{"id":285843,"date":"2024-06-29T14:01:08","date_gmt":"2024-06-29T07:01:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=285843"},"modified":"2024-06-29T14:01:08","modified_gmt":"2024-06-29T07:01:08","slug":"pemuda-pekalongan-yang-nggak-merantau-dianggap-cupu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pemuda-pekalongan-yang-nggak-merantau-dianggap-cupu\/","title":{"rendered":"Derita Pemuda Pekalongan yang Nggak Merantau, Dikira Cupu hingga Nggak Bisa Pamer Gaji"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pemuda asli Pekalongan yang tidak merantau. Keterangan &#8220;tidak merantau&#8221; perlu saya tekankan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">karena sebagian besar kawan saya merantau ke kota besar. Saya menyadari kalau tempat ini memang bukan tempat mencari nafkah yang tepat. UMR pekalongan tergolong rendah dibanding kota-kota besar lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, saya secara sadar tetap memilih menetap di kota ini. Saya pikir nggak ada salahnya untuk tetap tinggal dan bekerja di Kota Batik\u00a0 kesayangan ini. Nayatanya, pilihan yang saya ternyata punya banyak konsekuensi menyebalkan. Benar sekali, ketika kawan-kawan saya pulang kampung atau mudik, saya merasa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/ketika-status-anak-kuliahan-membuatmu-jadi-alien-di-desa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">teralienasi.<\/a> Lebih berat dari itu, keseharian saya jadi berubah total, tidak ada teman main ataupun ngobrol.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Hari-hari di Pekalongan jadi hampa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keseharian saya di Pekalongan jadi terasa hampa setelah teman-teman saya merantau. Sebelumnya, main bersama teman adalah hal yang sangat mudah. Sekarang boro-boro main bersama, untuk sekadar bertemu saja sulit, waktunya nggak pernah cocok.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, saya merasa hampa karena jadi nggak punya teman ngobrol.\u00a0 Kalian tahu sendiri kan, semakin bertambah usia, semakin sulit mencari teman. Begitu pula mencari teman ngobrol yang cocok.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Terlihat cupu karena nggak merantau<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebanyakan teman saya yang merantau menganggap anak muda yang tidak merantau itu cupu dan kurang keberanian. Hal itu memang tidak diungkapkan langsung di hadapan saya, tapi saya mengetahuinya dari unggahan salah seorang teman di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/netizen-percaya-medsos-x-akan-digantikan-ela-elo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">media sosial X<\/a>. Intinya, dia menganggap orang dewasa itu mesti mencoba kehidupan sendiri, kalau bisa pergi jauh dari rumah. Dengan cara seperti, seseorang bisa mengerti artinya rindu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat status itu saya jadi bertanya-tanya. Artinya, saya yang tetap tinggal di Pekalongan ini belum dewasa dan nggak mengerti artinya rindu ya? Padahal memutuskan tinggal di rumah itu nggak selalu mudah lho. Selain tidak bisa menghindari tuntutan orang tua, saya juga harus aktif di kampung. Belum lagi menghadapi mulut-mulut nyinyir tetangga dan teman-teman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka yang merantau mungkin tidak akan menghadapi hal-hal tadi. Namun, tentu saja, jika hal ini disampaikan, saya akan kelihatan makin cupu di hadapan sidang obrolan yang mayoritas anak rantau. Nasib.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak bisa pamer kota lain dan gaji<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman-teman saya yang merantau kerap memamerkan kota tempatnya tinggal yang sekarang. Lengkap dengan destinasi wisata dan kuliner khas yang ada di sana. Sementara saya yang nggak pernah berpindah barang sejengkal dari Pekalongan hanya bisa membisu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saya terkadang iri dengan teman yang merantau dan punya banyak stok foto di tempat baru. Sementara saya, lagi-lagi mentok di Pantai Pasir Kencana, sangat buruk untuk ketahanan konten di medsos.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain nggak bisa menyombongkan tempat-tempat baru, saya nggak bisa menyombongkan<a href=\"https:\/\/money.kompas.com\/read\/2024\/02\/06\/133722426\/gaji-umr-pekalongan-2024-kota-dan-kabupaten-pekalongan#:~:text=Untuk%20UMR%20Kabupaten%20Pekalongan%20ditetapkan,persentase%20kenaikannya%203%2C9%20persen.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> UMR Pekalongan<\/a>. Tahu sendiri, UMR kota ini berada jauh di bawah kota-kota besar tempat kawan-kawan saya merantau. Mungkin saya baru bisa menyombongkan gaji dihadapan orang-orang yang merantau ke Gunungkidul. Tapi, orang mana yang mau merantau ke sana coba?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Sindrom menjelek-jelekan Pekalongan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sembari teman-teman saya pamer tempat dan gaji yang baru, biasanya mereka akan turut membanding-bandingkannya dengan Pekalongan. Ujungnya-ujungnya mereka menjelek-jelekan tempat saya mencari nafkah ini. Bukan hanya sekali atau dua kali, hampir setiap teman saya yang merantau setidaknya akan sekali menjelek-jelekan tempat asalnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya suka heran, membandingkan dan menjelek-jelekan tempat asal ini sepertinya sudah menjadi sindrom yang banyak menjangkit para perantau ya. Masalahnya, mereka terkadang membandingkan hal-hal yang nggak setara. Misal, seorang teman yang baru pulang menempuh pendidikan di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/perjuangan-lulusan-jogja-cari-kerja-di-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta<\/a> pernah membandingkan Pekalongan dengan Jakarta. Bahkan, bukan membandingkan, tapi juga sedikit banyak menjelekkan kota ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya hanya bisa membatin, pekalongan kok diadu sama Jakarta, ya jelas beda level! Dilihat dari sudut manapun, Pekalongan tidak bisa disamakan dengan Jakarta. Eh, sebenarnya ada satu hal yang membuat Pekalongan dan Jakarta Selevel: penanganan banjir yang tak pernah beres.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa hal yang saya rasakan ketika memutuskan tidak merantau dari Pekalongan. Saya menyadari pilihan ini membawa konsekuensi, tapi saya nggak menyangka konsekuensinya semenyebalkan ini. Saya pikir-pikir, pilihan untuk tidak pindah dari Pekalongan akhirnya sama beratnya dengan mereka yang merantau ke kota besar. Setidaknya secara psikis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Arsyad<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/purwokerto-kalah-nyaman-daripada-3-kecamatan-di-banyumas-ini\/\"><b>Baturraden, Patikraja, Kedungbanteng: Kecamatan di Banyumas yang Lebih Nyaman Dibanding Purwokerto yang Makin Sesak<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemuda Pekalongan yang nggak merantau itu menderita. Dianggap cupu dan harus sabar melihat para pernatau pamer dan mengejek tempat asalnya.  <\/p>\n","protected":false},"author":448,"featured_media":285912,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[24870,4576,24869,5807],"class_list":["post-285843","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-cupu","tag-pekalongan","tag-pemuda-pekalongan","tag-perantau"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/285843","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/448"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=285843"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/285843\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/285912"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=285843"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=285843"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=285843"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}