{"id":287134,"date":"2024-07-08T17:52:05","date_gmt":"2024-07-08T10:52:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=287134"},"modified":"2024-07-09T15:53:50","modified_gmt":"2024-07-09T08:53:50","slug":"culture-shock-orang-jawa-yang-merantau-di-tanah-sunda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-orang-jawa-yang-merantau-di-tanah-sunda\/","title":{"rendered":"Culture Shock Orang Jawa yang Merantau di Tanah Sunda, Banyak Orang Ngomong Pakai Dialog ala FTV"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah tiga bulan lamanya saya bekerja di Subang. Sebagai orang Jawa, menjalani perantauan di kota Nanas Madu merupakan satu takdir yang tak terkira dalam hidup saya. Banyak hal-hal baru yang membuat saya terkesan sekaligus terheran-heran. Perbedaan bahasa, budaya, hingga hal-hal menarik seputar orang Sunda menurut saya layak dijadikan suatu kesan tersendiri yang dapat dibagikan sebagai sebagai kisah yang unik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai mas-mas Jawa biasa yang sedang merantau di tanah Sunda, banyak culture shock yang saya rasakan saat bersosialisasi di Subang. Apa saja itu?<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak yang mengganti kata \u201csaya\u201d dengan menyebut namanya sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin kalian pasti familiar dengan dialog-dialog di FTV atau sinetron yang kayak \u201cRicko berangkat sekolah dulu, ya, Mah\u201d atau \u201cSini, biar Shira aja yang bawain\u201d. Dialog yang menyebut kata ganti orang pertama dengan nama diri sendiri memang bukan hal baru. Akan tetapi bagi saya yang mengalaminya secara langsung, ternyata hal itu menimbulkan kesan tersendiri. Belakangan saya ketahui ternyata ada nama ilmiahnya, yaitu Illeisme.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari beberapa tajuk tanya jawab yang saya baca di Quora, mereka yang menyebut namanya sendiri sebagai pengganti kata aku atau saya mengaku melakukannya karena memang terbawa kultur di lingkungan yang membesarkannya. Menurut pengakuan mereka, tujuannya adalah untuk menghormati lawan bicara, jadi agar lebih sopan. Akan tetapi, penyebutan nama sendiri hanya dilakukan ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua atau lebih dihormati, dan level interaksinya sudah dekat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak yang hafal lagu Jawa meski nggak tau artinya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu Jawa memang memiliki daya magis tersendiri. Banyak orang yang tetap dapat menikmatinya meski tidak mengetahui arti liriknya. Tapi jangan salah, ya. Lagu-lagu Jawa yang saya maksud itu lagu-lagu yang sedang populer dan viral saja seperti lagu-lagunya Didi Kempot, Denny Caknan, Guyon Waton, Ndarboy Genk, atau bahkan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/NDX_A.K.A.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">NDX A.K.A<\/a>. Jadi bukan lagu \u201cYen Ing Tawang Ono Lintang\u201d-nya Waldjinah atau lagu semacam \u201cLingsir Wengi\u201d yang terkadang membuat saya merinding karena kerap diasosiasikan dengan kedatangan roh halus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya meyakini, awal mula yang membuat mereka dapat menikmati lagu-lagu Jawa adalah karena sering \u201cterpapar\u201d. Entah itu di FYP sosmed, pusat-pusat perbelanjaan, atau ketika orang Jawa sendiri yang sengaja memutarnya lalu didengar oleh orang-orang Sunda di sekitarnya, yang mana, itu adalah hal yang biasanya saya lakukan saat di kantor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, dari segi aransemen musik. Lagu-lagu semacam \u201cKartonyono Medhot Janji\u201d, \u201cSanes\u201d, atau \u201cOjo Dibandingke\u201d selalu memiliki komposisi musik yang asoy dan dapat membuat pendengarnya berjoget ria\u2013atau setidak-tidaknya menggelengkan kepala. Paduan musik modern dan tradisional manjadikan aura lagu itu sangat easy listening dan mudah melekat di memori pendengarnya. Sudah begitu\u2014ini sih tambahan dari saya sendiri\u2014dalam satu lagu, ada banyak versi penyanyi yang bisa didengarkan karena musisi-musisinya sering berkolaborasi atau sekadar saling meng-cover.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faktor lainnya yang membuat lagu Jawa selalu punya tempat di hati para pendengarnya adalah karena liriknya yang ngena. Lagu-lagu Jawa yang banyak beredar kerap memberikan sentuhan bahasa Indonesia kendati itu tidak dominan. Sehingga ada sebagian lirik yang siapa saja ngerti artinya. Selain itu, sebagai suku terbesar di Indonesia, kosa kata bahasa Jawa juga banyak dikenal karena memang sering berseliweran diucapkan oleh tokoh-tokoh atau public figure di media massa. Saya yakin, meski bukan orang Jawa, kata seperti \u201cora\u201d, \u201ckowe\u201d, atau \u201catiku\u201d pasti orang-orang non-Jawa juga tahu artinya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Panggilan saya berubah menjadi \u201cAa\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Jawa tulen, dipanggil \u201cAa\u201d merupakan suatu pengalaman yang amat baru dalam hidup saya. Panggilan \u201cAa\u201d memang umumnya digunakan untuk memanggil saudara laki-laki yang lebih tua atau pria yang lebih tua tetapi masih muda. Kalau di Jawa, tentu saja sama dengan panggilan \u201cMas\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam konteks pengalaman saya, panggilan \u201cAa\u201d biasanya ditujukan kepada rekan-rekan kerja yang lebih tua atau tidak lebih tua tapi si penyebut berusaha memberikan penghormatan kepada orang tersebut (unggah-ungguh). Panggilan ini juga mencerminkan keakraban dan kehangatan hubungan antar teman atau anggota keluarga. Meski begitu, saya juga tetap sering dipanggil \u201cMas\u201d. Terutama oleh rekan-rekan kerja yang memang tahu bahwa saya berasal dari Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah begitu, aksennya juga unik. Sebagai contoh panggila \u201cAa\u201d tadi ya, kalau saya lagi dipanggil itu kayak rasanya adem gitu. Apalagi kalau yang manggil teteh-teteh Sunda yang geulis. Beuh, meleyot deh..<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa culture shock yang saya alami saat awal-awal di tanah Pasundan ini. Sebenarnya ada banyak hal lagi yang dapat saya ceritakan. Mungkin di lain kesempatan aja kali ya ngelanjutinnya. Nuhun.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Fajar<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-cirebon-bingung-termasuk-sunda-atau-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Orang Cirebon Terlalu Jawa untuk Disebut Sunda, Terlalu Sunda untuk Disebut Jawa<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beda gini ya.<\/p>\n","protected":false},"author":2680,"featured_media":242047,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1132,623,20873,1152],"class_list":["post-287134","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-ftv","tag-jawa","tag-subang","tag-sunda"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/287134","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2680"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=287134"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/287134\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/242047"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=287134"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=287134"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=287134"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}