarti \u201cakan\u201d atau \u201cmau\u201d. Contoh penggunaan kata pan dalam kalimat adalah sebagai berikut: \u201cNyong pan madang disit ya,\u201d yang berarti \u201cSaya mau makan dulu ya.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Pentol<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata kedua yang mengagetkan saya adalah pentol. Saya mengira pentol adalah kudapan seperti bakso atau camilan dari tepung kanji. Itu mengapa saya bingung ketika teman saya berkata, \u201cKowen pentol nemen\u201d. Saya yang kurang paham malah mengira kepala saya bulat bagaikan pentol. Ketika saya klarifikasi ternyata dalam bahasa Tegal, pentol berarti hebat. \u201cKowen pentol nemen\u201d berarti \u201cKamu hebat sekali.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Laka<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Laka&#8221; yang dimaksud disini bukan laka singkatan dari kecelakaan ya, Gaes. Dalam bahasa Tegal &#8220;laka&#8221; merupakan singkatan dari langka yang berarti tidak ada. Pernah mendengar Tegal laka-laka? Tegal laka-laka berarti Tegal yang tiada duanya. <a href=\"https:\/\/radartegal.disway.id\/read\/687050\/fakta-unik-tegal-laka-laka-salah-satunya-asal-muasal-julukan-kota-bahari\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Slogan Tegal Laka-Laka<\/a> ini merupakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">city branding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dibuat oleh Pemerintah Kota Tegal layaknya Jogja Istimewa, Magelang Kota Sejuta Bunga, Tuban Kota Wali.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b># 4 Jok<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saya mengira jok yang dimaksud ada jok sepeda motor atau jok mobil. Ternyata eh ternyata jok dalam Bahasa Tegal berarti ibu. Jika arek-arek <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malang-bikin-perantau-mudah-nyaman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malang<\/a> mempunyai istilah &#8220;ebes&#8221; dan &#8220;emes&#8221; untuk menyebut ayah dan ibu. Di Tegal juga terdapat hal semacam itu. Orang Tegal menggunakan kata &#8220;jasak&#8221; untuk kata ganti Ayah dan &#8220;jok&#8221; untuk menggambarkan Ibu.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Dalban<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata terakhir yang mengagetkan saya adalah dalban. Saya kira dalban kata lain dari lakban dalam bahasa Tegal. Ternyata eh ternyata, dalban semacam sapaan untuk teman akrab semacam \u201cbro\u201d di Jakarta, \u201cdab\u201d di Jogja. Nah, orang Tegal punya sapaan Dalban untuk menyapa teman akrab. Bisa dibilang dalban adalah kosakata gaul atau prokem dalam bahasa Tegal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah keunikan bahasa Tegal. Mungkin bagi orang Tegal, hal-hal yang saya ceritakan di atas terdengar nggak spesial. Namun, sebagai orang Jogja yang belajar bahasa Tegal, banyak hal dari bahasa ini yang unik dan menyenangkan untuk dikulik. Jadi saya harap, orang-orang Tegal tetap melestarikan bahasanya. Jangan menganggapnya norak lalu beralih ke bahasa lain yang dianggap gaul.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Arief Nur Hidayat<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">BACA JUGA <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kuliner-tegal-enak-yang-layak-dikenal-lebih-banyak-orang\/\"><b>5 Kuliner Tegal yang Layak Dikenal Lebih Luas, Ayo Orang Tegal Jangan Buka Warteg Melulu<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada beberapa kata dalam bahasa Tegal yang membuat bingung orang Jogja seperti pan, pentol, laka, jok, dan dalban<\/p>\n","protected":false},"author":1676,"featured_media":289913,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[763,20280,623,115,724,2857],"class_list":["post-289699","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-jawa","tag-bahasa-tegal","tag-jawa","tag-jogja","tag-ngapak","tag-tegal"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/289699","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1676"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=289699"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/289699\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/289913"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=289699"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=289699"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=289699"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}