{"id":286714,"date":"2024-07-05T14:04:00","date_gmt":"2024-07-05T07:04:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=286714"},"modified":"2024-07-05T14:04:00","modified_gmt":"2024-07-05T07:04:00","slug":"kuliner-apung-surabaya-dulu-viral-kini-terancam-bubar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliner-apung-surabaya-dulu-viral-kini-terancam-bubar\/","title":{"rendered":"Kuliner Apung Surabaya, Dulu Viral Kini Terancam Bubar: Rasa Makanan (Kelewat) Biasa, Maintenance pun Ala Kadarnya"},"content":{"rendered":"<p><em>Kuliner apung Surabaya dulu begitu viral, kini dilirik pun tidak<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Surabaya, kamu bisa menemukan banyak sekali tempat makan enak. Oleh karena itu, beberapa restoran atau warung biasanya tidak hanya mengandalkan rasa makanannya saja untuk menarik pengunjung, tapi juga tempat dan suasana yang menarik. Misalnya, ada warkop yang desainnya seperti kuburan, mejanya dibuat menyerupai nisan, lengkap dengan aksesoris keranda mayat dan pocongnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga rumah makan yang menawarkan suasana Jawa abad ke-19, tempat makan ramen ala pasar tradisional Jepang, hingga restoran mewah yang berlokasi di rooftop hotel dengan sajian makan malam romantis.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inovasi tempat kuliner di Surabaya tidak hanya dilakukan oleh pihak swasta, tapi juga Pemkot Surabaya. Sentra\u00a0 wisata kuliner (SWK) adalah program Pemkot di bidang kuliner\u00a0 untuk memfasilitasi UMKM. Lokasi SWK tersebar di seluruh Kota Surabaya, salah satunya adalah SWK Taman Prestasi yang berlokasi di sekitar sungai Kalimas.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Sensasi makan di atas sungai<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan SWK lain yang hanya mengandalkan variasi makanan dan jajanan. SWK Taman Prestasi menawarkan sensasi makan di atas sungai atau biasa disebut warung terapung. Ada beberapa perahu berukuran kecil yang dipasang di pinggir sungai, perahu tersebut dihias dengan lampion untuk mempercantik tampilan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengunjung yang datang bisa makan sambil ngobrol di atas perahu tersebut. Untuk perahunya gratis, makanan dan minumannya saja yang berbayar. Sensasi makan di atas perahu sambil melihat senja di Kota Pahlawan ini cukup menarik perhatian warga dan sempat viral di awal pembukaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang berbondong-bondong ingin merasakan makan di atas perahu yang bergoyang. Meskipun sudah pernah naik perahu, speedboat, bahkan kapal besar. Saya pun saat awal dibuka wisata apung ini termasuk orang yang ikutan ngantre untuk mencoba makan di atas perahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, seiring waktu, wisata kuliner apung Surabaya yang dulu viral, sekarang terancam bubar lantaran sepi pengunjung. Kalaupun ada beberapa pengunjung yang datang ke SWK Taman Prestasi, pengunjung tidak memilih duduk di area perahu, melainkan di kursi biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya mau sok tahu, tapi menurut saya ada beberapa hal yang membaut kuliner apung Surabaya ini sepi.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Tidak ada yang menarik dari makanan di kuliner apung Surabaya<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski harganya standar (baca: tidak mahal), tapi rasa makanannya juga standar sehingga tidak ada nilai tawar lebih. Kuliner apung Surabaya ini menjual makanan yang juga mudah kita temukan di pedagang kaki lima seperti batagor, siomay, penyetan, es teh dan jeruk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dari segi rasa tak ada yang istimewa, orang cenderung memilih makan batagor di pinggir jalan yang rasanya lebih enak dan harganya lebih murah. Keunggulan kuliner apung Surabaya ini memang hanya di sensasi makan di atas air.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, kalau pengunjung sudah mencoba makan di atas perahu sekali, keinginan untuk datang ke sana lagi sudah tidak ada karena tidak ada hal lain yang istimewa. Andai rasa makanannya istimewa, mungkin lain lagi ceritanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, makan di atas perahu yang saya bayangkan akan romantis, ternyata tidak romantis. Senja yang saya harapkan indah, terhalang gedung pencakar langit, sehingga suasannya nggak bagus-bagus amat . Selain itu, saat menjelang malam ada banyak nyamuk, mungkin lantaran di sungai dan perahunya terbuat dari kayu sehingga banyak nyamuk yang hinggap di kaki kita melalui sela-sela kayunya. Waktu itu saya tidak persiapan menggunakan Autan, jadinya ingin buru-buru pulang.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sih tidak merasa pusing makan di kuliner apung, tapi beberapa orang\u00a0 mengeluhkan pusing saat makan di atas perahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, kalau hanya ingin menikmati sunset sambil makan dan melihat perahu, orang lebih suka datang ke <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/snq_sunsetpoint\/?hl=en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surabaya North Quay<\/a> yang ada di Tanjung Perak. Selain sunsetnya bagus karena memang di pinggir laut, kalau beruntung pengunjung bisa melihat kapal pesiar bersandar di dermaga.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Maintenance yang ala kadarnya<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, kondisi perahu yang mulai tak terawat.\u00a0 Salah satu penyakit menahun yang diderita tempat wisata atau kuliner buatan Pemkot adalah kurang maintenance. Untuk kasus di kuliner apung Surabaya, kondisi perahunya mulai jelek, lampionnya banyak yang mati, dan cat kayunya mulai mengelupas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu penyakit yang hampir selalu diidap tempat wisata atau kuliner binaan Pemkot adalah lemah di maintenance. Di awal pembangunan, semua terlihat bagus dan pengunjung ramai. Lama-lama tak terawat dan mulai sepi. Merawat memang lebih susah ketimbang membangun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya SWK di Surabaya memang rata-rata sepi, tidak hanya kuliner apung saja, kok. Sependek pengetahuan saya, SWK yang paling ramai hanya di Ketintang (depan kampus Unesa dan Telkom). Selain faktor makanan yang monoton, SWK di Surabaya umumnya memiliki jukir liar. Pengunjung tidak jadi membeli masih tetap diminta Rp5000. Rasa makanan yang tidak istimewa dan nilai tambah lain yang tak seberapa membuat pengunjung berpikir ulang untuk datang kembali ke SWK.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Tiara Uci<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-tempat-makan-di-surabaya-dengan-porsi-jumbo-dijamin-wareg\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Tempat Makan di Surabaya dengan Porsi Jumbo, Dijamin Wareg!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oh, riwayatmu kini.<\/p>\n","protected":false},"author":1542,"featured_media":286715,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[24998,16937,405,24999,25000],"class_list":["post-286714","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kuliner-apung-surabaya","tag-kuliner-surabaya","tag-surabaya","tag-swk-surabaya","tag-taman-prestasi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/286714","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1542"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=286714"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/286714\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/286715"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=286714"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=286714"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=286714"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}