{"id":285854,"date":"2024-06-29T08:01:05","date_gmt":"2024-06-29T01:01:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=285854"},"modified":"2024-06-29T06:39:02","modified_gmt":"2024-06-28T23:39:02","slug":"desa-melikan-klaten-sentra-penghasil-gerabah-putaran-miring-pertama-di-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/desa-melikan-klaten-sentra-penghasil-gerabah-putaran-miring-pertama-di-dunia\/","title":{"rendered":"Desa Melikan Klaten, Sentra Penghasil Gerabah Putaran Miring Pertama di Dunia"},"content":{"rendered":"<p><em>Tah<\/em><span style=\"font-weight: 400;\"><em>u nggak sih di Klaten ada Desa Melikan yang terkenal dengan kerajinan gerabahnya. Uniknya, teknik pembuatan gerabah di sini beda dari yang lain!<\/em>\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbicara tentang potensi desa wisata di Kabupaten Klaten memang tidak ada habisnya. Mulai dari keindahan alamnya, keunikan seninya, hingga keberagaman budayanya yang selalu mampu menarik minat para <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jebakan-yang-perlu-dihindari-wisatawan-saat-liburan-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wisatawan luar<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu desa yang terkenal memiliki potensi luar biasa di bidang kerajinan gerabah adalah Desa Melikan di Kecamatan Wedi, Klaten. Desa ini berbatasan langsung dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/histori\/menengok-makam-sunan-bayat-di-selatan-klaten-konon-azan-terdengar-hingga-demak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kecamatan Bayat<\/a>, sehingga banyak orang mengenal kerajinan tersebut sebagai \u201cgerabah Bayat\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak dahulu kala, daerah Bayat dan sekitarnya memang sudah tersohor sebagai sentra kerajinan gerabah tradisional. Produksi gerabah yang sudah berlangsung selama ratusan tahun lamanya itu pun terus dilestarikan secara turun-temurun hingga sekarang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi ada satu keunikan dari kerajinan gerabah di Desa Melikan yang tidak dimiliki oleh kerajinan gerabah di daerah lain. Keunikan ini terletak pada teknik pembuatannya yang menggunakan papan putaran (perbot) miring sehingga disebut sebagai gerabah putaran miring. Teknik putaran miring dilakukan oleh perajin dengan cara duduk di sebuah dingklik atau bangku pendek dengan posisi kaki lurus menyerong dan salah satu (kakinya) mengayuh pedal untuk memutar perbot.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keberhasilan para warga dalam menjaga dan melestarikan kerajinan gerabah di desa ini sukses menjadikan Desa Melikan Klaten sebagai desa wisata pada tahun 2020. Dan dua tahun setelahnya, yaitu 2022, \u201cgerabah putaran miring\u201d resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kemendikbudristek.<\/span><\/p>\n<h2><b>Asal-usul gerabah putaran miring Desa Melikan Klaten<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut cerita getok tular masyarakat setempat, kerajinan gerabah putaran miring sudah ada sejak kedatangan Sang Pangeran Mangkubumi, yaitu sekitar 600 tahun lalu. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan sejarah berupa Gentong Sinaga yang pada waktu itu digunakan sebagai tempat berwudu atau padasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun sentra produksi gerabah ini berada di Dusun Pagerjurang, Desa Melikan, Klaten, namun orang-orang lebih familier menyebutnya sebagai \u201cgerabah Bayat\u201d. Konon katanya, hal tersebut berkaitan secara historis dengan Sunan Pandanaran yang pada waktu itu tengah menyebarkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-horor-indonesia-overdosis-eksploitasi-agama-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">agama Islam<\/a> di daerah Bayat dan mewariskan teknik putaran miring ini kepada masyarakat Desa Melikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulanya, teknik paling umum pembuatan gerabah di daerah tersebut adalah menggunakan perbot tegak. Teknik ini mengharuskan perajin duduk dengan posisi kedua kaki merentang atau terbuka lebar agar bisa mengoperasikan perbot tersebut. Padahal, mayoritas perajin gerabah di Desa Melikan adalah perempuan (ibu-ibu) yang di masa itu masih berkebaya dan menggunakan kain jarik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat kondisi tersebut, Sunan Pandanaran pun mewariskan teknik putaran miring untuk memudahkan perajin perempuan bekerja. Selain ditujukan untuk menjaga nilai-nilai kesopanan dengan tidak membuka kaki terlalu lebar seperti laki-laki, teknik ini juga memiliki keunggulan karena tidak memakan banyak tenaga dalam penggunaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga saat ini, ada dua macam perbot yang digunakan oleh para perajin di Desa Melikan Klaten, yaitu perbot tegak dan perbot miring. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Perbot tegak digunakan untuk menghasilkan berbagai macam gerabah dalam ukuran besar, sedangkan perbot miring dikhususkan untuk gerabah-gerabah berukuran kecil dan tipis seperti piring, gelas, serta cobek.<\/span><\/p>\n<h2><b>Proses pembuatan gerabah putaran miring<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain berfokus di perbot yang menggunakan teknik putaran miring, proses pembuatan gerabah di Desa Melikan Klaten hampir sama seperti tahapan pembuatan gerabah pada umumnya. Pertama, perajin mempersiapkan bahan baku gerabah terlebih dahulu. Bahan yang disiapkan antara lain tanah liat basah (lempung) yang terdiri dari campuran tanah hitam, air, dan pasir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga bahan tersebut lalu digiling menggunakan mesin molen agar bisa menghasilkan tanah plastis dalam jumlah banyak. Adonan lempung inilah yang kemudian siap untuk dibentuk dengan berbagai teknik, baik teknik putaran tegak, teknik putaran miring, maupun teknik cetak menggunakan barang bekas seperti kemasan sampo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Khusus teknik putaran miring, lempung diletakkan di atas perbot miring yang bahan dasarnya papannya terbuat dari kayu jati atau mahoni. Perbot ini kemudian dilengkapi sedemikian rupa dengan pedal, pegas dan tali hingga bisa beroperasi menjadi papan putar pembuat gerabah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah lempung selesai dibentuk dan dipoles, perajin lalu melumurinya dengan tanah merah sebagai pewarna alami. Proses finishing ini dilakukan dengan mengeringkan lempung yang sudah dipoles, dihaluskan, kemudian dikeringkan kembali hingga mencapai hasil akhir yang diinginkan. Setelah seluruh tahapan finishing selesai dan gerabah sudah dalam kondisi kering maksimal, perajin lalu membakarnya di suhu 600-700 derajat celcius selama kurang lebih 10-12 jam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembakaran ini merupakan tahap terakhir yang membuat gerabah kuat dan permanen sebelum dijual ke pengepul maupun pembeli. Selain penggunaan perbot miring, keunikan gerabah di Desa Melikan Klaten juga terletak pada tampilannya yang berwarna cokelat kemerahan setelah melalui proses pembakaran.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Gerabah khas Desa Melikan Klaten semakin dikenal oleh masyarakat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menariknya, keunikan gerabah khas Desa Melikan ini berhasil mengundang minat peneliti mancanegara. Di tahun 1992, Chitaru Kawasaki, seorang guru besar dari Kyoto Seika University datang jauh-jauh dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/jepang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jepang<\/a> untuk meneliti gerabah putaran miring.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dedikasi Chitaru pada kerajinan gerabah dan masyarakat lokal pun ia wujudkan dengan membuat Laboratorium Gerabah Putaran Miring agar bisa digunakan sebagai pusat belajar mengenai gerabah putaran miring khas Desa Melikan Klaten. Selain membuat laboratorium, Chitaru juga menginisiasi berdirinya SMK jurusan kerajinan pertama di Indonesia bersama Titian Foundation dan Qatar Foundation.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pelestarian gerabah putaran miring di Desa Melikan ini tentunya tak luput dari dukungan pemerintah. Berbagai macam strategi promosi yang dilakukan berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan lokal maupun mancanegara. Berkat kemajuan teknologi, distribusi pemasaran gerabah dari Desa Melikan telah berhasil menembus pasar online dan diekspor ke berbagai negara lain.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditambah lagi dengan adanya website resmi Desa Melikan, segala informasi mengenai desa ini bisa semakin mudah diakses. Mulai dari profil, sejarah, batas wilayah hingga visi dan misi Desa Melikan tertulis dengan jelas di portal Dilan (Desa Inovatif Lancar Administrasi) oleh Kominfo Klaten. Dilansir dari <a href=\"https:\/\/kel-klaten.klatentengah.klaten.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">laman resmi Pemkab Klaten<\/a>, portal website ini ditujukan untuk mendukung kelancaran arus informasi dan pelayanan publik di masyarakat desa. Menarik sekali, bukan?<\/span><\/p>\n<h2><strong>Jaga kelestarian budaya kita<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, tunggu apa lagi! Mari kita rencanakan kunjungan wisata ke Desa Melikan Klaten bersama keluarga atau teman-teman terdekat. Dengan berwisata ke Desa Melikan, kita tidak hanya membantu perekonomian masyarakat daerah, tetapi juga berkontribusi dalam memajukan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengusaha-umkm-kini-makin-mudah-go-national-dengan-layanan-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMKM<\/a> Klaten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga negara yang baik, kita perlu mengambil peran untuk menjaga kelestarian budaya negara kita. Warisan budaya Indonesia bukan hanya tanggung jawab masyarakat lokal dan pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Saya, kamu, kita semua wajib turut serta dalam menjaga, mendukung dan memastikan industri kerajinan ini terus berkembang secara berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Farahiah Almas Madarina<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/desa-kemudo-klaten-istimewa-karena-penuh-prestasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Klaten Nggak Melulu Candi Prambanan dan Umbul Ponggok, Ada Desa Kemudo yang Tak Kalah Istimewa!<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa sangka kalau di Klaten ternyata ada Desa Melikan yang menjadi sentra penghasil gerabah putaran miring pertama di dunia, lho.<\/p>\n","protected":false},"author":1683,"featured_media":285859,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[24859,24860,24861,6388,8095],"class_list":["post-285854","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-desa-melikan-klaten","tag-gerabah","tag-gerabah-putaran-miring","tag-kabupaten-klaten","tag-klaten"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/285854","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1683"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=285854"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/285854\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/285859"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=285854"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=285854"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=285854"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}