{"id":279238,"date":"2024-06-16T18:45:46","date_gmt":"2024-06-16T11:45:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=279238"},"modified":"2024-06-16T18:45:46","modified_gmt":"2024-06-16T11:45:46","slug":"aksen-paling-indah-di-indonesia-dimiliki-oleh-orang-sunda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/aksen-paling-indah-di-indonesia-dimiliki-oleh-orang-sunda\/","title":{"rendered":"Orang Sunda Punya Aksen Paling Indah di Indonesia, Terdengar Lembut dan Merdu di Telinga Arek Suroboyo seperti Saya"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Sunda punya aksen paling indah di Indonesia. Setidaknya begitu di telinga saya yang terbiasa dengan aksen Suroboyoan.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemendikbud Republik Indonesia (RI) pada 2018 mencatat, Indonesia memiliki 733 bahasa daerah. Data tersebut menunjukkan, dari ratusan bahasa daerah itu, 10 bahasa daerah berada di Jawa dan Bali, 26 di Sumatera, 57 di Kalimantan, 58 di Sulawesi, 66 di Maluku, dan 384 di Papua. Sementara, bahasa daerah dari provinsi NTT, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat belum seluruhnya tercatat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat data Kemendikbud itu, nggak heran kalau Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenal-bahasa-daerah-yang-tak-boleh-disebut-sembarangan-di-daerah-lain\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> bahasa daerah<\/a> terbanyak di dunia. Beruntung, Indonesia memiliki bahasa pemersatu yaitu Bahasa Indonesia. Lewat bahasa Indonesia, masyarakat memungkinkan berkomunikasi dengan lebih mudah antara satu daerah dengan daerah lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, aksen atau logat bahasa daerah biasanya berpengaruh pada saat seseorang bertutur dalam bahasa Indonesia. Bahkan, saking kuat dan khas aksen suatu bahasa daerah, kita bisa mengetahui asal penutur tanpa harus bertanya. Misal, kalau seseorang berbahasa Indonesia dengan aksen medok, kemungkinan besar orang tersebut berasal dari Jawa Tengah, Yogyakarta, atau Jawa Timur. Kalau seseorang sering terbalik menentukan kata ganti, mengatakan kita padahal seharusnya saya misal, kemungkinan besar orang tersebut dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/please-jangan-manado-kan-semua-daerah-di-sulawesi-utara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Manado<\/a> atau Ternate.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya semua aksen bahasa daerah itu indah karena mencerminkan keberagaman masyarakat Indonesia. Namun, kalau saya ditanya logat atau aksen yang paling indah,\u00a0 tanpa ragu saya akan menjawab aksen orang Sunda yang paling enak didengar. Sekali lagi, ini bukan berarti logat dari daerah lain jelek atau buruk ya, tapi logat Sunda berada di semesta yang lain karena beberapa alasan ini:<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Aksen Sunda terdengar lemah lembut<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aksen Sunda membuat penuturnya terlihat lemah lembut, nada bicaranya yang kalem cenderung membuat orang yang mendengarnya merasa nyaman. Orang Sunda menyebut \u201cA\u201d sebagai panggilan untuk kakak laki-laki. Iya, hanya \u201cA\u201d satu huruf doang, tapi enak dan merdu banget didengar. Kalau tidak percaya, silakan buka media sosial dan lihatlah video Cipung, anak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/resort-and-beach-club-gunungkidul-cuma-bikin-kaya-raffi-ahmad\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Raffi Ahmad<\/a>, saat memanggil kakaknya Rafatar dengan \u201cA\u201d atau \u201cAA\u201d, dijamin langsung meleyot. .<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aksen Sunda juga memiliki nada yang terdengar seperti dipanjangkan pada akhir kalimat. Hal tersebut membuat aksennya terkesan manja dan romantis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Laki-laki mana yang tidak tersipu kalau ada perempuan Sunda yang terkenal akan parasnya yang rupawan memanggil \u201cA\u201d dengan nada mendayu sambil tersenyum. Wes to, pasti meleleh. Ha wong saya yang perempuan saja kalau diajak bicara perempuan Sunda suka tersipu, soalnya sopan banget.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aksen Sunda yang lembut membuat orang Sunda kesulitan kalau sedang marah. Sebab, kata-kata sekeras apapun yang keluar dari mulutnya terdengar lembut. Saya beberapa kali mendengar orang Sunda cekcok, tapi mereka malah terlihat seperti sedang bercakap-cakap biasa. Sangat berkebalikan dengan logat orang Jawa Timuran (khususnya Surabaya). Kami sedang ngobrol biasa tanpa ada umpatan saja dikira sedang marah-marah.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Aksen paling indah bahkan ketika misuh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia memiliki berbagai macam versi umpatan, tergantung daerahnya. Beberapa di antaranya adalah jancok, pantek, pukimak, asu, anjeng, dan masih banyak lagi. Namanya umpatan, jangankan diucapkan, ditulis tanpa ada suara saja sudah terasa kasarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, umpatan-umpatan orang sunda tidak terdengar demikian. Orang Sunda biasanya mengumpat dengan kata \u201cbelegug sia\u201d. Umpatan macam apa itu? Mana ada makian yang belakangnya huruf a? Diucapkan dengan logat merdu pula. Kalau orang Sunda melempar umpatan itu kepada orang Surabaya yang nggak ngerti artinya malah dikira sedang memuji.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mirip dengan bahasa Jawa, bahasa Sunda juga memiliki hirarki atau tingkatan dari yang paling halus hingga yang paling kasar. Namun, menurut saya, meskipun orang Sunda menggunakan bahasa dengan tingkat kekasaran paling tinggi, kekasarannya tetap tidak terasa. Di kuping masih terdengar sopan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Penggunaan imbuhan yang mempercantik kalimat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Imbuhan \u201catuh\u201d, \u201cmah\u201d, \u201cdeh\u201d, dan \u201ceuy\u201d yang biasa dipakai orang Sunda membuat struktur kalimat dan aksen orang Sunda terdengar manja, low profile, dan menyenangkan telinga. Contohnya, \u201cAh, aku mah apa atuh\u201d membuat penuturnya terkesan merendah dan sopan. Coba saja kalimat itu diucapkan dengan aksan dan bahasa Jawa Timuran, \u201cAku kie opo, seh\u201d. Terasa kan bedannya? Ketika diungkapkan dalam bahasa Jawa, terdengar seperti sebuah amarah dan sikap putus asa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Imbuhan \u201cmah\u201d dan \u201cdeh\u201d juga mempercantik struktur kalimat. Oleh karena itu, ada banyak orang di luar Sunda yang menggunakan kedua imbuhan tersebut untuk percakapan sehari-hari. Kamu juga pasti pernah menggunakan imbuhan \u201cmah\u201d dan \u201cdeh\u201d. Saking akrabnya di telinga, banyak orang beranggapan imbuhan \u201cmah\u201d dan \u201cdeh\u201d berasal dari Jakarta, padahal aslinya milik orang Sunda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal serupa juga terjadi pada imbuhan \u201ceuy\u201d. Kata itu mempertebal kesan indah pada kalimat. Misalnya, \u201cCantik, euy\u201d (Cantik banget). Kalimat tersebut kalau diubah ke dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-jawa-surabaya-yang-sulit-diterjemahkan-ke-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">aksen dan bahasa Suroboyoan<\/a> menjadi \u201cUayu, cok\u201d atau \u201cayu, pol\u201d. Kesannya malah bar-bar kalau menggunakan logat dan bahasa Suroboyoan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang tinggal di Surabaya dan sehari-hari pakai logat Suroboyoan, saya sering dikira marah-marah oleh orang Sunda. Padahal saya sedang ngobrol biasa saja dan tidak menggunakan umpatan atau bahasa kotor. Saya nggak bisa bayangkan kalau orang asli Sunda yang lemah lembut itu berjalan di trotoar Surabaya yang panas, lalu mendengar speaker lampu merah berbunyi, kaget banget pasti.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Terdengar gemas dengan menghilangkan huruf \u201cF\u201d dan\u201cV\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSiapa bilang orang Sunda tidak bisa bilang F? itu mah pitnah!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain memiliki aksen yang merdu, orang Sunda juga kerap membuang huruf \u201cF\u201d dan \u201cV\u201d. Mereka mengubahnya menjadi huruf \u201cP\u201d. Misalnya, menyebut Rafi menjadi Rapi, influencer menjadi inpluencer, Vitri menjadi Pitri, dan lain sebagainya. Namun, alih-alih konyol dan bodoh, hilangnya huruf V dan F dalam aksen Sunda justru membuat penuturnya lucu dan menggemaskan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Aksen Sunda itu adem dan membuat lawan bicaranya mesam-mesem<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pepatah yang mengatakan Bandung dibuat saat Tuhan sedang tersenyum sepertinya benar adanya. Saya suka mesam-mesem sendiri ketika berkunjung ke Bandung. Merasakan udara dingin Bandung sambil mendengar logat orang Sunda berbincang entah mengapa bawaannya jadi tenang. Bukan marah-marah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kalian yang memiliki aksen Sunda, tolong dipertahankan ya. Jangan minder dan terbawa kebanyakan orang yang mulai menjunjung <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/kumparannews\/lu-gue-dan-fenomena-jakarta-sentris-dalam-berbahasa-indonesia-1qpTVPOEIvR\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">aksen Jakarta dan &#8220;loe-gue&#8221;<\/a> ketika berbahasa Indonesia. Logat kalian jauh lebih keren dan kiyowo.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Tiara Uci<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">BACA JUGA <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kosakata-bahasa-sunda-kasar-tapi-nggak-disadari-banyak-orang\/\"><b>10 Kosakata Bahasa Sunda yang Sebenarnya Kasar, tapi Nggak Disadari Banyak Orang<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara i<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ni <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Sunda punya aksen paling indah di Indonesia, terdengar lemah lembut dan merdu ditelinga, sekalipun mereka sedang marah dan misuh-misuh.<\/p>\n","protected":false},"author":1542,"featured_media":279242,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[24679,2519,6512,31,6047,1152],"class_list":["post-279238","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-aksen-paling-indah","tag-bahasa-daerah","tag-bahasa-sunda","tag-indonesia","tag-orang-sunda","tag-sunda"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/279238","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1542"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=279238"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/279238\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/279242"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=279238"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=279238"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=279238"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}