{"id":28510,"date":"2020-03-02T10:18:55","date_gmt":"2020-03-02T03:18:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=28510"},"modified":"2020-03-02T10:19:23","modified_gmt":"2020-03-02T03:19:23","slug":"habis-telat-terbit-buru-buru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/habis-telat-terbit-buru-buru\/","title":{"rendered":"Habis Telat Terbit Buru-Buru dan Bunyi Klakson di Lampu Merah yang Masih 5 Detik"},"content":{"rendered":"<p>Budaya terburu-buru sangat berkaitan dengan budaya telat. Karena <a href=\"https:\/\/waitbutwhy.com\/2015\/07\/why-im-always-late.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">buru-buru bersumber dari telat itu sendiri<\/a>. Makanya nggak heran kalau banyak orang suka main klakson ketika lampu merah hitungannya bahkan masih 5 detik lagi. Yang kayak gitu tuh ya akan tetap mengakar jika kita nggak memutuskan rantai kebodohan itu.<\/p>\n<p>Buru-buru juga menjadi faktor yang menyebabkan seringnya kasus kecelakaan yang terjadi di Indonesia, selain mengantuk tentu saja. Mengantuk mungkin terjadi pada kalangan pengendara truk, tapi terburu-buru biasanya terjadi ke semua kalangan. Dan ini semua, saya pikir karena payahnya manajemen waktu orang-orang. Kalau ini sih saya pikir sudah bukan rahasia lagi. Saya yakin kalian juga menyadarinya sendiri.<\/p>\n<p>Kasus seperti itu juga terjadi di kalangan pelajar kayak saya, apalagi kalangan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-jarang-diketahui-dari-anak-stm\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">pelajar STM<\/a>\u2014Sekolah Tidak Mikir, eh bercanda hehe&#8230; STM (Sekolah Teknik Menengah). Teman-teman saya itu, kalau sampai sekolah gak ada yang jam 6.00, tapi jam 6.30an padahal jam masuknya 6.45. Saya yang datang lebih pagi malah dihujat karena kepagian. Tapi yah mau gimana lagi, kalau gak berangkat jam 5.30an, bisa-bisa dibilang \u201cgausah sekolah\u201d sama emak\u2014karena jarak antara sekolah dan rumah itu 15km.<\/p>\n<p>Budaya buru-buru ini menjadi keseharian kehidupan masyarakat Jakarta. Saya punya teman kesenian di Jakarta yang pernah bercerita tentang kerasnya metropolitan apalagi saat macet, byuhhh&#8230; kita harus ancang-ancang, jika tempat tujuan jauh dan rundown acaranya itu malam\u2014sekitar setelah maghrib\u2014maka kita harus berangkat dari rumah itu sekitar jam 1 siang, dan yang lebih parah lagi adalah ketika berada di perempatan yang banyak lampu lalu lintasnya, warna kuning bukan lagi bermakna hati-hati, tapi bermakna \u201cgas cepat woi orang kurang pinter\u201d.<\/p>\n<p>Sama juga dengan cerita mas Agus Mulyadi, bahwasanya di Ngayogyakarto yang menurut saya, tempat itu ternyata jauh sekali dengan filosofi jawa yang berbunyi \u201cAlon-alon asal kelakon\u201d dan perilaku jawa yang bersifat hati-hati. Di Yogya ternyata saat lampu merah masih 5 detik pun diklakson agar lebih cepat, dan bahkan kata mas Agus Mulyadi \u201cItu adalah naluri yang sudah tertanam di otak\u201d.<\/p>\n<p>Beberapa contoh tadi adalah sebuah cerminan dari masyarakat terburu-buru dan tanda tingkat interaksi sosial yang rendah sekali, yah maklum juga namanya kota sibuk, pagi dan petang sama ramenya. Kenapa saya bilang tanda tingkat interaksi sosial yang rendah sekali? Karena di saat itu juga kita bisa menandai bahwa orang-orang sudah tidak tahu arti kata memaklumi, dan lebih mengerti \u201csiapa cepat, dia dapat\u201d atau \u201cmakan atau dimakan\u201d. Serta perilaku metropolitan itu terdampak juga dalam interaksi antar tetangga, karena kita dapat lihat saja dari semboyan masyarakat individualis yang suka sekali berkarir \u201cberangkat pagi, pulang petang\u201d. Begitu saja bisa mewakili kan?<\/p>\n<p>Eh Kenapa saya bicara tentang sosiologi? Eh itu tadi saya beneran bicara sosiologi kan? Atau sebenarnya antropologi?<\/p>\n<p>Masyarakat buru-buru ini seakan terpenjara oleh waktu yang kian berjalan terus-menerus, dan kita seharusnya membuang jauh-jauh penjara waktu, karena waktu itu berjalan secara seadanya, bukan berjalan mengejar kalian. Jika saja kalian dipenjara atau dikejar-kejar waktu maka tingkat stres kalian akan bertambah lebih berat dan bisa menjadi depresi<\/p>\n<p>Maka saran saya, pakai saja rumus \u201calon-alon asal kelakon\u201d dan \u201clebih baik berangkat mengawali daripada terlambat\u201d, yah walaupun itu tidak akan 100% bekerja di masyarakat, karena kita juga harus lihat-lihat keadaan kota juga. Kalau di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hari-santri-nasional-nostalgia-santri-dan-pondok-pesantren\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jombang<\/a> sendiri, walaupun mengendarai kendaraan dengan santuy pasti gak terlambat.<\/p>\n<p>Jangan pernah terburu-buru ya guys, daripada mati ditengah jalan atau dimarahin sama orang, keep slow dude, remember your family.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bunyi-klakson-ibukota-yang-bikin-sakit-telinga\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bunyi Klakson Ibukota yang Bikin Sakit Telinga<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/alfian-widi-santoso\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Alfian Widi Santoso<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Buru-buru juga jadi faktor yang menyebabkan seringnya kasus kecelakaan yang terjadi di Indonesia. Biar nggak gitu, pakai rumus \u201calon-alon asal kelakon\u201d dong.<\/p>\n","protected":false},"author":567,"featured_media":28547,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4146,911,338],"class_list":["post-28510","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-buru-buru","tag-kemacetan","tag-lampu-merah"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28510","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/567"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28510"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28510\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/28547"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28510"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28510"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28510"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}