{"id":288177,"date":"2024-07-16T11:33:06","date_gmt":"2024-07-16T04:33:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=288177"},"modified":"2024-07-16T11:33:06","modified_gmt":"2024-07-16T04:33:06","slug":"wisata-kota-lama-surabaya-diwarnai-komentar-rasis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wisata-kota-lama-surabaya-diwarnai-komentar-rasis\/","title":{"rendered":"Wisata Kota Lama Surabaya, Tempat Ikonik yang Baru Diresmikan Itu Sudah Diwarnai Komentar Rasis"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lama ini Wisata Kota Lama Surabaya diresmikan setelah revitalisasi rampung. Kejutannya, tidak lama setelah launching, sudah ada beberapa fasilitas umum yang digondol maling. Beberapa fasilitas yang hilang seperti kursi besi, kabel, hingga tutup besi trotoar. Entah kebetulan atau tidak, benda-benda yang menjadi target ini sama-sama mengandung unsur besi. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Lama yang diharapkan dapat menjadi magnet bagi perekonomian dan pariwisata Surabaya\u00a0 ternyata juga menjadi magnet bagi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-tipe-komentar-netizen-youtube-di-konten-lagu-indonesia-80-an\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">maling besi<\/a>. Sebenarnya, ada yang lebih parah dibanding fasilitas-fasilitas umum yang hilang itu, yakni komentar netizen. Di dalam kolom komentar postingan soal berita kehilangan itu, tidak sedikit netizen yang menuduh suku tertentu. Itu jelas tindakan rasisme yang nggak bisa dibenarkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Komentar rasis\u00a0 bak bom waktu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komentar rasis dapat dengan mudah ditemukan di postingan Instagram @aslisuroboyo yang memberitakan soal pencurian kabel di Wisata Kota Lama Surabaya. Salah satunya menuliskan, \u201cMasio gak ono seng ngandani, kabeh wes eroh malinge wong endi.\u201d Artinya kurang lebih, \u201cmeskipun tidak ada yang memberi tahu, semua sudah tahu malingnya orang mana\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa komentar lainnya, bahkan menyebut nama suku secara langsung. Sebagian yang lain, menuliskannya menggunakan kode seperti Blok M, Mexico, hingga Inggris Timur. Kode-kode itu merujuk kepada etnis Madura. Bahkan, sebelum adanya kasus ini, etnis Madura mendapat stigma negatif dari banyak orang di media sosial.<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/perantau-madura-di-mata-orang-surabaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Etnis Madura<\/a> selalu dikaitkan dengan tindak kriminal seperti begal, curanmor dan maling kabel\u2013 beberapa waktu lalu juga sempat dikaitkan dengan kasus parkir liar di Surabaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kriminalitas, etnis Madura juga seringkali diidentikan dengan kemiskinan dan lingkungan kumuh. Padahal semua stereotip terhadap etnis Madura ini belum tentu benar. Bisa saja itu hanyalah asumsi-asumsi individu yang dibalut dengan emosi dan kebencian. Tidaklah patut menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas apalagi menuduh etnis tertentu sebagai pelaku kriminal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain tuduhan-tuduhan dan stigma negatif terhadap etnis Madura, perbincangan netizen di kolom komentar pada akhirnya berujung pada perbincangan seputar antara mana orang Surabaya yang asli dan mana yang pendatang. Etnis Madura dianggap sebagai pendatang dan dikaitkan dengan tindak-tindak kriminal. Saya merasa perbincangan mengenai mana yang asli dan tidak ini adalah perbincangan yang tidak sehat dan kelak bisa menjadi bom waktu yang suatu saat bisa meledak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Meredam bom waktu bernama rasisme<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita harus memahami bahwa gagasan tentang yang \u201casli\u201d itu hanyalah fiksi. Kalau kata<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ariel_Heryanto\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Ariel Heryanto<\/a> dalam video youtube Jakartanicus berjudul \u201cProf. Ariel Heryanto: Mengapa Kita Membenci?\u201d, kerinduan angan-angan pada yang murni itu tidak hanya pada ras, tapi juga ideologi (bisa juga terkait banyak hal). Ariel juga menegaskan bahwa persoalannya itu bukan hanya mengenai \u201cperbedaan\u201d, tapi pengaduan tentang siapa yang \u201clebih\u201d. Nah itulah yang dikhawatirkan akan menjadi sumber racun di masyarakat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya bahwa keinginan dan harapan angan-angan tentang yang asli atau murni ini bisa mengantar ke tindak kebencian dan diskriminasi (bahkan kekerasan) terhadap yang dianggap tidak atau kurang asli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika merujuk ke persoalan mengenai siapa yang asli dan tidak asli di Surabaya, jangan-jangan yang paling asli itu adalah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Pithecanthropus Erectus<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Meganthropus Paleojavanicus<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Pencarian tentang keaslian sebenarnya hanyalah fiksi, ia tidak pernah ada dan tidak nyata. Sesungguhnya semua hal itu adalah hasil dari saling campur-mencampur, maka mustahil mencari yang asli.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Surabaya tentu adalah hasil dari kawin-mawin penduduk sekitarnya bahkan juga hasil kawin-mawin dengan etnis lain seperti tionghoa dan arab. Daripada menghabiskan uang untuk tes DNA guna mencari suatu keaslian, lebih baik menggunakannya untuk pemenuhan kesejahteraan masyarakat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lebih jernih memandang kasus di Wisata Kota Lama Surabaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih menuduh dan menyalahkan etnis tertentu dalam kasus kriminal, kita harus lebih dalam dan jernih memandang kasus ini. Barangkali kriminal bisa terjadi karena efek dari kemiskinan. Kriminalitas\u00a0 bisa menjadi gambaran sejauh apa kesejahteraan suatu masyarakat terwujud.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada konteks revitalisasi Kota Lama Surabaya, mungkin niat pemerintah baik untuk menaikan perekonomian masyarakat melalui wisata. Namun, barangkali pemerintah kota terlalu sibuk membangun dan memperindah kota hingga melupakan kesejahteraan rakyatnya (itu hanya barangkali ya).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesekali ketika berkunjung ke Wisata Kota Lama Surabaya, cobalah sempatkan mengunjungi Kampung Pesapen, yang letaknya tidak jauh dari situ. Barangkali kita mendapat suatu gambaran tentang kondisi masyarakat yang mungkin saja seringkali luput dari pemberitaan media.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menyadari bahwa Kota Lama Surabaya adalah melting pot<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memahami kota sebagai <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">melting pot<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yakni ibarat panci yang meleburkan berbagai identitas etnis menjadi satu. Dalam konteks Surabaya, bisa merujuk ke budaya Arek yang salah satu cirinya memelihara semangat egaliter atau setara. Maka konsekuensinya tidak ada yang merasa dirinya lebih dominan dibanding yang lain. Tidak ada yang merasa dirinya (etnisnya) merasa lebih baik dibanding (etnis) yang lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemahaman-pemahaman tersebut setidaknya bisa membantu menangkal perasaan dan perbuatan untuk <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/rasis-adalah-kita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bertindak rasis<\/a> terhadap etnis yang berbeda. Adapun selemah-lemahnya iman, yang dapat kita lakukan utamanya di media sosial adalah menahan kedua jempol sejenak sembari memanfaatkan satu-satunya otak yang diberikan Tuhan kepada kita, sebelum mengetik di kolom komentar maupun status.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Adnan Prayuwono<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/aktual\/surabaya-punya-ikon-baru-yang-penuh-masalah\/\"><b>Surabaya Punya Ikon Baru yang Malah Jadi Pusat Masalah Baru, Tak Pernah Bisa Tenang di Kota Pahlawan<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wisata Kota Lama Surabaya diwarnai isu rasisme. Netizen menuduh suku tertentu atas hilangnya beberapa fasilitas di sana. <\/p>\n","protected":false},"author":2706,"featured_media":288248,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[25229,2636,405,25228,25227,5874],"class_list":["post-288177","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-isu-rasisme","tag-rasis","tag-surabaya","tag-wisata-kota-lama","tag-wisata-kota-lama-surabaya","tag-wisata-surabaya"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/288177","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2706"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=288177"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/288177\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/288248"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=288177"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=288177"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=288177"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}