{"id":278897,"date":"2024-06-17T16:15:10","date_gmt":"2024-06-17T09:15:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=278897"},"modified":"2024-06-21T11:45:31","modified_gmt":"2024-06-21T04:45:31","slug":"warga-bantul-coret-bingung-termasuk-bantul-atau-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/warga-bantul-coret-bingung-termasuk-bantul-atau-jogja\/","title":{"rendered":"Dilema Saya Menjadi Warga &#8220;Bantul Coret&#8221;: Terlalu Jogja untuk Disebut Bantul, Terlalu Bantul untuk Disebut Jogja\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Warga \u201cBantul coret\u201d tidak pernah seutuhnya merasa jadi bagian suatu daerah. Bantul bukan, Jogja juga bukan.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terdiri atas 4 kabupaten dan 1 kota madya. Masing-masing daerah punya keunggulan dan kekurangan, termasuk Kabupaten Bantul. Tapi, entah mengapa, kekurangan dari Bantul lebih mengemuka daripada keunggulannya. Itu mengapa kabupaten ini sering jadi bahan gurauan (bahasa Jawa : diece). Saking seringnya, banyak muda-mudi Bantul akhirnya mengaku berdomisili Jogja untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya merupakan salah satu warga Bantul, hanya saja saya nggak merasakan inferioritas itu. Mungkin, sejak awal saya memang nggak pernah seutuhnya merasa bagian dari Bantul. Perasaan itu muncul karena secara geografis saya memang menetap di Bantul, tapi jarak rumah saya lebih dekat ke Kota Jogja daripada pusat keramaian Bantul. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dan beberapa orang lain yang berada di kondisi seperti di atas biasa disebut dengan warga \u201cBantul coret\u201d. Dengan kata lain, saya merasa terlalu Kota Jogja untuk disebut warga Bantul, tapi terlalu Bantul untuk disebut orang Kota Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga \u201cBantul coret\u201d memang tidak merasakan inferioritas seperti warga Bantul pada umumnya. Namun, itu bukan berarti kehidupan kami bebas dari keluh kesah. Kami juga punya beberapa dilema yang akan saya coba jelaskan di tulisan ini:\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Warga \u201cBantul coret\u201d merasa asing di daerah sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau mau olahraga mending ke Stadion Pacar.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTak tunggu ning perempatan Gose\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sungguh berat sekali beban menjadi warga \u201cBantul Coret\u201d. Rumah boleh di Bantul, tapi kami sungguh minim pengetahuan tentang daerah-daerah di sana. Siapa sangka Stadion Pacar adalah penyebutan yang lumrah bagi Stadion Sultan Agung Bantul. Pacar saja nggak punya, malah disuruh cari di mana itu Stadion Pacar. Eh, malah bisa jadi ide mencari pacar di Stadion Pacar sih, hehehe.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebingungan serupa juga saya alami ketika mendengar perempatan Gose. Mungkin saya akan ditertawai oleh Pak Gondrong, Tukang Siomay Viral di Bantul, yang sering mangkal tak jauh dari perempatan itu. Tapi, itulah kenyataannya, warga &#8220;Bantul coret&#8221; benar-benar merasa asing di daerah sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi itu jadi dilema tersendiri bagi warga &#8220;Bantul Coret&#8221;. Banyak orang berekspektasi kami paham daerah-daerah di Bantul. Padahal, dalam lubuk hati, kami juga bertanya-tanya. Itu baru beberapa nama tempat dari wilayah Bantul Kota, belum berbicara Pleret, Pandak, Piyungan, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/memori\/makam-imogiri-tempat-raja-jawa-bersemayam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Imogiri<\/a>, dan masih banyak lagi. Mamat ndaska!<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Ikut kena labelling Bantul<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cRumahmu di Bantul? Ya Allah jauuh banget dong, deket pantai kan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWah mukamu belang separo yo,\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama sekian lama hidup di \u201cBantul coret\u201d, ada beberapa label yang sering saya terima. Salah satunya, rumah saya dikira di pelosok dekat pantai. Kepada warga non-Bantul di luar sana, mohon diingat, Bantul tidak cuma <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pantai-parangtritis-jogja-wisata-penuh-ancaman-waspadalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Parangtritis<\/a>. Kalau rumah seseorang di Jalan Parangtritis, bukan berarti selalu dekat pantai maupun Ocean View. Rumah di Bantul bisa jadi perbatasan Jogja dan Bantul seperti saya, alias nggak jauh-jauh amat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain sering dikira rumahnya di pelosok, warga \u201cBantul coret\u201d juga kerap kena ejekan \u201cWah mukamu belang separo yo\u201d yang kurang lebih artinya wajah yang belang sebelah. Asal usul ejekan ini bersumber dari warga Bantul yang kerap beraktivitas di daerah utara. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika warga Bantul berangkat sekolah atau kerja di pagi hari, matahari yang terbit dari timur mengenai wajah sisi kanan mereka. Hal serupa juga terjadi saat warga Bantul pulang sekolah atau kerja di sore hari. Matahari yang tenggelam di sisi barat lagi-lagi mengenai wajah sebelah kanan. Itu mengapa muncul bercandaan wajah belang. Sehari-hari, satu sisi wajah warga Bantul selalu terpapar sinar matahari.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Tetap perlu effort besar untuk bergaul<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa ampun, kurang jauh mainmu\u2026 Kelamaan di jalan sih.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang ingat meme tentang warga Bantul yang bakoh kalau disuruh ketemuan di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/warga-bantul-selalu-menderita-setiap-bukber-di-sleman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sleman<\/a>? Berbeda dengan warga Sleman yang aleman ketika diajak nongkrong di Bantul, kakehan fafifu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu juga terjadi pada warga &#8220;Bantul coret&#8221;. Mau tidak mau, suka tidak suka, kami tetap nongkrong di daerah utara agar tidak kuper. Memang, rumah kami tidak di pelosok, tidak begitu jauh kalau harus ke Kota Jogja. Namun, kalau sehari-hari nongkrongnya di Sleman ya lumayan juga energi dan bensin yang dikeluarkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa warga \u201cBantul coret\u201d sebaiknya punya transportasi pribadi untuk memenuhi tuntutan nongkrong di Sleman. Sebenarnya bisa sih naik kendaraan umum, tapi waktu kalian akan benar-benar habis di jalan. Salah satu transportasi publik andalan warga, <a href=\"https:\/\/dishub.jogjaprov.go.id\/trans-jogja\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bus Trans Jogja<\/a> , rutenya memang sudah merambah ke beberapa wilayah di \u201cBantul coret\u201d. Namun, rute tersebut hanya melewati jalan besar. Calon penumpang masih punya PR untuk sekedar sampai di shelter Trans Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali waktu, saya pernah memberanikan diri menggunakan Trans Jogja untuk memenuhi undangan kongkow di daerah dekat Tengkleng Gajah, Ngaglik, Sleman. Bayangkan saja, saya yang berangkat mruput pukul 15.34 WIB sampai daerah utara pukul 17.18 WIB. Itu saya baru turun di perempatan Kentungan lho, setelahnya saya masih lanjut dengan ojek online. Hampir memerlukan waktu dua jam untuk menembus jarak 15 kilometer. Sudah tua di jalan, masih dicaci sama teman, dibilang \u201cMakane, omah kok ning Bantul, tuwo ning dalan.\u201d Saya hanya bisa tersenyum simpul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah berupaya bergaul dengan warga Bantul murni, eh malah roaming. Tidak nyambung. Ada beberapa kosakata yang sulit dipahami seperti \u201cnjilang\u201d, \u201ctenguk\u201d, \u201csengkil\u201d. Kalau diajak membicarakan berita terkini seputar Bantul atau tempat estetik di Bantul, saya yang nggak bisa menimpali juga. Aah \u2026 angel angel!<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Krisis identitas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berada di posisi nanggung acap kali membuat kami merasa krisis identitas. Mau bilang orang kota kok ya rumahnya di Bantul, mau bilang orang Bantul kok ya belum cukup representatif. Ibarat orang Depok atau Tangerang yang mengaku orang Jakarta. Pun orang &#8220;Bantul coret&#8221;, jadi serba salah kalau mau mengaku orang Kota Jogja. Mungkin banyak orang mengira kami malu berstatus warga Bantul karena label-label negatif yang kerap mengekor. Padahal, kami hanya takut tidak bisa memenuhi ekspektasi orang-orang yang menganggap kami serba tahu tentang Kota Geplak ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah dilema warga \u201cBantul coret\u201d. Terdengar sepele memang, tapi menjalaninya tidak mudah lho. Kalian yang saat ini sedang mengincar hunian di perbatasan Jogja dan Bantul, pokoknya siapkan mental saja ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Mozara Kartika Putri<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bantul-sebuah-kabupaten-yang-terasing-dari-kemajuan-jogja\/\"><b>Bantul, Sebuah Kabupaten yang Terasing dari Kemajuan Jogja<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bantul-sebuah-kabupaten-yang-terasing-dari-kemajuan-jogja\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Warga Bantul coret dilema karena tercatat warga Bantul, tapi asing dengan daerahnya. Malah lebih familiar dengan Kota Jogja dan daerah lain. <\/p>\n","protected":false},"author":2646,"featured_media":279040,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[5766,24638,115,7235,24637],"class_list":["post-278897","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-bantul","tag-bantul-coret","tag-jogja","tag-sleman","tag-warga-bantul"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/278897","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2646"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=278897"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/278897\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/279040"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=278897"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=278897"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=278897"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}