{"id":287438,"date":"2024-07-11T09:00:43","date_gmt":"2024-07-11T02:00:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=287438"},"modified":"2024-07-11T10:15:28","modified_gmt":"2024-07-11T03:15:28","slug":"bahasa-jawa-demak-bikin-orang-bojonegoro-gagal-paham","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-jawa-demak-bikin-orang-bojonegoro-gagal-paham\/","title":{"rendered":"5 Kosakata Bahasa Jawa Orang Demak yang Bikin Orang Bojonegoro Gagal Paham"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya orang Demak yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-nggak-istimewa-setelah-saya-merantau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">merantau ke Jogja<\/a>. Di tanah perantauan ini saya bertemu dengan banyak perantau lain, salah satunya orang dari Kota Tayub, Bojonegoro. Sebagai seorang teman yang sama-sama bertutur menggunakan bahasa Jawa, kami jelas ngobrol banyak. Uniknya, ketika ngobrol, ada beberapa kosakata bahasa Jawa yang sering saya gunakan, tapi dia tidak memahaminya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya ada 5 kosakata bahasa Jawa Demak yang asing di kuping dia yang berasal dari Bojonegoro. Berikut beberapa katanya:\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1\u00a0<\/b><b>B<\/b><b>ahasa Jawa l<\/b><b>emut yang artinya nyamuk nggak dikenal di Bojonegoro<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi masyarakat Demak, untuk menyebut diksi seekor nyamuk, kami biasanya menggunakan istilah \u201clemut\u201d. Dengan pembacaan huruf \u2018e\u2019 di situ dieja menggunakan pepet. Artinya pengucapannya seperti kata enam, lekas, lemas. Kata \u201clemut\u201d ini sebenarnya cukup populer di Demak dan sebagian besar daerah Semarang-an. Namun, di daerah lain seperti di Pati, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/rembang-jawa-tengah-penuh-jalan-rusak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rembang<\/a>, dan sekitarnya istilah nyamuk sudah beda. Mereka menggunakan kata \u201clamok\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ngobrol dengan teman saya yang asli Bojonegoro, ternyata dia juga nggak mengerti istilah kata \u201clemut\u201d. Saya pernah ngomong gini, \u201cNing asrama iki kok nek bengi lemut e akeh banget ya\u201d, yang artinya \u201cdi asrama sini kok kalau malam nyamuknya banyak banget ya\u201d. Namun teman saya malah ngang-ngong dan langsung tanya apa itu \u201clemut\u201d? Usut punya usut, ternyata di Bojonegoro memang nggak ada istilah \u201clemut\u201d, mereka menyebut nyamuk dengan istilah \u201cjingklong\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Kosakata bahasa Jawa Mbededeg bermakna jengkel<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat rasan-rasan bareng teman saya yang asli Bojonegoro tersebut, kira-kira waktu itu saya ngomong begini, \u201cSi A iku wong e emang marai mbededeg\u201d, yang artinya \u201cSi A itu orangnya memang bikin jengkel\u201d. Nah, saat itu pula teman saya langsung menimpali, \u201cmbededeg\u201d itu\u00a0 artinya apa ya? Ternyata dia nggak paham terkait kosa kata \u201cmbededeg\u201d, kemudian langsung saya jelaskanlah kalau artinya adalah jengkel. Dia kemudian mengungkapkan, di Bojonegoro, sebenarnya ada kata yang mendekati \u201cmbededeg\u201d, yakni \u201cmbediding\u201d. Namun, artinya bukan jengkel, melainkan seperti merinding karena takut ketinggian.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Ingah-ingih memiliki arti ragu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kosakata bahasa Jawa orang Demak lain yang membingungkan bagi orang Bojonegoro adalah \u201cingah-ingih\u201d. Kata tersebut sebenarnya memiliki makna ragu-ragu dalam bertindak. Biasanya, istilah \u201cingah-ingih\u201d akan lebih sering didengarkan di daerah Semarangan, tapi karena letak Semarang dan Demak sangat berdekatan, alhasil kata tersebut juga lazim digunakan di Demak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saat pertama kali mengucapkan kata \u201cingah-ingih\u201d ke teman saya yang asli Bojonegoro, saya kira dia sudah mafhum dengan kata tersebut. Namun, apa yang ada di benak saya ternyata salah. Dia malah mengatakan bahwa kata tersebut terdengar sangat asing. Sebab, untuk mengungkapkan sikap keragu-raguan, masyarakat Bojonegoro lebih dekat dengan kata \u201cmamang\u201d daripada \u201cingah-ingih\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Ngelih yang bermakna lapar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai mahasiswa perantauan, memasak merupakan salah satu alternatif untuk menghemat uang. Kebetulan teman saya yang berasal dari Bojonegoro tersebut adalah orang yang jago masak. Alhasil, kalau perut sudah keroncongan, biasanya saya ngomong gini ke dia, \u201cAku wes ngelih e, yok masak\u201d, yang artinya \u201cAku sudah lapar, ayo masak\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat pertama kali mendengar diksi \u201cngelih\u201d, terus terang dia nggak paham apa maksudnya. Namun, saya langsung menjelaskan bahwa \u201cngelih\u201d itu adalah lapar. Sementara di Bojonegoro, lapar selalu diistilahkan dengan \u201clesu\u201d. Agak aneh menurut saya karena di Demak lesu berarti lemas, boleh jadi karena sakit, lapar atau memang kehilangan semangat.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Mremo memiliki arti aji mumpung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat bulan Ramadan lalu, banyak para pedagang yang menjual jajanannya di sekitaran jalan depan <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jogja\/budaya\/d-7245164\/kisah-masjid-sonyoragi-di-kompleks-makam-pakualaman-jogja\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Masjid Sonyoragi<\/a>. Nah, saya dan teman saya, saat itu gabut dan memutuskan untuk jalan-jalan sekaligus mencari takjil di masjid yang terletak di jalan Gondosuli tersebut. Melihat ramainya para pedagang, kemudian saya nyeletuk begini \u201cWah, akih wong dodol lagi mremo takjil\u201d, yang artinya \u201cWah, banyak para penjual yang sedang memanfaatkan momentum Ramadan untuk menjual takjil\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar celetukan tersebut, teman saya ternyata kembali nggak paham dengan istilah \u201cmremo\u201d. Asumsi saya, diksi tersebut tampaknya memang khas orang-orang sekitar Demak dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dialek-semarang-yang-wajib-dipahami-agar-nggak-bingung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Semarangan<\/a>, deh. Sebab di beberapa daerah yang lain, saya malah jarang mendengar istilah tersebut diucapkan oleh seseorang. Padahal momen para pedagang untuk \u201cmremo\u201d dagangannya bisa dilakukan pada waktu-waktu yang khusus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah 5 kosakata orang Demak yang sulit dimengerti orang Bojonegoro. Walau sama-sama menggunakan bahasa Jawa dalam dialog sehari-harinya, kedua daerah itu ternyata punya istilah-istilah yang berbeda-beda. Di atas baru 5 kosakata yang selama ini saya catat, saya yakin sebenarnya masih ada banyak perbedaan lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ahmad Nadlif<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0 <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-jawa-yang-kaya-minum-bisa-diterjemahkan-jadi-8-kata\/\"><b>Bahasa Jawa yang Kaya, \u201cMinum\u201d Bisa Diterjemahkan Jadi 8 Kata Berbeda<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Demak dan orang Bojonegoro sama-sama menggunakan bahasa Jawa, tapi banyak perbedaannya. Ketika ngobrol, kadang jadi gagal paham. <\/p>\n","protected":false},"author":2128,"featured_media":287492,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[763,4876,9816,623,25111,24194],"class_list":["post-287438","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-bahasa-jawa","tag-bojonegoro","tag-demak","tag-jawa","tag-orang-bojonergoro","tag-orang-demak"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/287438","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2128"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=287438"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/287438\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/287492"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=287438"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=287438"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=287438"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}