{"id":287851,"date":"2024-07-15T09:30:52","date_gmt":"2024-07-15T02:30:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=287851"},"modified":"2024-10-12T07:24:41","modified_gmt":"2024-10-12T00:24:41","slug":"dialek-bojonegoro-beda-dari-daerah-lain-jangan-sampai-salah-paham","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dialek-bojonegoro-beda-dari-daerah-lain-jangan-sampai-salah-paham\/","title":{"rendered":"4 Dialek Khas Bojonegoro yang Membuatnya Beda dari Daerah Lain, Jangan Sampai Salah Paham"},"content":{"rendered":"<p><em>Meski sama-sama berbahasa Jawa, dialek khas Bojonegoro beda dengan daerah lainnya di Pulau Jawa.<\/em><\/p>\n<p>Sebagaimana jamak diketahui, Indonesia merupakan negara yang kaya. Dan salah dari satu wujud kekayaan tersebut terkait aspek kemampuan berbahasa para penduduknya. Sebab dari beberapa daerah yang saya pernah kunjungi, khususnya di wilayah Jawa, meski kebanyakan orang sama-sama menuturkan bahasa Jawa, faktanya setiap daerah tetap memiliki perbedaan.<\/p>\n<p>Saya pernah tinggal di Pati selama 4 tahun, dan dari situ saya mengerti bahwa Kota Bumi Mina Tani tersebut ternyata memiliki beberapa dialek yang khas yang belum tentu dipahami orang Jawa dari daerah lain. Tentu saja hal ini benar-benar membuktikan bahwa Indonesia merupakan negara yang multibahasa. Bahkan kalau boleh mengatakan, antara Demak dan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-jelas-lebih-baik-ketimbang-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Semarang<\/a> yang jelas-jelas bertetanggaan saja ternyata juga ada perbedaan bahasa. Apa lagi dengan daerah lainnya?<\/p>\n<p>Maka saya sangat tertarik tatkala melihat seseorang memiliki logat khas saat berbicara. Dari sekian banyak orang yang saya jumpai, ada satu teman saya yang asli Bojonegoro. Saya pernah ngobrol banyak dengannya dan bahkan sempat bertanya-tanya juga. Menurutnya, setidaknya ada 4 dialek khas Bojonegoro yang membuatnya berbeda dari bahasa Jawa di daerah lain. Ulasannya sebagaimana di bawah ini.<\/p>\n<h2><strong>#1 Imbuhan \u201c-em\u201d untuk kepemilikan<\/strong><\/h2>\n<p>Untuk menyatakan kepemilikan berdasarkan kata ganti orang kedua tunggal, orang Bojonegoro lazimnya menggunakan imbuhan \u201c-em\u201d daripada \u201c-mu\u201d. Misalnya kalau mau mengatakan \u201cbukumu\u201d, maka menjadi \u201cbukuem\u201d, \u201ckakekmu\u201d menjadi \u201cmbahem\u201d, \u201cpensilmu\u201d menjadi \u201cpensilem\u201d, dsb. Dan pelafalan \u201c-em\u201d di situ seakan menggunakan \u2018e\u2019 pepet seperti kata enam, emas, lekas, dll.<\/p>\n<p>Namun perlu diingat, ternyata penggunaan imbuhan \u201c-em\u201d tersebut nggak hanya ada di Bojonegoro, di daerah<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/jawa-tengah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Jawa Tengah<\/a> bagian timur seperti Pati, Rembang, dan sekitarnya yang juga menggunakan \u201cem\u201d. Alhasil seseorang dialek ini ketika ngomong tidak bisa langsung dijustifikasi sebagai orang Bojonegoro, namun terkait kemungkinan kalau ia adalah orang Bojonegoro, tentu ada. Ya, 50:50 lah, Gaes.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dialek-bojonegoro-beda-dari-daerah-lain-jangan-sampai-salah-paham\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Bahasa Jawa yang berakhiran&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><strong>#2 Bahasa Jawa yang berakhiran \u201cuh\u201d menjadi \u201coh\u201d<\/strong><\/h2>\n<p>Saya masih ingat betul ketika teman saya ingin membeli terong sejumlah 10 ribu rupiah di tukang sayur. Dia bilang begini, \u201cTerong sepuloh ewu, Mas\u201d. Saat pertama kali mendengarnya, saya langsung ngeh bahwa ada pelafalan yang berbeda. Dan ternyata memang itu adalah dialek khas orang Bojonegoro.<\/p>\n<p>Gradasi akhiran \u201cuh\u201d menjadi \u201coh\u201d ini tentu juga berlaku pada kata yang lain seperti \u201cnduwur\u201d menjadi \u201cnduwor\u201d, \u201cngunduh\u201d menjadi \u201cngundoh\u201d, dsb.<\/p>\n<h2><strong>#3 Bahasa Jawa yang berakhiran \u201cih\u201d menjadi \u201ceh\u201d<\/strong><\/h2>\n<p>Selain perubahan akhiran \u201cuh\u201d menjadi \u201coh\u201d, dialek khas orang Bojonegoro lainnya adalah mengubah kata berakhiran &#8220;ih&#8221; dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/bahasa-jawa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Jawa<\/a> menjadi &#8220;eh&#8221;. Misalnya, kata \u201cmulih\u201d menjadi \u201cmuleh\u201d, \u201cgurih\u201d menjadi \u201cgureh\u201d, \u201csugih\u201d menjadi \u201csugeh\u201d, dsb. Dan yang paling saya ingat dari teman saya adalah saat mengiris bawang merah. Alih-alih mengatakan \u201cirisan brambang marai perih\u201d, dia malah mengatakan \u201cirisan brambang marai pereh\u201d.<\/p>\n<h2><strong>#4 Kosakata khas Bojonegoro yang perlu dipahami biar nggak salah paham<\/strong><\/h2>\n<p>Supaya lebih akurat dalam mengidentifikasi orang Bojonegoro atau bukan, ternyata ada beberapa kosakata yang sampai saat ini dikatakan sebagai dialek khas Bojonegoro. Kalau menurut teman saya, salah satunya adalah kata &#8220;genyo&#8221;. Jika ingin mengungkapkan pertanyaan kenapa, orang-orang Bojonegoro pasti menuturkannya dengan kata tersebut. Misalnya \u201ckenapa pulang?\u201d, maka menjadi \u201cgenyo muleh?\u201d, dsb.<\/p>\n<p>Selain itu, kosakata lain khas <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/budaya\/d-6412224\/60-contoh-bahasa-jawa-dialek-bojonegoro\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Jonegoroan<\/a> adalah \u201cgablek\u201d yang berarti \u201cpunya\u201d, \u201cnjungok\u201d yang berarti \u201cduduk\u201d, \u201cjengker\u201d yang berarti \u201cberbicara\u201d, \u201clesu\u201d yang berarti \u201clapar\u201d, \u201cnayoh\u201d yang berarti \u201cmudah\u201d, dsb. Nah, jika kalian mendengar kosakata-kosakata tersebut keluar dari mulut seseorang, maka langsung tembak saja dengan pertanyaan, &#8220;Kamu orang Bojonegoro, ya?&#8221; Sudah bisa dipastikan dia bakal menjawab ya.<\/p>\n<p>Itulah 4 dialek khas Bojonegoro yang membuatnya berbeda dari daerah lain di Jawa. Ada semboyan yang bunyinya begini, \u201cbahasa menunjukkan bangsa\u201d, hal ini berarti bahwa selain sebagai alat untuk berdialog, bahasa adalah sebuah identitas. Jadi kita harus bangga dengan bahasa daerah kita masing-masing.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Penulis: Ahmad Nadlif<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-jonegoroan-bikin-teman-kuliah-saya-gagal-paham\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bahasa Jonegoroan Bikin Teman Kuliah Saya Gagal Paham<\/a>.<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>cara ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meski sama-sama berbahasa Jawa, orang Bojonegoro memiliki dialek khas yang beda dengan daerah lainnya di Pulau Jawa. <\/p>\n","protected":false},"author":2128,"featured_media":288086,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0","format":"standard"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[763,4876,725,4874],"class_list":["post-287851","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-jawa","tag-bojonegoro","tag-dialek","tag-jonegoroan"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/287851","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2128"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=287851"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/287851\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/288086"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=287851"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=287851"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=287851"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}