{"id":287691,"date":"2024-07-12T10:26:39","date_gmt":"2024-07-12T03:26:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=287691"},"modified":"2024-07-12T10:26:39","modified_gmt":"2024-07-12T03:26:39","slug":"nasib-sial-sumbang-banyumas-karena-jadi-tetangga-purwokerto","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-sial-sumbang-banyumas-karena-jadi-tetangga-purwokerto\/","title":{"rendered":"Betapa Sial Kecamatan Sumbang Banyumas, Jadi Daerah yang Ruwet karena Tetanggaan dengan Purwokerto"},"content":{"rendered":"<p><em> Sumbang Banyumas semakin nggak nyaman, ketularan ruwetnya Purwokerto.\u00a0<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabupaten Banyumas terus berkembang dalam lima tahun terakhir. Perlahan tapi pasti, karesidenan ini jadi salah satu peradaban di Jawa Tengah bagian barat.\u00a0 Begitu pula dengan ibu kotanya, Purwokerto.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkembangan suatu daerah memang baik adanya, tapi ingat, setiap perkembangan zaman selalu ada &#8220;ongkos&#8221; peradaban. Selalu ada hal yang dikorbankan saat kata &#8220;kemajuan&#8221; digembor-gemborkan. Saya rasa, kenyamanan Kecamatan Sumbang Banyumas adalah salah satu bayarannya. Itu mengapa saya mulai muak dengan kecamatan satu ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Restoran bernuansa alam bertebaran di Sumbang Banyumas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sangat mudah menemukan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/minggu-bersama-di-tepikota-menikmati-kuliner-jawa-timur-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">restoran bernuansa alam<\/a> di Sumbang Banyumas. Menjamurnya resto dengan konsep seperti ini karena kaum urban Purwokerto mulai menyukai <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">restoran bernuansa alam ketimbang\u00a0 restoran berbintang.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kerinduan masyarakat pada masakan desa, masakan masa kecil dan rindang udara persawahan ini dimanfaatkan betul oleh para pemilik modal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, hampir di setiap sudut Sumbang kini ada restoran semacam ini.\u00a0 Resto-resto itu menginvasi lahan pertanian yang seharusnya jadi pundi-pundi pangan. Dikahwatirkan, warga setempat bakal kesulitan bahan pangan karena lahannya sudah digunakan untuk restoran-restoran yang mereka sendiri sulit untuk mencicipinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah Purwokerto masih kurang luas? Masih banyak lahan di Purwokerto yang bisa dimanfaatkan. Kenapa harus menginvasi Kecamatan Sumbang juga?<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak pendatang dari kota yang ingin menepi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah jadi rahasia umum kalau Purwokerto mulai sesak dengan kehadrian pendatang. Mereka yang enggan dengan kemacetan dan segala tetek bengek di Purwokerto lebih memilih untuk menepi. Salah satu tempat menepi para <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/4-kekonyolan-kaum-urban-yang-order-makanan-ojek-online-saat-buka-dan-sahur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kaum urban<\/a> di Kota Satria adalah Kecamatan Sumbang. Saya tentu nggak sembarang ngomong, dong!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecamatan yang dipenuhi dengan ladang persawahan ini mulai dilirik para pendatang, khususnya mahasiswa dan pekerja. Banyak di antara mereka yang memilih tinggal di kecamatan satu ini lantaran udaranya yang sejuk dan tidak terlalu jauh dari pusat kota. Meski demikian, tidak lama lagi, Kecamatan Sumbang akan dibanjiri oleh warga urban dari Purwokerto. Kita tunggu saja! Lebih buruk dari itu, bukan nggak mungkin warga setempat tergusur dari daerahnya sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Kemacetan mulai menghantui Sumbang\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pusat peradaban Banyumas ada di Purwokerto. Tentu hal ini menjadi kabar gembira sekaligus beban bagi kecamatan di sekitarnya. Memangnya beban apa sih yang ditanggung Sumbang akibat bersebelahan dengan Purwokerto?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang paling dominan adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/purwokerto-dan-masalah-lalu-lintas-bikin-pengendara-murka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kemacetan<\/a>. Kemacetan di Sumbang selalu terjadi di pagi dan sore hari. Wajar saja, mengingat waktu-waktu tersebut adalah jam para pekerja untuk berangkat dan pulang kantor. Memacu kendaraan di atas 60 kilometer per jam di kecamatan ini menjadi semakin mustahil. Apalagi di jam-jam sibuk. Bahkan, para pengendara hanya bisa memacu kendaraan di bawah 40 kilometer per jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seolah nggak cukup dengan kemacetan, jalan-jalan di kecamatan ini mulai rusak. Kombinasi yang lengkap bukan? Kemacetan dan kerusakan jalan. Keduanya bisa membuat pengendara dengan sumbu pendek seperti saya gampang misuh. Dan, kedua hal itu bisa kalian jumpai di Kecamatan Sumbang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, jalan di Purwokerto begitu mulus layaknya karier <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Raffi_Ahmad\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Raffi Ahmad<\/a>. Namun, tidak dengan Kecamatan Sumbang. Akses jalan di kecamatan ini belum siap menerima lonjakan jumlah penduduk dari Purwokerto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, ada baiknya segala fasilitas dibenahi terlebih dahulu agar daerah satelit di sekitar Purwokerto bisa lebih siap. Terutama, dalam menyangga kegemilangan dan kemajuan Purwokerto. Tujuannya, agar Purwokerto dan Sumbang bisa berkembang bersamaan. Bukan malah menjadi raksasa yang menginjak kurcaci kecil di sekitarnya. Ngaten nggih, Sedulur!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi<br \/>\nEditor: Kenia Intan<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/karangmoncol-purbalingga-diam-diam-punya-hutan-amazon\/\"><b>Pengalaman Tinggal di Karangmoncol Purbalingga, Kecamatan yang Sering Diremehkan, padahal Punya Hutan Amazon yang Indah<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumbang Banyumas bernasib sial karena bertetangga Purwokerto yang berkembang pesat. Kecamatan itu jadi banyak pendatang dan macet. <\/p>\n","protected":false},"author":1840,"featured_media":287717,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2858,8526,25140,25139],"class_list":["post-287691","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banyumas","tag-purwokerto","tag-sumbang","tag-sumbang-banyumas"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/287691","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1840"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=287691"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/287691\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/287717"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=287691"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=287691"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=287691"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}