{"id":288516,"date":"2024-07-18T12:52:11","date_gmt":"2024-07-18T05:52:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=288516"},"modified":"2024-07-18T12:52:11","modified_gmt":"2024-07-18T05:52:11","slug":"sejarah-sengkarut-bisnis-miras-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sejarah-sengkarut-bisnis-miras-jogja\/","title":{"rendered":"Sejarah Sengkarut Bisnis Miras Jogja, Saling Sikut demi Berjualan Air Perdamaian"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu sempat viral masalah penggerebekan outlet penjual miras di Jogja. Si pemilik outlet tersebut tidak hanya marah karena aksi arogan ormas yang menggerebek. Namun juga menuduh adanya dugaan persaingan tidak sehat. Nada keras dan nylekit seperti merangkum bisnis miras di Jogja yang penuh sengkarut ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisnis miras di Jogja memang tidak bisa diam. Entah mau dibungkam dengan hukum negara maupun agama. Kadang muncul nada-nada amarah saling tuduh menjatuhkan usaha. Persetan dengan jargon \u201cair perdamaian.\u201d Jika bicara bisnis, perang adalah kedamaian bagi pelakunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi miras tidak hanya bicara sengkarut bisnis. Ia punya sejarah panjang bagi bumi istimewa. Dari masa orba dengan warung sederhana, sampai hari ini dengan outlet premium. Dari menghangatkan lantai dansa diskotek, sampai memanaskan alunan EDM.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sejarah yang tak sepahit Topi Miring<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejarah miras sudah setua peradaban. Bahkan budaya bertani ikut didorong oleh kebutuhan produksi miras. Maka akan jadi satu tulisan panjang jika harus membahas sejarah mula-mula miras di Jogja. Bahkan saya harus menarik sejarah jauh sampai belakang, aebelum Alas Mentaok menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Mataram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akan memulai sejarah ini dari beberapa dekade lampau, saat miras masih jadi komoditas yang dijual secara terbuka. Pada tahun 70-an, miras tidak pernah dijajakan secara diam-diam. Kedai miras muncul di setiap kampung. Kadang hanya menjajakan miras, kadang berbaur dengan berbagai jamu tradisional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Miras memang dekat dengan jamu. Bahkan kelahiran <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/jbt\/resep-lapen-santoso-dan-bagaimana-cara-membuatnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">\u201cSantoso\u201d<\/a> sebagai pionir lapen juga dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/jbt\/sejarah-lapen-yang-terlupakan-dari-jamu-di-jalan-solo-hingga-jadi-miras-oplosan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kultur jamu<\/a>. Jargonnya sudah pasti, \u201cmenambah vitalitas pria.\u201d Tidak kaget sih, semua makanan dan minuman aneh-aneh pasti disebut menambah vitalitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kultur jamu, miras juga jadi bagian dari pesta pora. Dari sajian wajib diskotek, sampai menemani muda-mudi gitaran. Yang kedua ini memang sangat \u201cJogja\u201d, menjadi bagian penting dalam kehidupan nom-noman Jogja. Bahkan diabadikan pada video musik \u201cSayidan\u201d karya Shaggydog.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kultur menikmati miras dalam lingkup kecil di sudut kampung ini didukung oleh lahirnya banyak kedai. Mereka tidak hanya menjajakan miras botolan, namun juga ala-ala koktail. Miras dipadukan dengan sirup perisa seperti moka, strawberry, dan leci. Mixology ala kampung ini menemani muda-mudi Jogja yang penuh ide dan gairah kreasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kultur melingkar bersama minuman keras di Jogja terpelihara sampai sekarang. Seringkali melahirkan karya yang mewarnai kota budaya. Namun di antara musik nakal dan sajak mabuk, ada juga yang sedang meregang nyawa<\/span><\/p>\n<h2><b>Air perdamaian perenggut nyawa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peredaran miras menemukan dinding tebal pada masa akhir Orde Baru, terutama untuk miras golongan B dan C. Bisnis miras makin sempit di antara kelab malam ataupun kafe yang terlokalisasi. Misal Prawirotaman dan Sosrowijayan. Akhirnya miras tanpa cukai mulai tampil sebagai alternatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ciu, arak, dan lapen mulai menggantikan posisi Drum, Topi Miring, dan Mansion. Namun miras tradisional tadi masih belum cukup memuaskan. Keinginan untuk mabuk lebih cepat dengan biaya lebih murah melahirkan miras oplosan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai bahan tidak masuk akal dicampurkan dalam miras. Dari obat sakit kepala, <a href=\"https:\/\/www.halodoc.com\/obat-dan-vitamin\/rivanol-liquid-300-ml\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rivanol,<\/a> micin, sampai Autan digunakan sebagai campuran. Obat terlarang juga ikut digerus sebagai campuran demi meningkatkan \u201ckerasnya\u201d miras. Lebih gila lagi, miras oplosan tidak lagi berbahan dasar ciu dan sejenisnya. Tapi methanol 90% dengan sedikit campuran sirup. Tanpa belajar ilmu medis, Anda bisa membayangkan apa dampak dari minum miras oplosan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasus paling parah terjadi pada 2016. Ada 26 orang yang meninggal karena menenggak miras oplosan. Ini bukan kumpulan kasus, tapi terjadi dalam satu waktu pada satu lokasi. Bayangkan saja, organ dalam mereka harus bertempur melawan methanol 90% dalam jumlah banyak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Outlet miras kembali, persaingan bisnis miras di Jogja makin sengit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Miras bercukai tidak benar-benar hilang, namun dijajakan dengan malu-malu. Salah satu contoh terkenal adalah Warung Ijo di sekitaran Gejayan. Memang sih, teorinya saja yang malu-malu. Realitasnya, orang sampai antre demi membeli anggur, vodka, atau sekadar bir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkembangan media sosial juga ikut menyumbang kemajuan distribusi miras di Jogja. Jasa pesan antar juga tumbuh subur di Jogja. Meskipun tetap malu-malu, namun jasa pesan antar miras mampu menggurita lebih luas seantero Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun kultur malu-malu ini sudah usai. Berganti dengan outlet miras yang terang-terangan berjualan di area padat. Bahkan tidak malu lagi memasang baliho kerlap-kerlip. Outlet miras ini kini menjadi jujugan utama para penikmat air perdamaian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti bisnis pada umumnya, persaingan antar outlet miras juga memanas. Saling banting harga dan adu promo menjadi rutinitas. Beberapa outlet juga bekerjasama dengan produsen miras sebagai distributor utama. Adu sponsor menambah ingar bingar bisnis miras Jogja yang kini berani tampil di muka umum.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Penggerebekan bisnis miras di Jogja<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun ada juga bisik-bisik persaingan tidak sehat. Terutama ketika penggrebekan dan sweeping mulai menyerang outlet miras. Baik yang dilakukan oleh aparat, ataupun ormas keagamaan. Banyak yang menduga bahwa serangan ini memang digerakkan oleh outlet miras tertentu. Perizinan untuk membuka outlet miras juga diisukan dipengaruhi pihak tertentu. Sehingga mempersulit beberapa pelaku usaha baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak mau menyebut outlet mana yang dimaksud. Toh belum ada bukti konkret. Tapi dari apa yang terdengar, bisa dibayangkan bisnis miras di Jogja hari ini. Uang yang berputar besar. Pasar masih terbuka meskipun sudah diperebutkan banyak orang. Inilah sengkarut bisnis miras di Jogja. Ada yang mati, ada yang bersaing. Bersatu padu di antara sirkulasi miras yang tak kunjung surut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akhiri kisah sengkarut ini dengan mengangkat gelas. Mengajak Anda semua meneguk satu sloki air perdamaian. Agar jadi bahan bakar karya dan pemikiran di antara temaram lampu kota dan saling sikut penjaja miras. Jangan lupa, minum dengan bertanggung jawab!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/kultur-lodse-warung-ijo-kukut-meninggalkan-kegilaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kultur Lodse, Warung Ijo Kukut Meninggalkan Kegilaan<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bisa dibayangkan betapa ngeri bisnis miras di Jogja hari ini. Uang yang berputar besar. Pasar masih terbuka meskipun pada berebut.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":288519,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[25269,25268,115,25271,25270],"class_list":["post-288516","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bisnis-miras","tag-bisnis-miras-di-jogja","tag-jogja","tag-lapen","tag-santoso"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/288516","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=288516"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/288516\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/288519"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=288516"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=288516"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=288516"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}