{"id":286544,"date":"2024-07-05T12:30:05","date_gmt":"2024-07-05T05:30:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=286544"},"modified":"2024-07-05T12:50:25","modified_gmt":"2024-07-05T05:50:25","slug":"majenang-dan-cimanggu-di-cilacap-terlalu-sunda-untuk-disebut-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/majenang-dan-cimanggu-di-cilacap-terlalu-sunda-untuk-disebut-jawa\/","title":{"rendered":"Dilema Orang Majenang dan Cimanggu di Kabupaten Cilacap: Terlalu Sunda untuk Disebut Jawa"},"content":{"rendered":"<p><em>Orang-orang Majenang dan Cimanggu Cilacap ini unik. Mereka terlalu Sunda untuk dianggap Jawa, tapi ya masih fasih Jawa. Nah loh gimana?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semasa berkuliah di Purwokerto, saya banyak memiliki teman yang berasal dari Cilacap bagian barat-utara. Cilacap bagian tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Brebes dan Kota Banjar alias Banjar Patroman. Yang membuat saya heran adalah penggunaan bahasa sehari-hari. Mereka ternyata tidak menggunakan bahasa Jawa, melainkan bahasa Sunda. Jadi sebenarnya mereka ini Sunda atau jawa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam beberapa kesempatan saya pernah main ke tempat seorang kawan di Wanareja, Cimanggu, dan Majenang. Yang sempat agak lama adalah di Cimanggu, sekitar dua hari tiga malam. Daerah ini mayoritas penduduknya berada di lembah dan pegunungan Maruyung, yang jika ditelusur ke arah utara tembus ke Bantarkawung Kabupaten Brebes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat berada di sana saya cukup dibuat kaget karena masyarakatnya secara menyeluruh menggunakan bahasa Sunda dalam keseharian mereka. Yang mana selama ini saya hanya mengetahuinya dari percakapan teman-teman saya saat mengobrol. Sekarang saya benar-benar membuktikan bahwa ternyata bahasa keseharian masyarakat Cimanggu adalah Sunda banget. Belakangan, baru saya ketahui berdialek Ciamis atau dialek Tenggara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa Sunda dialek Ciamis adalah bahasa Sunda yang dituturkan oleh masyarakat di wilayah tenggara Parahyangan Timur. Yaitu Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Pangandaran, serta di wilayah barat daya bekas Karesidenan Banyumas, yaitu Kabupaten Cilacap yang tersebar di Kecamatan Wanareja, Cimanggu, Majenang, Dayeuhluhur, dan sebagian wilayah Karangpucung. Dan setelah saya telusuri lebih dalam, dialek ini meluas juga ke <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kabupaten_Brebes\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kabupaten Brebes<\/a> di Kecamatan Salem, Bantarkawung, Banjarharjo, Kersana, Losari, Ketanggugan dan Larangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit lebih lanjut tentang historinya. Ternyata keberadaan penutur bahasa Sunda di sebaran wilayah yang saya sebutkan di atas bermula dari migrasi penduduk Sunda ke wilayah Jawa Tengah untuk bekerja di proyek-proyek infrastruktur dan perkebunan pada zaman penjajahan Belanda.<\/span><\/p>\n<h2><b>Satu dialek tapi penggunaan kosa kata antar daerahnya berbeda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski berada dalam wilayah yang berdekatan, penggunaan kosa kata di Cimanggu Cilacap ini terdapat perbedaan. Jika dibandingkan dengan Dayeuhluhur atau Karangpucung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai contoh, di Kecamatan Wanareja dan Dayeuhluhur yang notabene agak berjauhan, penyebutan \u201caku\u201d umumnya menggunakan kata \u201cabi\u201d. Akan tetapi kalau di wilayah Cimanggu dan Karangpucung, mereka lebih sering menggunakan kata \u201curang\u201d, \u201caing\u201d, atau \u201cuing\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian di wilayah Banjarharjo Kabupaten Brebes, kalau mengatakan \u201ckamu mau ke mana\u201d itu dengan sebutan \u201csia rek ka ndi\u201d. Sementara di Cimanggu atau Karangpucung biasanya memakai istilah \u201cmaneh ka mana\u201d. Lalu untuk mengatakan \u201ctidak tahu\u201d, orang-orang Sunda Brebes biasanya memakai kata \u201cteu nyaho\u201d. Yang mana itu sama dengan yang sering dipakai di Cimanggu dan Majenang. Sementara penutur Sunda Bandung dan sekitarnya lebih sering memakai diksi \u201cteu terang\u201d atau \u201cteu apal\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepengalaman saya bergaul dengan orang-orang Bandung, Sukabumi, atau Subang, bahasa Sunda yang mereka tuturkan dalam keseharian memang terbilang kasar\u2013mungkin kalau di bahasa Jawa disebut ngoko\u2013tapi secara nada dan intonasi tetap halus dan mendayu-dayu. Jujur, saya kesulitan mendeskripsikannya dengan kata-kata. Yang jelas, sebagai penutur bahasa ngapak yang kaffah, saya menilai percakapan sehari-hari mereka masih dapat dikatakan halus dan tidak senyablak bahasa ngapak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Meski kasar, mereka juga tetap bisa jadi Sunda alus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut teman saya yang merupakan warga asli Dusun Cipeteuy di Cimanggu itu, penuturan bahasa Sunda di Cimanggu, Majenang, atau Karangpucung memang terbilang kasar dan intonasinya lebih ngegas. Namun, bukan berarti orang-orang Sunda di sana tidak dapat berbahasa Sunda alus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika mereka sedang berbicara dengan yang lebih tua, diksi yang digunakan juga diksi-diksi Sunda alus. Juga dibarengi dengan nada yang lebih lemes dan ngajeni. Praktik ini sebenarnya sama dengan bahasa sehari-hari warga Banyumas atau sebagian besar warga Cilacap. Mereka tidak hanya bisa menuturkan bahasa ngapak yang kasar dan nyablak, tetapi juga bisa menuturkan bahasa Jawa alus bahkan krama inggil,<\/span><\/p>\n<h2><b>Asimilasi Jawa-Sunda di Cilacap<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga Cimanggu, Majenang, Karangpucung, serta daerah-daerah penutur Sunda di Brebes dan Cilacap ini adalah wujud dari asimilasi budaya Sunda-Jawa yang saling memengaruhi dan menciptakan identitas baru yang merupakan fusi dari keduanya. Jadi\u2013menjawab pertanyaan saya di paragraf pertama, mereka adalah penduduk Jawa di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat yang melestarikan eksistensi suku Jawa dan Sunda sekaligus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih dari itu, sejarah kolonial yang melekat pada diri mereka bukanlah satu-satunya sisi historis yang bisa dikupas. Konon, persebaran budaya dan kehidupan sosio-antropologi masyarakat Cimanggu dan Majenang ini masih ada kaitannya dengan histori Kerajaan Galuh yang melegenda itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya saya tidak ingin membiarkan desas-desus ini bergumul di pikiran saya sendiri. Jadi semoga saja, saya dapat melanjutkan pembahasannya di tulisan yang lain. Saya yakin, kalau hal ini ditelusuri secara lebih mendalam akan menjadi buah kajian yang menarik dalam diskursus kajian sejarah, linguistik dan kekayaan budaya Indonesia, khususnya babagan Jasun alias Jawa-Sunda.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Fajar<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cilacap-barat-bikin-bingung-warganya-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Keunikan Cilacap Barat yang Bikin Bingung Warganya Sendiri karena Masuk Wilayah Ngapak, tapi Dianggap Sunda Juga Bisa<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sunda, tapi Jawa.<\/p>\n","protected":false},"author":2680,"featured_media":276335,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2855,20886,24357],"class_list":["post-286544","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-cilacap","tag-cimanggu","tag-majenang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/286544","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2680"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=286544"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/286544\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/276335"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=286544"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=286544"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=286544"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}