{"id":287514,"date":"2024-07-11T08:34:19","date_gmt":"2024-07-11T01:34:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=287514"},"modified":"2024-07-11T08:34:19","modified_gmt":"2024-07-11T01:34:19","slug":"bojonegoro-kabupaten-terkaya-di-jawa-timur-yang-miskin-kuliner-khas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bojonegoro-kabupaten-terkaya-di-jawa-timur-yang-miskin-kuliner-khas\/","title":{"rendered":"Bojonegoro, Kabupaten Terkaya di Jawa Timur yang Miskin Kuliner Khas"},"content":{"rendered":"<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Setidaknya satu kali dalam setahun, saya pasti akan singgah di kota kelahiran saya, Bojonegoro. Maklum, sebagian besar keluarga orang tua saya tinggal di sana. Bapak dan ibu saya adalah perantau di Kertosono karena pekerjaan. Libur Lebaran selalu kami habiskan untuk ke rumah nenek dan saudara. Ingatan saya saat kecil dulu tentang Bojonegoro adalah jalan berkelok melewati hutan jati, ada api abadi, dan kuliner bernama ledre. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Dewasa ini saya menyadari bahwa Bojonegoro tidak terlalu istimewa, terutama soal kulinernya. Tidak seperti Tuban yang punya rajungan balsem super pedas atau Gresik dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasi-krawu-makanan-khas-gresik-yang-seringnya-dilupakan-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nasi krawu<\/a> yang enak banget. Kedua makanan tersebut mungkin ada di daerah lain, tapi di tempat aslinya jauh lebih enak. Ini yang saya rasa belum dimiliki Bojonegoro. Berikut saya jabarkan beberapa alasannya.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"p1\"><strong><span class=\"s2\">Nasi pecel yang manis dan tidak ada peyek<\/span><\/strong><\/h2>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Setiap kali saya ke Bojonegoro, saya selalu bertanya-tanya, makanan apa yang enak di sini dan di mana belinya. Tapi jawaban yang saya dapat tidak memuaskan. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Saya paling sering beli nasi pecel untuk sarapan karena dekat rumah. Itu pun menyalahi kaidah nasi pecel yang sudah lama saya kenal selama tinggal di Kertosono. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasi-pecel-bukan-milik-madiun-saja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nasi pecel<\/a> di Bojonegoro memiliki rasa bumbu kacang yang cenderung manis-gurih, biasanya selain sayuran rebus juga ditambah mie kuning dan sambal goreng tempe. Tapi yang paling aneh adalah absennya peyek dan digantikan oleh tempe mendoan. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Apa-apaan ini? Pecel dan peyek itu satu kesatuan. Bisa-bisanya di Bojonegoro kuliner nasi pecel dan peyek digantikan dengan tempe mendoan. Jangan tanya sambel tumpang, sudah jelas tidak ada. <\/span><\/p>\n<h2 class=\"p1\"><strong><span class=\"s2\">Nasi buwuhan, k<span class=\"s1\">uliner Bojonegoro<\/span> yang jadi tidak spesial lagi<\/span><\/strong><\/h2>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Sego buwuhan atau nasi buwuhan di Bojonegoro memang sepopuler itu. Berangkat dari tradisi turun-temurun, sego buwuhan biasa dinikmati ketika ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/utang-maksimal-untuk-biaya-nikah-biar-nggak-langsung-kere-selesai-hajatan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">hajatan pernikahan<\/a> atau sunatan. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Nasi ini biasanya disajikan di atas daun jati dengan lauk-pauk seperti yang didapatkan ketika hajatan. Ada mie kuning, momoh tempe, oseng beligo atau pepaya muda, serundeng, dan sate daging. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Saya akui nasi buwuhan kebanyakan memang rasanya enak. Tapi menurut saya, kalau dibuat untuk bisa dinikmati harian sih jadi berbeda feel-nya. Sudah tidak spesial gitu, lho. Meskipun nyatanya nasi buwuhan tetap menjadi ikon kuliner Bojonegoro dan sudah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda tahun 2019 silam.<\/span><\/p>\n<h2 class=\"p1\"><strong><span class=\"s2\">Ledre, kudapan manis yang kurang ergonomis<\/span><\/strong><\/h2>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/kuliner\/d-7009389\/mengenal-ledre-jajanan-khas-bojonegoro-yang-jadi-warisan-budaya-tak-benda\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ledre<\/a> adalah the one and only buah tangan dari Bojonegoro yang saya tahu. Makanan ringan berbahan pisang yang literally ringan tapi packagingnya makan tempat. Maklum saja, kuliner Bojonegoro ini sangat mudah hancur kayak hatimu, jadi perlu pelindung supaya aman untuk dibawa bepergian. <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Ledre dibuat dari adonan tepung beras, pisang, dan bahan lain yang dicetak tipis untuk kemudian digulung seperti egg roll. Ciri khas ledre memang dari kriuknya dan wangi pisang yang harum. Tapi kalau sudah sudah hancur, esensi makan ledre jadi hilang. Ya kali makan ledre pake sendok.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Selain itu, ledre juga sudah tidak eksklusif Bojonegoro lagi. Padahal sudah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda sejak tahun 2014, lho. Di sebuah toko <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-jenang-apel-oleh-oleh-khas-malang-yang-bikin-pembeli-waswas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">oleh-oleh di Malang<\/a>, saya menemukan produk ledre dengan tulisan &#8220;khas Malang&#8221;. Lho, kok bisa? Apakah identitas Bojonegoro sebagai Kota Ledre sudah luntur sehingga daerah lain bisa mengeklaim juga?<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Kuliner di Bojonegoro yang membekas di ingatan saya justru ikan goreng dan sambel tomat di tengah hutan Bojonegoro-Nganjuk. Warung ini menyediakan menu iwak kali seperti wader, gloso, gabus yang diambil dari waduk dan langsung digoreng menggunakan kayu bakar. Sambelnya pun fresh baru diulek. Mantap betul! <\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Soal kuliner memang sangat subjektif. Tapi mengingat slogan Pinarak Bojonegoro, harusnya ada lebih banyak lagi kuliner khas yang bisa mendukung pariwisata. Keberagaman rasa, keunikan konsep, dan kepraktisan bisa menjadi kunci untuk menarik minat para pencinta kuliner. Jadi tidak hanya mengandalkan kuliner dari daerah lain yang buka cabang di Bojonegoro saja. Tul nggak?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Nimas Faradyta<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ironi-dusun-bunten-bojonegoro\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dusun Bunten Bojonegoro, Dusun Ironis yang Nyaris Tidak Pernah Dikunjungi Pejabat Daerahnya<\/a>.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>cara ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai salah satu daerah terkaya di Jawa Timur, Bojonegoro justru miskin kuliner khas. Apa yang bisa dibanggakan dari daerah ini? Ledre?<\/p>\n","protected":false},"author":2546,"featured_media":287529,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[4876,19000,14799,19001],"class_list":["post-287514","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-bojonegoro","tag-kabupaten-bojonegoro","tag-kuliner-khas","tag-ledre-bojonegoro"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/287514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2546"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=287514"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/287514\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/287529"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=287514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=287514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=287514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}