{"id":285926,"date":"2024-07-04T15:41:36","date_gmt":"2024-07-04T08:41:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=285926"},"modified":"2024-07-04T18:52:35","modified_gmt":"2024-07-04T11:52:35","slug":"sisi-gelap-hidup-di-pedesaan-kabupaten-kediri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-hidup-di-pedesaan-kabupaten-kediri\/","title":{"rendered":"Sisi Gelap Hidup di Pedesaan Kabupaten Kediri: Suasananya Membosankan, Tiap Hari Jadi Bahan Gunjingan Tetangga, Plus Penuh Jamet!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin ini akan jadi unpopular opinion atau hal yang tidak mengenakkan untuk didengar, tapi jujur saja, hidup di desa, apalagi di Kediri sebenarnya nggak enak-enak amat. Walaupun lahir dan lama dibesarkan di Kabupaten Kediri, tidak lantas membuat kami menjadikannya sebagai kampung halaman ternyaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bentar, kalian jangan ngamuk dulu. Saya tahu, Kediri adalah salah satu dari banyak kota kecil yang banyak diimpi-impikan sebagian orang untuk tempat tinggal di masa tua. Tapi, kota ini sepertinya belum terlalu cocok untuk kami yang terbiasa hustle culture.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dan doi beberapa waktu terakhir ini sering ngobrol betapa boringnya kami selama di Kediri, meski baru beberapa hari di rumah. Sebelumnya doi pindah dari Jogja, sedangkan saya baru menyelesaikan pekerjaan setelah 2 tahun domisili di Kota Malang. Kehidupan pedesaan Kediri, jadi hal yang begitu mengagetkan buat kami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang kami rasakan setidaknya seperti ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kediri, \u201cneraka\u201d bagi introvert<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabupaten Kediri memang terkenal dengan orang-orangnya yang ramah. Namun kadang kala itu adalah problem bagi beberapa orang introvert, terlebih kaum anti-sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para kaum yang mudah kehabisan energi sosial sering tak tahan kalau harus lama-lama hidup di desa. Pasalnya semua orang saling mengenal, hingga tak jarang selalu menganggap siapapun sebagai saudara sendiri. Kami jadi memiliki tugas tambahan seperti basa-basi, meladeni percakapan dengan orang sekitar walaupun tidak punya kepentingan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKan tinggal diabaikan saja, kenapa ribet?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Well&#8230;.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak ada privasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sisi gelap hidup di pedesaan Kabupaten Kediri selanjutnya adalah tidak ada batasan karena hampr semua orang dianggap seperti sedulur sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah suatu hari saya sedang sendirian di rumah mengerjakan tugas di depan laptop. Tiba-tiba terdengar suara orang jalan kaki dan masuk dari pintu sebelah yang tembusannya itu ke dapur rumah. Kadung sudah deg-degan dan siap-siap bawa gunting, ternyata dia adalah tetangga yang kalau menemui bapak langsung nyelonong begitu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah baru tau kalau di situ ada saya, orang tersebut baru manggil-manggil dan minta permisi. Saya saat itu cuman bisa heran, dan membayangkan, misal tidur siang gitu pasti keganggu orang nyelonong.<\/span><\/p>\n<h2><b>Harus siap jadi bahan gosip tetangga<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun Kediri punya image sebagai kota kecil yang aman dan nyaman, tapi itu tidak relevan bagi saya.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Bapak saya adalah orang yang bisa dibilang cukup berpengaruh di lingkungan RT. Namun itu tidak lantas membuat saya lolos jadi bahan gosip tetangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada saja yang selalu dibicarakan. Mulai dari cara berpakaian, sering atau tidak seringnya keluar, hingga cara berjalan pun dikomentari. Tak hanya saya, orang lain pun kena, bahkan yang tidak menyenggol mereka sama sekali. Ada salah satu tetangga saya yang pendiam dan mohon maaf giginya kurang rapi saja bisa jadi bahan jokes mereka. Kok iso lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking seringnya mereka menggibah, saya sampai hafal jadwal mereka. Kalau di sini jadwal ibu-ibu gibah ada beberapa sesi. Pertama adalah sekitar jam 8 pagi ketika urusan dapur dan memasak sudah selesai. Mereka auto ngumpul di teras salah satu rumah tetangga yang bisa dibilang itu basecamp. Sesi kedua biasanya dimulai jam 5 sore kalau mereka sudah mandi, wangi, dan siap untuk pergi salat magrib ke musala.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-hidup-di-pedesaan-kabupaten-kediri\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Mau ngopi di mana?<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Bingung mau ngopi di mana di Kediri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keluhan yang tidak jarang kami rasakan setelah pindah ke Kediri adalah susah nyari tempat ngopi. Pilihannya sedikit dan konsep tempatnya itu-itu saja di daerah kabupaten atau kota. Kalau nggak lesehan ya coffee shop tema kerikil dan unfinished.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi pulangnya harus berpapasan dengan kaum jamet yang suka balap liar. Jangankan kalau cuma balapan, mereka suka sorak-sorak gak jelas tiap orang lain lewat yang tentu saja bikin kami sakit telinga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak cuma itu, culture shock yang kami rasakan di pedesaan kabupaten adalah setelah maghrib sudah sepi banget. Bahkan nyaris sudah tak ada lagi orang berseliweran atau sekadar bertamu di rumah orang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ugal-ugalan adalah \u201cbudaya\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu lagi sisi gelap Kabupaten Kediri yang bikin kami nggak nyaman adalah banyak <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/jendela-dunia\/plat-ag-daerah-mana-ini-info-terbaru-2023-20DDak8elvv\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kendaraan plat AG<\/a> yang berkendara dengan ugal-ugalan. Tak jarang pas di jalan sering menemui orang-orang yang nggak disiplin banget dalam berlalu lintas. Mulai dari nerobos lampu merah, hingga menyalip kendaraan secara brutal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun belum sepenuhnya berdamai dengan sisi gelap hidup di pedesaan Kabupaten Kediri itu, kami tetap memilih Kediri sebagai tempat pulang. Yah, meski mengisi hari-hari memaksa diri berdamai dengan perasaan bosan, saya lumayan yakin, seiring berjalannya waktu, kami menjadi nyaman. Semoga.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Nurlailatul Hidayah<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kediri-kota-romantis-tapi-tragis-di-jawa-timur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kediri, Kota di Jawa Timur yang Menyimpan Kisah Cinta Paling Tragis dan Abadi dalam Sejarah<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kediri keras, Lur!<\/p>\n","protected":false},"author":1882,"featured_media":280673,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[457,20486,6470,59,24965],"class_list":["post-285926","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-introvert","tag-kabupaten-kediri","tag-kediri","tag-kehidupan","tag-pedesaan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/285926","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1882"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=285926"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/285926\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/280673"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=285926"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=285926"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=285926"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}