{"id":285862,"date":"2024-07-01T15:41:30","date_gmt":"2024-07-01T08:41:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=285862"},"modified":"2024-07-01T15:41:30","modified_gmt":"2024-07-01T08:41:30","slug":"jurusan-studi-agama-agama-jurusan-bikin-saya-pusing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-studi-agama-agama-jurusan-bikin-saya-pusing\/","title":{"rendered":"Jurusan Studi Agama-agama, Jurusan yang Sukses Bikin Saya Pusing"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan Anda harus memahami bukan satu, bukan dua, tapi banyak sekali agama dari seluruh dunia. Dari yang mainstream seperti Kristen, Islam, Hindu, dan Buddha, hingga agama-agama yang mungkin belum pernah Anda dengar sebelumnya seperti Zoroastrianisme atau Jainisme. Setiap agama memiliki doktrin, sejarah, dan ritual yang unik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah yang saya pelajari di jurusan Studi Agama-agama. Terlihat bikin pusing? Oh, tentu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Otak saya harus melompat dari satu konsep ke konsep lainnya tanpa henti. Rasanya seperti mencoba menonton semua episode dari semua serial TV sekaligus dalam satu waktu. Jika tidak hati-hati, kepala saya bisa jadi overheat dan meledak. Dan itu masih terlihat sepele.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mempelajari agama, nyatanya, serumit itu. saya tak hanya belajar ajarannya saja. Tidak. Saya juga harus belajar masalah bahasa. Tidak cukup dengan memahami terminologi agama dalam bahasa Indonesia, saya harus mempelajari istilah-istilah dari bahasa Arab, Ibrani, Sanskerta, Pali, dan masih banyak lagi. Terkadang, saya merasa seperti seorang <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Poliglotisme\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">poliglot<\/a> yang gagal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada yang bertanya kenapa perlu belajar bahasa sebanyak itu, alasannya sederhana. Memahami bahasa ini penting karena banyak teks suci ditulis dalam bahasa aslinya, dan terjemahan tidak selalu bisa menangkap makna yang sebenarnya. Seringkali, saya mendapati diri saya lebih banyak berusaha memahami kata-kata daripada memahami maknanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang saya juga berusaha memahami kenapa saya ambil jurusan Studi Agama-agama&#8230;<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tiap minggu pindah tempat ibadah<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tugas-tugas akademik juga menjadi tantangan tersendiri. Esai, presentasi, dan ujian tentang topik-topik yang bahkan sulit untuk diucapkan namanya adalah makanan sehari-hari. Kadang, saya merasa seperti seorang jurnalis yang ditugaskan untuk menulis laporan investigasi mendalam tentang sesuatu yang tidak mungkin dipahami sepenuhnya. Setiap hari saya menghadapi teks-teks yang lebih tebal dari novel epik dan artikel-artikel jurnal yang dipenuhi jargon akademis. Rasanya seperti berusaha menyelesaikan teka-teki silang yang dibuat oleh seseorang dengan selera humor yang sadis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan lupakan ekskursi lapangan. Sebagai mahasiswa studi Agama, saya diharapkan mengunjungi tempat-tempat ibadah dari berbagai agama. Setiap minggu, saya berpindah dari masjid ke gereja, dari pura ke vihara, dan seterusnya. Meskipun ini menarik, kadang rasanya seperti mengikuti tur wisata religi yang tidak ada habisnya. Setiap tempat memiliki aturan dan etiket yang berbeda. Sering kali, saya kebingungan harus bersikap bagaimana, dan takut melakukan kesalahan yang mungkin dianggap tidak sopan atau bahkan menghina.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Interaksi dengan rekan-rekan mahasiswa dan dosen juga tidak kalah menarik. Di jurusan ini, saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan keyakinan. Diskusi di kelas sering kali menjadi sangat intens dan penuh semangat, dengan argumen yang kadang-kadang seperti debat politik yang panas. Menghadapi berbagai pandangan yang sangat beragam memaksa saya untuk berpikir lebih dalam dan terbuka, meskipun kadang membuat kepala saya seperti mau pecah karena harus memproses begitu banyak informasi dan sudut pandang.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Jurusan Studi Agama-agama bikin pusing<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, saya harus menghadapi dilema pribadi tentang keyakinan saya sendiri. Mempelajari begitu banyak agama sering kali membuat saya mempertanyakan dan merenungkan keyakinan saya sendiri. Ini adalah pengalaman yang sangat introspektif dan kadang membingungkan. Rasanya seperti berusaha menemukan jalan di tengah hutan yang sangat lebat, dengan begitu banyak jalur yang mungkin, tapi tidak ada peta yang pasti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, itulah mengapa berkuliah di jurusan Studi Agama-agama membuat saya pusing. Ini adalah perpaduan antara kompleksitas akademis, tantangan bahasa, keragaman perspektif, dan introspeksi pribadi yang konstan. Meskipun demikian, pengalaman ini juga sangat memperkaya dan membuka wawasan saya tentang dunia yang penuh dengan keragaman ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap hari adalah petualangan baru dalam memahami sisi lain dari kemanusiaan, dan meskipun kepala saya sering terasa penuh, saya tahu bahwa ini adalah bagian dari proses belajar yang tak ternilai harganya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi yo mumeeet.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Ijlal Sasakki Junaidi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mustahil-meromantisisasi-lamongan-karena-tercipta-untuk-dicintai-apa-adanya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Meromantisisasi Lamongan Adalah Hal yang Mustahil, Kota Ini Tercipta untuk Dicintai Apa Adanya<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yo mumet, cah.<\/p>\n","protected":false},"author":2339,"featured_media":286161,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[9726,18372,3952,24907,5988,8041,24908],"class_list":["post-285862","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-buddha","tag-hindu","tag-islam","tag-jurusan-studi-agama-agama","tag-katolik","tag-kristen","tag-zoroastrianisme"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/285862","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2339"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=285862"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/285862\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/286161"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=285862"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=285862"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=285862"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}