{"id":27920,"date":"2020-02-23T08:05:13","date_gmt":"2020-02-23T01:05:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=27920"},"modified":"2020-02-23T08:21:42","modified_gmt":"2020-02-23T01:21:42","slug":"tips-menyembunyikan-identitas-sebagai-seorang-wibu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-menyembunyikan-identitas-sebagai-seorang-wibu\/","title":{"rendered":"Tips Menyembunyikan Identitas Sebagai Seorang Wibu"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify; background: white;\"><span style=\"color: #222222;\">Ketika di tongkrongan, selalu saja ada menyambar berbagai topik yang dinyatakan seru seperti sepakbola dan Pevita. Obrolan tersebut selalu mengalir dan tak akan pernah padam. Misalkan tentang Pevita, dimulai dari kalimat, &#8220;Jam segini Pevita lagi apa?&#8221; Pasti akan bermuara pada sebuah ujung yang diakhiri dengan kontemplasi bahwa sesungguhnya Pevita juga manusia biasa. Kebetulan saja doi tidak akan pernah diraih oleh kaum pengangguran seperti kami jika bukan dalam kisah FTV yang serba indah seperti perwujudan utopianya Karl Marx.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: start; background: white;\"><span style=\"color: #222222;\">Ada obrolan yang diwajibkan, tentu ada yang diharamkan. Atau bahasa halusnya dihindari karena dicap menjijikkan. Yakni obrolan tentang dunia jejepangan yang mengarah kepada hal militan seperti ultrasnya dalam sepakbola. Bedanya, acapkali terminologi ini mengalir kepada hal-hal hina seperti mencintai, mengagumi, dan memberikan seutuhnya jiwa dan raga kepada makhluk dua dimensi. Apa sih salahnya? Selagi makhluk itu bisa membuat nyaman, kan? Toh zaman sekarang setan saja digombalin demi konten. Bedanya, kalau Wibu kan untuk dirinya sendiri, tidak merugikan orang lain.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; background: white;\"><span style=\"color: #222222;\">Di sini tidak ada yang akan menjabarkan istilah Wibu yang merupakan serapan dari kata <i>weeaboo<\/i> maupun sejarahnya karena bisa dicari sendiri di Google. Atau di mana pun itu, sesuka kalian. Di sini juga tidak ada pembelaan berlebih bagi kaum yang di-stereotipe-kan sebagai kasta tersendiri. Jika kasta cupu adalah terendah, maka Wibu berada di bawah kasta tersebut. Bukan bermaksud menyelamatkan kaum sesama, tapi menjadi Wibu merupakan sebuah fitrah. Dan seperti apa yang dikatakan oleh Plato bahwa fitrah sifatnya bawaan. Jadi, ya, bisa disimpulkan sendiri.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; background: white;\"><span style=\"color: #222222;\">Toh melawan dan mengubah stigma di otak orang lain adalah tindakan sia-sia. Biarlah kebanyakan orang mengira bahwa Wibu termasuk dalam kaum terbelakang, terpencil, dan tertinggal. Namun, masih ada segenap upaya untuk tetap bisa masuk dalam tongkrongan dengan cara yang Wibu sekali tanpa menganggu, merusuhi, dan mengubah tabiat dasar sebuah perkumpulan. Dan beberapa adalah kiat-kiat yang mungkin belum sempurna dan masih bersifat <i>prototype<\/i>, tapi laik untuk dicoba.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; background: white;\"><span style=\"color: #222222;\"><strong><em>Pertama,<\/em> <\/strong>untuk masuk ke dalam paguyuban yang doyan ngobrolin sejarah dan mengandalkan Historia sebagai kitabnya, disarankan sekeras mungkin untuk membaca manga Vinland Saga. Selipkan istilah-istilah anak senja jika di perkumpulan itu kebanyakan minum kopi, seperti ini: \u201cMari kawan, kita berwisata ke masa lalu dan membahas tentang abad ke-4 yang pelik dan rumit, yakni kedigdayaan Inggris yang sebenarnya sudah berkali-kali dijajah.\u201d Dengan awalan seperti itu, maka banyak di antara mereka akan melihat ke arahmu. Stigma Wibu perlahan luntur, tapi jika masih ada yang melihatmu dengan sebelah mata seperti lagu Efek Rumah Kaca, maka lanjutkan argumenmu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; background: white;\"><span style=\"color: #222222;\">Baca manga Vinland Saga dengan cermat, jika perlu, dicatat. Kemudian ceritakan dengan gamblang dan yakin bahwa selepas keruntuhan Kekaisaran Romawi, migrasi besar-besaran dari suku-suku Jermanik dan Slavik yang hadir ke wilayah tersebut. Mereka perlahan menguasai wilayah-wilayah \u201ckosong\u201d dan lambat laun membuat sebuah kerajaan yang manunggal. Salah satunya adalah Anglos-Saxons yang menduduki Britania. Dan dari Vinland Saga pula kita dapat bahwa Angles-Saxon hadir ketika Celtic Britons jauh lebih lama menempati Britannia dan hadirnya mereka, maka turut serta pula budaya dan linguistik secara masif. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; background: white;\"><span style=\"color: #222222;\">Kisah Vinland Saga setidaknya pada bagian awal terpatri masa-masa setelah masuknya Angles-Saxon yang telah memiliki 7 kerajaan yang kerap dibahas ialah Mercia dan Wessex. Dimulai dari invasi besar-besaran melalui periode suku-suku Skandinavia yang melakukan pelayaran, ekplorasi, merompak, berdagang, dan membangun koloni. Salah satunya ialah penaklukan Norman terhadap Kerajaan England yang kala itu telah bersatu dan memutus rantai kekuasaan Anglo-Saxon atas tahta kerajaan England. Sedangkan Norman adalah merupakan suku-suku yang mendiami wilayah utara Perancis hasil hubungan bangsa Viking dan suku-suku Franks dan Gallo-Roman.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; background: white;\"><span style=\"color: #222222;\">Setelah menyampaikan itu semua, pura-puralah memasang wajah merenung dan meminum segelas kopi agar terkesan indie sekali. Ingat wajah <i>Waifu<\/i>-mu di rumah yang menunggu kesalamatan dirimu atas segala kesalahan yang telah diucapkan. Jika ada yang menyangkal, terima saja. Jika ada yang menanyakan sumber, katakan bahwa sumbernya dari sebuah sebuah buku, alih-alih komik. Sebuah buku yang sangat tebal terbitan Denmark, padahal komik Vinland Saga yang bertipe shounen. Namun, pada hakikatnya, kisah yang ditawarkan sangat menyentuh hati terlepas kebenaran sejarah dan <em>timeline<\/em> kejadian yang meliputi adalah kebenaran atau dibuat-buat agar menarik.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; background: white;\"><span style=\"color: #222222;\"><strong><em>Kedua,<\/em><\/strong> untuk masuk dalam perkumpulan yang menyukai cerita-cerita misteri, jangan sekali pun membahas topik Danur-nya Mbak Prili yang menyentuh jutaan penonton. Atau <a href=\"https:\/\/tirto.id\/kkn-di-desa-penari-kenapa-kisah-horor-viral-disukai-banyak-orang-ehhp\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">KKN di Desa Penari<\/a> yang <i>hype<\/i>-nya mulai turun, malah filmnya baru akan muncul. Yang ada, jika membahas itu, mereka akan tertawa karena topik itu sudah biasa. Angkatlah sebuah pembicaraan yang benar-benar tidak pernah dipikirkan oleh manusia-manusia di dalam perkumpulan itu tidak meruntuhkan mental Wibu-mu yang mendarah daging. Salah satunya yang menarik dan tidak mencoreng ke-wibu-an dirimu yang menahun itu adalah tema <i>Trepanation<\/i>.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; background: white;\"><i><span style=\"color: #222222;\">Trepanation<\/span><\/i><span style=\"color: #222222;\"> adalah semacam proses membuat sebuah lubang pada tengkorak manusia. Hal ini berguna untuk mengobati rasa pusing dan sebuah kewajiban kita berterimakasih kepada Paramex karena hadir untuk meredakan sakit kepala. Sebelum mengajukan sebuah teori luar biasa ini, sempatkan dulu membaca manga Homunculus agar menjadi Wibu yang berbakti kepada kultur pop jejepangan. Dalam <i>manga<\/i> ini, seseorang yang melakukan proses <i>trepanation<\/i> dapat melihat hal-hal aneh di luar nalar seperti hantu dan keanehan-keanehan yang merupakan \u201cjalan pintas\u201d membuka indera keenam tanpa bantuan Sholeh Pati.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; background: white;\"><span style=\"color: #222222;\">Pokoknya jangan sekalipun keluar dari mulutmu yang bau bawang itu bahwa membuka indera keenam tidak penting. Bahasan indera keenam di perkumpulan pemuja misteri ini bak membahas Raftel bagi kaum pemuja One Piece. Memang membosankan sebagaimana Komunitas Pengabdi Naruto melihat postingan tentang Hokage-Hokage di Konoha yang disamakan dengan presiden-presiden di Indonesia. Namun mau bagaimana lagi, toh di mana perkumpulan itu dipijak, maka obrolan dijunjung.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; background: white;\"><span style=\"color: #222222;\"><em><strong>Ketiga,<\/strong><\/em> untuk masuk dalam kaum pemuja musik sebagai tema pembahasan utamanya, Wibu pecinta loli yang rambutnya warna-warni juga bisa masuk dalam lingkar tersebut. Karya Harold Sakuishi yang berjudul Beck bisa menjadi salah satu rujukan. Manga ini memang tidak menyajikan kebutuhan Wibu akut seperti dirimu yang haus akan <i>issekai-issekai<\/i>-an atau yang berbau <i>ecchi<\/i>. Manga ini menjanjikan sensasi yang berbeda, terlebih pengetahuan akan musikmu akan bertambah, apalagi seputar pop punk yang diusung oleh Sakuishi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; background: white;\"><span style=\"color: #222222;\">Di balik semua itu, sebelum jagad internet masuk, musik sangatlah berpangku tangan pada industri itu sendiri. Dan di dalam Beck, dijabarkan dengan penuh kehati-hatian bahwa industri tidak selamanya buruk, tapi seringnya patut dipisuhi. Melalui kisah yang dihaturkan Yukio &#8220;Koyuki&#8221; Tanaka selaku tokoh utama dengan manis, masuklah dan berperanlah selayaknya pengalaman yang terjadi oleh Koyoki, seperti pengalaman yang kamu lalui bersama dengan band imajinasimu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; background: white;\"><span style=\"color: #222222;\">Dan itulah beberapa tips yang bisa dipakai dan tidak dianjurkan bagi para Wibu yang tidak memiliki pemikiran terbuka. Apalagi para Wibu yang menganggap <i>waifu<\/i>-nya adalah pusat jagad raya. Jangan mau dikatakan Wibu yang udik kecuali jika dirimu nyaman menikmati kesendirian bersama bayangan memiliki <i>maid<\/i> seperti Rem dan sembari dipukul manja dengan kata-kata, \u201c<i>Baka! Baka! Baka!<\/i>\u201d<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-benar-wibu-itu-bau-bawang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Apa Benar Wibu Itu Bau Bawang?<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di sini juga tidak ada pembelaan berlebih bagi kaum yang di-stereotipe-kan sebagai kasta tersendiri. Jika kasta cupu adalah terendah, maka Wibu berada di bawah kasta tersebut.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":27997,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[4109,2776],"class_list":["post-27920","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-manga","tag-wibu"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27920","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27920"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27920\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27997"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27920"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27920"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27920"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}