{"id":280303,"date":"2024-06-25T10:57:35","date_gmt":"2024-06-25T03:57:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=280303"},"modified":"2024-06-25T19:01:57","modified_gmt":"2024-06-25T12:01:57","slug":"dosa-penjual-gudeg-emperan-di-jogja-yang-menjebak-pembeli","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-penjual-gudeg-emperan-di-jogja-yang-menjebak-pembeli\/","title":{"rendered":"Dosa Penjual Gudeg Emperan di Jogja yang Menjebak Pembeli"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi banyak orang asli Jogja, dan sebagian pendatang, gudeg adalah salah satu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-rekomendasi-gudeg-emperan-murah-dan-enak-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">comfort food<\/a>. Makanan khas ini bisa menjadi teman sarapan, makan siang, dan makan malam. Rupa tempat makannya juga beragam. Mulai dari warung makan hingga buka emperan. Yah, julukan \u201ckota gudeg\u201d tidak muncul begitu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, seiring bertambahnya jumlah penjual gudeg, terutama dengan konsep emperan, bertambah pula \u201cmasalah\u201d. Saya beberapa kali menjumpai penjual yang cenderung menjebak pembeli.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin maksud mereka baik. Misal, menawarkan jenis lauk lain yang mungkin jadi andalan warung tersebut. Tapi, jangan salahkan saya kalau curiga mereka mau menjerumuskan pembeli untuk membayar lebih. Supaya tidak melebar, isu yang saya ceritakan di sini berkaitan dengan penjual gudeg emperan, bukan warung makan, di Jogja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Upselling harga gudeg dengan teknik upselling yang \u201cagak memaksa\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/upselling-strategi-yang-tercoreng-karena-penjual-tidak-terbuka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Paula Gianita, penulis Terminal Mojok, menjelaskan sisi gelap upselling dengan baik<\/a>. Katanya:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSejatinya, upselling merupakan teknik lawas yang sah-sah saja dijalankan. Teknik ini yang biasa diterapkan oleh tenaga penjualan ini berupaya meningkatkan omzet penjualan dengan menawarkan produk-produk tambahan. Idealnya, seorang yang menerapkan taktik ini tidak boleh memaksa maupun memperdaya pelanggan demi tercapainya target penjualan. Sebaliknya, dia harus senantiasa terbuka dan menjelaskan secara gamblang mengenai produk tambahan berikut biaya yang harus dikeluarkan pembeli apabila menyetujui penambahan tersebut.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paula melanjutnya dengan menulis seperti ini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nyatanya, strategi marketing yang seharusnya wajar saja dilakukan ini menjadi berkonotasi jelek saat ini. Sentimen negatif muncul karena banyak penjual menerapkan upselling dengan tidak semestinya. Mereka malah seperti membodohi konsumen demi keuntungan sepihak. Staf penjual\u2026 memanfaatkan ketidaktahuan pelanggan dan menyembunyikan informasi. \u201c&#8230; ini merupakan salah satu tindak kejahatan terselubung.\u201d\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah warung gudeg emperan di Jogja menerapkan teknik ini. Kembali, saya tidak tahu apakah si ibu penjual tahu istilah \u201cupselling\u201d. Namun, yang dia lakukan jelas menggambarkan \u201ckejahatan\u201d itu karena tidak membarenginya dengan informasi soal harga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita sama-sama tahu kalau gudeg itu bisa murah atau mahal tergantung pemilihan lauk. Kalau makan nasi gudeg, krecek, dan tahu\/tempe, mungkin kamu cuma akan habis 10 ribu. Berbeda kalau makan nasi gudeg, krecek, tahu, telur rebus separuh, plus ayam kampung, bisa habis 20 ribu, bahkan lebih.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-penjual-gudeg-emperan-di-jogja-yang-menjebak-pembeli\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Pembeli harus berani berkata &#8220;tidak&#8221;.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Cara penjual melakukan upselling<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu pagi saya hendak membeli gudeg. Warung emperan ini sudah cukup terkenal di dekat tempat tinggal saya. Si ibu mewarisi usaha gudeg ini dari ibunya. Dan keluarga besar saya kenal dekat dengan \u201csi ibunya ibu\u201d. Paham kan maksud saya. Jadi, ketika si ibu melihat saya datang, dia mengenali saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu memarkirkan motor, saya langsung memesan, dalam Bahasa Jawa:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBu, gudeg <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-rekomendasi-gudeg-emperan-murah-dan-enak-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">krecek<\/a> tahu satu. Sama gudeg ayam yang kepala.\u201d Gudeg ayam, khususnya bagian kepala, adalah favorit bapak saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Si ibu, dengan senyum dan nada bicara begitu ramah menyambut saya. Sambil membungkus pesanan pertama, dia bilang begini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNggak nambah telur, Mas?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMboten,\u201d jawab saya, masih ramah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKoyor, ya, Nambah koyor. Ini kemarin nggak ada.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMboten.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya tambah ayam suwir, ya, Mas,\u201d dia belum menyerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMboten, Bu!\u201d Suara saya mulai agak naik dan si ibu tahu saya mulai kesal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah caranya melakukan upselling. Pertama, saya berani menolak karena kenal dengan si penjual. Kedua, saya tetap beli di sana karena bapak saya suka. Jadi, kalau orang tua menyuruh saya membelikan gudeg, tentu saya wajib berangkat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Memanfaatkan rasa sungkan orang Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran sudah sering beli gudeg di sana, saya jadi sering mengamati pembeli yang \u201cterjebak\u201d. Kalau cuma \u201ciya iya saja\u201d, ya boncos.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gudeg krecek tahu yang suka saya beli cuma habis 12 ribu saja. Di tempat lain malah bisa 10 ribu. Kalau meng-iya-kan tawaran si ibu, bisa harus membayar 25 ribu sampai 30 ribu karena nambah telur dan ayam kampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua karena <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/budaya\/d-7073083\/5-sifat-umum-orang-jawa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">\u201crasa sungkan\u201d khas orang Jawa<\/a>, lebih tepatnya Jogja. Rasa \u201crikuh\u201d ini memang merugikan bagi diri sendiri. Mudah terjebak bujuk rayu penjual gudeg ya akhirnya harus keluar uang lebih. Pada akhirnya, kalau diteruskan dan penjual lainnya mencontoh, nama Jogja yang kena.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosa ini memang menyebalkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-dosa-penjual-gudeg-yang-ngaku-asli-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">6 Dosa Penjual Gudeg yang Ngaku Asli Jogja<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Jogja, saya beberapa kali menjumpai penjual gudeg emperan yang &#8220;menjebak&#8221; pembeli dengan teknik upselling. Sebuah dosa besar!<\/p>\n","protected":false},"author":425,"featured_media":280305,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[24798,18085,24799,115,4029,1582],"class_list":["post-280303","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-gudeg-emperan","tag-gudeg-jogja","tag-gudeg-mahal","tag-jogja","tag-kota-gudeg","tag-makanan-khas-jogja"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/280303","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/425"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=280303"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/280303\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/280305"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=280303"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=280303"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=280303"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}