{"id":284728,"date":"2024-06-29T10:44:02","date_gmt":"2024-06-29T03:44:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=284728"},"modified":"2024-06-29T10:44:20","modified_gmt":"2024-06-29T03:44:20","slug":"sate-kere-solo-makanan-orang-miskin-yang-kini-dicari-wisatawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sate-kere-solo-makanan-orang-miskin-yang-kini-dicari-wisatawan\/","title":{"rendered":"Sate Kere Solo, Makanan Orang Miskin yang Kini Digandrungi Semua Kalangan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak lengkap rasanya kalau mampir ke Solo, tapi nggak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebumen-miskin-kuliner-itu-tuduhan-sesat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mencicipi kuliner daerah<\/a> tersebut. Salah satu makanan yang wajib kalian coba adalah sate kere Solo. Awalnya, sate yang berbentuk kotak-kota ini adalah panganan kelas bawah, kini panganan ini digemari dan dicicipi berbagai kalangan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sate Kere Solo terbuat dari tempe gembus, itu lho tempe yang terbuat dari ampas tahu. Nggak heran kalau rasa sate kere mirip dengan tempe dan tahu. Pada masa penjajahan Belanda sate daging adalah makanan yang hanya bisa dicicipi oleh kalangan menengah ke atas. Itu mengapa orang-orang yang nggak mampu menciptakan altenatif panganan baru yakni sate kere.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Asal tahu saja, \u201ckere\u201d adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti miskin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini sate kere digemari oleh siapa saja, itu mengapa begitu mudah menemukan sate kere di sudut-sudut Solo. Paling mudah, kalian bisa menemukan di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/desa-ngerangan-klaten-cikal-bakal-angkringan-sesungguhnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">angkringan<\/a> atau hik Solo. Harganya sangat terjangkau, biasanya dipatok Rp2.000 saja. Rasanya akan berkali-kali lebih nikmat kalau mencicipi panganan ini bersama lontong dan sambal kacang yang gurih.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sate kere cocok untuk kalian yang ingin hidup sehat, tapi tetap ingin makan enak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sate kere cocok untuk kalian yang <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Veganisme\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">vegan<\/a> atau mulai mengurangi panganan berbahan dasar daging. Panganan ini juga cocok untuk kalian yang ingin mulai hidup sehat. Selain terbuat dari bahan nabati, sate ini jelas lebih sehat karena rendah lemak dan rendah kolesterol.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, kalian juga perlu hati-hati dan teliti ketika jajan sate kere Solo ya. Sebab, sate kere terkadang digunakan untuk menyebut sate-sate dari bahan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/sosial\/jangan-suuzon-dulu-ini-alasan-ilmiah-daging-kurbanmu-tidak-seenak-itu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jeroan sapi<\/a>. Konsepnya masih mirip sih, menggunakan bahan-bahan alternatif untuk membuat sate karena daging yang tidak terjangkau. Sate Kere yang terbuat dari jeroan sapi biasanya lebih lembek. Ini karena jeroan biasanya punya banyak lemak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah sate kere Solo yang semakin punya banyak penggemar saat ini. Panganan yang identik dengan kelompok kelas bawah ini menjelma menjadi panganan yang wajib dicicipi oleh wisatawan yang mampir ke Solo. Beberapa pedagang sate kere yang terkenal di Solo ada Sate Kere Yu Rebi, Mbak Tug, Mbah Yem, Bu Mujiyem, dan masih banyak lagi. Kalau enggan ke sana, kalian bisa kok menemukannya di hik dan warung makan yang tersebar di Solo. Rasanya sama-sama enak kok!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Wulan Maulina<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makanan-khas-dari-daerah-yang-rasanya-berubah-ketika-dijual-di-jakarta\/\"><b>6 Makanan Khas dari Daerah yang Rasanya Berubah ketika Dijual di Jakarta<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sate Kere Solo muncul karena orang-orang tidak mampu makan sate daging. Panganan itu terus bertahan hingga kini digemari berbagai kalangan. <\/p>\n","protected":false},"author":2312,"featured_media":285887,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[24868,2460,16231,24867,2284],"class_list":["post-284728","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-kuliner-solo","tag-sate","tag-sate-kere","tag-sate-kere-solo","tag-solo"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/284728","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2312"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=284728"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/284728\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/285887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=284728"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=284728"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=284728"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}