{"id":284710,"date":"2024-06-28T13:48:55","date_gmt":"2024-06-28T06:48:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=284710"},"modified":"2024-06-29T19:41:35","modified_gmt":"2024-06-29T12:41:35","slug":"gunungketur-jogja-kampung-di-tengah-kota-yang-bikin-bingung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gunungketur-jogja-kampung-di-tengah-kota-yang-bikin-bingung\/","title":{"rendered":"Gunungketur Jogja: Kampung di Tengah Kota yang Bikin Bingung dan Ternyata Nggak Ada Gunungnya"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Gunungketur adalah sebuah kampung di tengah Kota Jogja yang berpotensi bikin orang bingung. Gunung, tapi nggak ada gununnya. Pie jal?<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gunungkidul adalah salah satu kabupaten di DIY yang terletak di timur dan bertetangga dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-jalan-berbahaya-di-bantul-yang-nggak-disadari-banyak-pengendara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bantul<\/a>. Sebagaimana namanya, Gunungkidul memang berupa dataran yang lebih tinggi, yang merupakan rangkaian pegunungan karst.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ya cocok, namanya ada unsur gunung karena memang betul-betul ada gunung atau pegunungan. Soalnya ada satu tempat, atau lebih tepatnya kampung, yang ada di Jogja yang rada aneh dan bikin bingung. Pasalnya, di sana tidak ada gunung, tapi namanya pakai unsur \u201cgunung\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang tinggal atau sering lewat daerah Pakualaman, pasti cukup familiar dengan yang namanya Kampung Gunungketur. Bagi yang belum tahu, Gunungketur ini berada di Kecamatan Pakualaman dan dibelah oleh Jalan Sultan Agung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga Kota Jogja bagian utara, nama Gunungketur cukup menarik perhatian saya. Apakah di sini memang ada gunung? Tapi, setelah dilihat dan dikunjungi kok nggak ada gunungnya? Konturnya pun rata seperti Kota Jogja pada umumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking uniknya, karena bernama gunung tapi nggak ada gunungnya, sama orang tua Jogja, nama kampung ini kadang jadi bahan guyonan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGunung apa yang nggak capek didaki? Ya Gunungketur.\u201d Walau itu adalah jokes bapak-bapak yang sama sekali nggak lucu dan cukup sulit dicerna anak muda, tapi lumayan untuk memecah suasana di pos ronda atau angkringan. Ini mengingatkan saya sama jokes Gunung Sahari di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-lengkap-ganjil-genap-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta<\/a> yang juga nggak ada gunungnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kembali ke Gunungketur Jogja. kantas, gimana sebenarnya asal-usul nama kampung ini? Apakah memang ada hubungannya sama gunung di zaman dulu?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gunungketur-jogja-kampung-di-tengah-kota-yang-bikin-bingung\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Kampung yang bikin bingung, tapi memang kaya akan sejarah.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Sejarah Gunungketur Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mencari tahu dan bertanya, ternyata kisah Kampung Gunungketur Jogja ini cukup unik. Dulunya, kawasan ini memang ada gunungnya. Bukan gunung sih, lebih tepatnya adalah gumuk, bukit, atau bisa juga dibilang gunung kecil yang ditumbuhi berbagai tumbuhan. <a href=\"https:\/\/gunungketurkel.jogjakota.go.id\/page\/index\/sejarah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sehingga, dari Kadipaten Pakualaman, jika melihat ke timur akan kelihatan gumuk yang menghijau<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam perkembangannya, gunung itu berubah jadi kawasan perumahan pangeran dan penduduk. Jadi, kisah singkat ini sebenarnya mematahkan mitos kalau tempat ini nggak ada gunungnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, walaupun cuma gunung kecil dan sudah hilang jadi pemukiman, tapi tetap sah kalau Kampung Gunungketur Jogja ini punya istilah gunung di namanya. Toh di kawasan Indonesia Timur misalnya, istilah gunung juga dipakai untuk menyebut bukit, gundukan tanah, atau tanjakan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Simbol dan makna di dalam namanya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain karena dulu ada gunung walaupun cuma kecil, penamaan Gunungketur Jogja juga dikaitkan sama budaya Jawa yang menyisipkan nilai dalam bentuk sanepa atau simbol. Gunung sendiri diartikan sebagi tempat tinggi dan mulia sehingga suci dan harus dijaga kelestariannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gunung juga bermakna tentang \u201csangkan paraning dumadi\u201d. Maksudnya, ini menjadi upaya untuk mengingatkan kita semua tentang dari mana manusia berasal dan ke mana kita akan kembali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan istilah \u201cketur\u201d adalah istilah yang mungkin masih asing, paling tidak bagi saya. Kata orang, ketur adalah sejenis burung yang umumnya bisa terbang jauh, berkicau, dan menyebarkan bibit tumbuhan di mana saja ia terbang dan hinggap.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa jadi, dulu ada banyak burung itu di Kampung Gunungketur Jogja. Atau, lagi-lagi ini juga sanepa yang menggambarkan burung sebagai orang yang menyebarkan ajaran yang luhur dan suci.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, nama Gunungketur Jogja bermaksud agar masyarakatnya menjunjung tinggi nilai kehidupan yang luhur, menerapkan filosofi sangkan paraning dumadi, serta selalu menjalankan ibadah sesuai ajaran yang diyakini. Nama adalah doa bukan?<\/span><\/p>\n<h2><b>Menyimpan kisah yang sarat akan nilai sejarah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di KBBI, \u201cketur\u201d sendiri punya arti \u2018paidon\u2019 atau \u2018tempat pembuangan\u2019. Ini merujuk pada peristiwa Pangeran Notokusumo yang dibuang karena dituduh terlibat dalam pemberontakan Bupati Madiun, Raden Rangga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2022\/12\/15\/200000379\/daftar-adipati-pakualaman?page=all#:~:text=KGPAA%20Paku%20Alam%20I%20atau,%2C%20yakni%20antara%201812%2D1829.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pangeran Notokusumo<\/a> membangun kediaman pada tahun 1811 di kawasan gunung kecil ini yang kemudian ditinggali oleh Pangeran Nototaruna (yang kemudian diangkat menjadi KGPAA Paku Alam I) sehingga bangunan ini bernama Ndalem Nototarunan yang ada di kawasan Puro Pakualaman. Kemudian, penamaannya kampung Gunungketur Jogja ini disinyalir didasari pada peristiwa tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kampung yang saya kira nggak mencerminkan nama dan jadi bahan guyonan ini, ternyata punya kisah yang sarat sejarah dan nilai dari sanepa Jawa. Paling tidak bisa memuaskan penasaran saya kenapa namanya ada unsur gunungnya tapi kok nggak ada gunungnya. Siapa nih yang tinggal di kampung Gunungketur Jogja?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Rizqian Syah Ultsani<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-panembahan-senopati-jalan-sultan-agung-jogja-rute-terbaik-menguji-kesabaran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Panembahan Senopati hingga Jalan Sultan Agung, Rute Terbaik untuk Menguji Kesabaran Pengendara Jogja<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gunungketur adalah sebuah kampung di tengah Kota Jogja yang berpotensi bikin orang bingung. Gunung, tapi nggak ada gununnya. Pie jal?<\/p>\n","protected":false},"author":2509,"featured_media":285870,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[24864,24863,23254,115,24862,13870,24865],"class_list":["post-284710","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gunungketur","tag-gunungketur-jogja","tag-jalan-sultan-agung-jogja","tag-jogja","tag-kampung-gunungketur-jogja","tag-kota-jogja","tag-pakualaman"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/284710","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2509"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=284710"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/284710\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/285870"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=284710"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=284710"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=284710"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}