{"id":288101,"date":"2024-07-15T17:11:59","date_gmt":"2024-07-15T10:11:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=288101"},"modified":"2024-07-15T17:11:59","modified_gmt":"2024-07-15T10:11:59","slug":"jalan-parung-ciputat-halang-rintang-berkedok-jalan-raya-depok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-parung-ciputat-halang-rintang-berkedok-jalan-raya-depok\/","title":{"rendered":"Jalan Parung-Ciputat Adalah Halang Rintang Berkedok Jalan Raya di Depok"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kapok melewati ruas Jalan Parung Ciputat, salah satu ruas jalan paling padat di Depok. Maklum saja, jalan ini menjadi satu dari tiga jalan utama yang sehari-hari dilewati warga Depok dan Bogor menuju Jakarta. Sudah jadi rahasia umum Bogor dan Depok merupakan daerah penyangga ibu kota, nggak sedikit warganya yang bekerja di Jakarta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, ada tiga jalan raya utama yang jadi pilihan warga Depok dan Bogor untuk bekerja di ibu kota. Di antaranya ada Jalan Raya Bogor di sisi timur, Jalan Margonda Raya di tengah, dan terakhir Jalan Parung-Ciputat di sisi barat. Dari tiga ruas jalan raya tersebut, dua jalan yang pertama sudah ada moda transportasi umum seperti LRT dan <a href=\"https:\/\/www.google.com\/search?q=krl+mojok&amp;sca_esv=4b01c9d214c33c7a&amp;rlz=1C1VDKB_enID1058ID1058&amp;ei=uu-UZtGxJ9uhnesPofG70A4&amp;ved=0ahUKEwjR9ua34aiHAxXbUGcHHaH4DuoQ4dUDCA8&amp;uact=5&amp;oq=krl+mojok&amp;gs_lp=Egxnd3Mtd2l6LXNlcnAiCWtybCBtb2pvazIFEAAYgAQyBRAAGIAEMgYQABgWGB4yCBAAGIAEGKIEMggQABiABBiiBDIIEAAYgAQYogRIuwNQ_gFY_gFwAXgBkAEAmAFWoAFWqgEBMbgBA8gBAPgBAZgCAqACXcICChAAGLADGNYEGEeYAwCIBgGQBgiSBwEyoAeMBA&amp;sclient=gws-wiz-serp\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KRL<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisinya berbeda dengan sisi barat Depok yaitu Jalan Parung-Ciputat, nggak ada moda transportasi umum lain selain angkot. Alhasil, banyak warga yang memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk mobilisasi. Saya adalah salah satu dari banyak warga yang menggunakan transportasi pribadi itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan Parung-Ciputat yang ruwet<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan yang menghubungan Kecamatan Parung di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bogor-kaya-sejarah-tapi-miskin-perhatian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bogor<\/a> dengan Kecamatan Ciputat di Tangerang Selatan itu melintasi beberapa wilayah. Mulai dari wilayah Bojongsari, Cinangka, Pamulang, dan berakhir di Ciputat. Kondisinya sudah ruwet sekali, apalagi ketika jam berangkat dan pulang kantor. Saya pikir, sama seperti kota penyangga lainnya seperti Bekasi dan Tangerang Selatan. Sama-sama sumpek pokoknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh ya, Jalan Parung-Ciputat sebenarnya jalan nasional, tapi jalannya nggak lebar-lebar amat. Terkesan kecil malah untuk ukuran jalan nasional. Saya pernah beberapa kali melewati ruas jalan tersebut. Kebetulan saat itu saya menggunakan mobil dan saya merasakan \u201cneraka\u201d dunia di sana. Mungkin kalian berpikir perumpamaan ini berlebihan, tapi percayalah, jalan ini benar-benar simulasi neraka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, sepanjang Jalan Parung-Ciputat banyak sekali persimpangan dan akses putar balik. Jarak antar persimpangan dan akses putar balik yang begitu jauh membuat penumpukan kendaraan sering terjadi di jalanan. Beberapa titik yang terkenal mengesalkan ada pintu Tol Pamulang, perempatan Gaplek, persimpangan Wates, akses putar balik di depan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/The_Park_Sawangan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mal The Park Sawangan<\/a>.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di antara titik-titik itu, saya rasa perempatan Gaplek sampai perempatan Wates yang paling menyiksa. Duh, rasanya luar biasa panas. Sudah panas bising kendaraan, ditambah panas persaingan antar kendaraan yang saling serobot. Paket combo, deh pokoknya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan sempit dan dominasi kendaraan besar jadi pembenaran pemotor yang lawan arah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, menurut saya Jalan Parung-Ciputat adalah jalan yang sempit untuk ukuran jalan nasional dan banyak dilalui oleh kendaraan besar. Jalan itu dibagi dua dengan pembatas separator di tengah yang memisahkan antar kedua arah. Setiap arahnya hanya ada dua lajur. Jika jam-jam sibuk, sudah pasti dua lajur itu dipenuhi oleh kendaraan besar, minimal roda empat. Dan hasilnya adalah terlalu sedikit ruang untuk lajur motor.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah hal yang menjadi alasan banyak para premotor akhirnya memilih lawan arah. Hal itu tentu membahayakan. Namun, entah kenapa banyak dari premotor itu seolah-olah merasa benar dengan tindakannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau yang masih \u201csopan\u201d sih terkadang mereka lawan arah dengan berjalan pelan-pelan. Lha, kalau yang merasa benar ini, mereka lawan arahnya nggak main-main. Sudah ambil jalur lawan arah, agak ketengah ditambah ngebut juga. Padahal, sudah banyak pengendara dari arah sebaliknya yang memberi isyarat dengan membunyikan klakson dan lainnya. Tapi, nggak digubris. Budaya di kota sepertinya yang salah yang lebih galak, deh. Aneh.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan Parung-Ciputat minim penerangan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari lalu saya melihat berita tentang kecelakaan pengendara motor di ruas Jalan Parung-Ciputat, tepatnya di daerah Cinangka. Dalam berita itu dijelaskan adanya penerangan yang minim saat malam hari. Banyak lampu penerangan jalan yang kondisinya mati.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi jalan Parung-Ciputat yan remang-remang dibenarkan oleh beberapa teman saya yang pernah melintas saat malam hari. Teman saya sampai kaget ketika ada orang menyeberang, nggak kelihatan katanya. Tentu penerangan harusnya menjadi faktor penting dari sebuah jalan. Dan memang sangat penting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah Jalan Parung-Ciputat yang menurut saya neraka bagi pengendara, baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Andai saja pemerintah mau menyambungkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penderitaan-tinggal-dekat-stasiun-mrt-fatmawati-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MRT Lebak Bulus<\/a> hingga Parung, pasti akan sangat mengurangi kemacetan yang ada di sana. Jangan kota-kota mulu yang disentuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Jarot Sabarudin<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perempatan-itc-fatmawati-jaksel-makin-ruwet-setelah-ada-met\/\"><b>Perempatan ITC Fatmawati Jaksel Malah Semakin Ruwet setelah Kehadiran MRT<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jalan Parung Ciputat di Depok adalah halang rintang berkedok jalan raya. Jalan ini banyak perempatan dan akses putar balik, bikin macet. <\/p>\n","protected":false},"author":2650,"featured_media":288174,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6445,1715,25220,25221],"class_list":["post-288101","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-ciputat","tag-depok","tag-jalan-parung-ciputat","tag-parung"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/288101","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2650"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=288101"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/288101\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/288174"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=288101"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=288101"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=288101"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}