{"id":28856,"date":"2020-03-05T12:34:23","date_gmt":"2020-03-05T05:34:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=28856"},"modified":"2020-03-05T12:35:01","modified_gmt":"2020-03-05T05:35:01","slug":"coba-kasih-tahu-kenapa-ngasih-imbalan-ke-pengamen-itu-nggak-wajib","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/coba-kasih-tahu-kenapa-ngasih-imbalan-ke-pengamen-itu-nggak-wajib\/","title":{"rendered":"Coba Kasih Tahu, Kenapa Ngasih Imbalan ke Pengamen Itu Nggak Wajib?"},"content":{"rendered":"<p>Ketika berada di Semarang ataupun di Jogja, saya kerap nongkrong di warung-warung pinggir jalan, sebut saja angkringan. Waktu itu, saat selesai mengikuti acara di Kawasan Kota Lama Semarang, saya dan teman-teman memutuskan untuk sekadar duduk sambil minum di angkringan. Memang hari sudah cukup malam, jadi nggak terlalu ramai.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang pengamen menghampiri kami, dan dia menyanyikan lagu. Kami semua nggak ada yang menegurnya dengan kata &#8220;maaf&#8221;. Kami sepakat membiarkan dia nyanyi sampai habis. Kemudian setelah lagu habis, kami (kecuali saya) berebut ngasih imbalan ke pengamen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemandangannya berbeda tatkala saya nongkrong di Jogja. Daerah istimewa satu ini memang banyak sekali angkringan yang cocok buat nongkrong\u2014meski harganya sama aja mahal. Saya agak lupa tempatnya, tapi kalau nggak salah sih, sekitaran Kota Gede. Saya ngobrol-ngobrol di sebuah angkringan di sana. Ketika pengamen datang, teman saya langsung bilang, &#8220;Maaf, Mas.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seketika itu, pengamen langsung pergi. Lain waktu, justru saat tengah diskusi ada pengamen, saya mau ngasih imbalan, tapi teman saya bilang nggak usah. Padahal, mereka sudah capek-capek nyanyi. Ketika ditanya, temen saya bilang itu sudah biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh ini, masih banyak orang yang menyepelekan keberadaan pengamen. Apalagi di tempat-tempat nongkrong. Sehingga memberikan imbalan pada pengamen terkadang dianggap tidak wajib, atau fardu kifayah. Hukum fardu kifayah ini seolah nggak hanya berlaku buat satu kelompok tongkrongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalkan dalam satu deret di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/beda-angkringan-dan-hik-itu-apa-sih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">sebuah angkringan<\/a>, banyak orang membentuk kelompok-kelompok diskusi. Alhasil jika ada pengamen, lantas di kelompok lain sudah dikasih imbalan, seakan-akan kelompok lainnya nggak perlu ngasih lagi. Saya nggak tahu kenapa sampai sekarang pengamen nasibnya seperti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lain angkringan, lain pula nasib pengamen di sebuah perumahan atau yang menjajakan lagu dari pintu ke pintu. Pengamen ini keberadaannya paling mudah dideteksi, makanya banyak orang yang justru menghindarinya. Patut diakui, saya juga termasuk ke dalamnya, apalagi saat nggak punya uang receh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan pengemis yang suka datang tiba-tiba, kehadiran pengamen jauh lebih gampang diketahui. Pengamen umumnya memiliki suara yang khas, kadang kerasnya beramplitudo-amplitudo. Sehingga baru sampe tiga rumah sebelum rumah kita, suaranya sudah kedengeran. Oleh karena itu, kita punya waktu untuk menghindar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisinya lain saat di angkringan, kita nggak bisa menghindari pengamen. Senjata utama untuk menghindarinya hanya kata, &#8220;Maaf, Mas&#8221;, atau dibantu dengan warung yang ditempeli tanda &#8220;ngamen gratis&#8221;. Kenapa sih, kita harus menghindari bahkan sampai tega nggak ngasih imbalan ke mereka? Mereka itu kan juga kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri jika di tempat tongkrongan sebisa mungkin menyiapkan uang receh cukup banyak. Selain buat bayar parkir ke tukang parkir yang hobinya muncul tiba-tiba. Saya khususkan anggaran buat pengamen, kalau mereka menyanyi di hadapan saya dan teman-teman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berarti saya juga selalu punya stok uang receh buat ngasih imbalan ke mereka. Kadang uang kertas seribuan atau dua ribuan juga bisa dikasihkan ke pengamen. Kalaupun terpaksa sama sekali nggak punya uang bernominal kecil, saya dan teman-teman ngasih sebatang rokok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi apa pun imbalannya, saya usahakan dulu, kalau nggak ada uang receh, bisa uang seribuan, kalau nggak ada lagi, bisa <a href=\"https:\/\/tirto.id\/perokok-indonesia-semakin-muda-cG73\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">sebatang rokok<\/a>. Setidaknya, suara dan kemampuan bergitar atau memainkan ukulele dari mereka bisa dihargai, meski nggak sebagus permainannya. Aneh sih, kalau sampai nggak ngasih imbalan apa-apa ke mereka yang ngehibur kita? Coba kasih tahu alasannya apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pantasnya bersyukur ada mereka yang mau menyanyikan lagu di depan kita, atau dengan instrumen musik yang bagus, harmoni, dan enak didengar, tanpa kita harus membayar mahal. Ironisnya, lebih banyak orang cenderung suka membeli tiket konser artis atau penyanyi top, daripada ngasih seribu buat pengamen yang suka rela menghampiri kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya nggak, sih? Kalau nonton konser kita harus datang ke tempatnya, sementara pengamen suka rela datang ke tempat kita duduk. Belum lagi saat nonton konser kita harus nanggung risiko berdesakan, kadang nggak sempat makan dan minum. Pengamen ini layaknya memang harus diberi imbalan, baik yang di kafe-kafe atau tongkrongan-tongkrongan pinggir jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kota-kota besar, seperti Jogja atau Semarang, mereka nggak hanya mereka yang keliling, tapi ada pula yang cuma bernyanyi di sebuah tempat, contohnya seperti yang ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sore-menjelang-maghrib-di-malioboro\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di jalanan Malioboro<\/a>. Kita semestinya juga ngasih imbalan ke pengamen jenis tersebut, malah bisa lebih banyak dari biasanya. Pasalnya, mereka dengan gaya ngamen netap biasanya peralatan musiknya lebih lengkap, dan lebih bagus\u2014bukan berarti yang lain nggak bagus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita nggak perlu bayar tiket konser seharga ratusan ribu, nggak repot berdesakan bisa sambil makan dan minum, serta nggak harus mendatangi si penyanyi. Dengan adanya pengamen nutrisi musik bukan sekedar mendengarkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">playlist<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sudah bisa terpenuhi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, pengamen bukan peminta-minta. Dia<\/span> mendendangkan lagu, menunjukkan bakatnya entah alamiah atau diasah, semua itu patut diapresiasi lewat imbalan. Mereka ikhlas dibayar berapa pun. Orang-orang yang sudah bilang &#8220;maaf&#8221; kepada pengamen, apalagi belum sempat masuk<i> intro<\/i> apakah nggak mikirin perasaannya?<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lain waktu bisa dong nggak seperti itu. Jarang-jarang loh, ada yang mau nyanyikan lagu di hadapan kita langsung. Bahkan pacar pun kadang males buat ngelakuin itu. Jasa pengamen sebaik itu, masih menyepelekan mereka dengan tak memberinya imbalan sepersen pun? Satu kata: Ramashoookkkk!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/festival-musik-gagal-lantas-penonton-marah-dan-menjarah-wajarkah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Festival Musik Gagal Lantas Penonton Marah dan Menjarah, Wajarkah?<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-arsyad\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Arsyad<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengamen bukan peminta-minta. Dia mendendangkan lagu, menunjukkan bakatnya entah alamiah atau diasah, semua itu patut diapresiasi lewat imbalan.<\/p>\n","protected":false},"author":448,"featured_media":28909,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1641,3619,1385,452],"class_list":["post-28856","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-angkringan","tag-konser","tag-nongkrong","tag-pengamen"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28856","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/448"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28856"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28856\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/28909"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28856"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28856"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28856"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}