{"id":277614,"date":"2024-06-04T10:12:36","date_gmt":"2024-06-04T03:12:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=277614"},"modified":"2024-06-04T10:12:36","modified_gmt":"2024-06-04T03:12:36","slug":"orang-surabaya-dan-obsesinya-terhadap-sambal-petis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-surabaya-dan-obsesinya-terhadap-sambal-petis\/","title":{"rendered":"Orang Surabaya dan Obsesinya terhadap Sambal Petis"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Surabaya pasti sudah tidak asing dengan bahan pelengkap makanan yang bernama sambal petis. Petis sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di kota ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau kita ngomong makanan khas, terutama dari Surabaya, pasti orang cenderung makanan ada unsur petisnya,\u201d Jelas Manda Roosa, pengamat makanan dan jurnalis Suara Surabaya Media, pada CNN Indonesia dalam sebuah wawancara pada 2018 yang lalu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernyataan tadi sama sekali tidak salah. Kebanyakan makanan khas Surabaya memang menggunakan sambal petis sebagai bahan dasarnya. Sebut saja lontong balap, lontong kupang, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-daerah-penghasil-rujak-cingur-terenak-di-jawa-timur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">rujak cingur<\/a>, tahu campur, tahu tek, tahu telur, hingga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rawon-minggir-wayahe-pecel-semanggi-makanan-underrated-surabaya-tampil\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pecel semanggi<\/a>. Pokoknya kalau ke Surabaya, sambal satu ini bisa ditemukan di hampir seluruh penjuru kota.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rasa sambal petis yang unik dan memorable di lidah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya gurih, pedas, dan cenderung manis. <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/food\/read\/2020\/09\/26\/210900275\/resep-sambal-petis-khas-jawa-timur-cocok-untuk-cocolan-tahu-goreng\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Buat yang tidak terbiasa, kombinasi rasanya memang susah diterima<\/a>, terutama bagi para pendatang yang mampir ke daerah Surabaya dan sekitarnya. Apalagi setelah makan, bibir jadi berwarna agak hitam dan terasa pedas serta agak lengket.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aromanya juga cukup kuat dan noticeable untuk orang sekitar. Namun, bagi yang sudah kadung suka, seperti kebanyakan orang Surabaya, jangan harap bisa lepas dari pesona magisnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sering jadi tambahan wajib termasuk ketika makan cemilan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerupuk upil adalah salah satunya. Cemilan ini selalu dinikmati dengan sambal petis. Setiap penjual kerupuk upil di Surabaya pasti menyediakan minimal satu plastik kecil berisikan sambal petis untuk pembelinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kerupuk upil, cemilan gorengan di Surabaya nasibnya juga sama, mulai dari tahu isi, tempe goreng, hingga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-penjual-pisang-goreng\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pisang goreng<\/a>. Semuanya disajikan dengan sambal petis.<\/span><\/p>\n<h2><b>Obsesi orang Surabaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking terobsesinya dengan sambal petis, makanan khas daerah lain tidak luput jadi korban. Masyarakat Jawa Barat pasti familiar dengan tahu sumedang. Makanan yang berasal dari Kabupaten Sumedang ini jadi kehilangan jati diri dan cita rasa aslinya ketika sudah masuk ke Surabaya. Jelas saja, makanan yang seharusnya memiliki rasa asin dan gurih malah bisa berubah rasanya karena disajikan dengan sambal petis yang punya rasa agak manis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kebiasaan seperti ini, wajar orang Surabaya kalau ke luar kota juga mencari sambal petis untuk teman makan. Sayangnya, walaupun dinobatkan sebagai makanan khas Jawa Timur, sambal petis cukup sulit dijumpai di luar kawasan Metropolitan Surabaya atau biasa disebut dengan Gerbangkertosusila (akronim dari Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-mana-ada-lahan-di-situ-ada-warung-pecel-lele-lamongan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lamongan<\/a>).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebut saja di Kota Tuban dan Bojonegoro. Meskipun tidak terlalu jauh dari Surabaya, sambal petis jadi barang langka di sana. Gorengan yang di Surabaya biasa dimakan dengan sambal petis, di sana dimakan menggunakan cabe rawit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, keberadaan sambal petis malah makin langka. Hampir tidak ada makanan di sana yang menggunakan sambal petis sebagai bahan utama atau sekedar jadi teman makan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking langkanya, warga sana baru tahu eksistensi sambal petis ya ketika sudah pernah main ke Surabaya dan sekitarnya. Hal kecil seperti ini mungkin tampak sepele, tapi cukup meresahkan bagi Orang Surabaya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sejarah yang tak banyak diketahui<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun banyak mengonsumsi makanan dengan sambal petis, sampai saat ini ternyata tidak banyak warga Surabaya yang tahu tentang asal usulnya. Hal ini sedikit banyak tergambar dalam serial video populer yang pertama kali tayang di Youtube pada tahun 2007 bertemakan budaya Surabaya berjudul \u201cGrammar Suroboyo\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada episode ketiga, \u201cSuro dan Boyo\u201d, karakter utama dari serial ini, diceritakan sedang asyik mengobrol sambil makan lontong balap. Dalam selingan obrolannya, Suro bertanya, \u201cKenopo yo, petis gatau tampil nang panganan khas Suroboyo?\u201d. Untuk yang tidak paham bahasa Jawa, kurang lebih Suro mempertanyakan kenapa sambal petis tidak pernah muncul dalam festival makanan khas Surabaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Boyo sama herannya. Padahal, orang Surabaya sudah lazim menyediakan sambal petis sebagai teman makan. Sehingga wajar kalau banyak yang mengira sambal petis berasal dari Surabaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usut punya usut, sambal petis khas Surabaya bukanlah berasal dari Kota Pahlawan, melainkan berasal dari tetangganya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/selain-tahu-bulat-ada-juga-tahu-pletos-dan-tahu-petis-asli-pantura-yang-asoy\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sidoarjo<\/a>. Sambal petis yang biasa dipakai di Surabaya memiliki nama asli Sambal Petis Udang Sidoarjo.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari namanya saja sudah bisa ditebak kalau bahan baku utamanya adalah udang. Julukan Sidoarjo sebagai Kota Udang sedikit banyak menjelaskan alasan pemilihan bahan baku utamanya tersebut. Sebagai daerah penghasil budidaya udang terbesar di Jawa Timur, tidak heran kalau aneka makanan Sidoarjo banyak memakai bahan baku udang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Miskonsepsi terkait asal usul makanan sepertinya cukup lazim di dunia kuliner\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya makanan bernama french fries yang sekarang jadi menu wajib di restoran cepat saji. Walaupun ada kata \u201cfrench\u201d pada namanya, makanan ini bukan berasal dari Perancis, melainkan Belgia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh lainnya adalah hamburger. Film-film buatan Negeri Paman Sam sering memperlihatkan makanan satu ini jadi santapan sehari-hari. Makanya wajar apabila orang-orang beranggapan bahwa makanan cepat saji ini identik dengan budaya orang Amerika Serikat. Padahal kalau ditelusuri, makanan ini berasal dari Jerman tepatnya dari Kota Hamburg.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun bukan berasal dari Surabaya, sambal petis sudah kadung menyatu dengan kehidupan warganya. Ke mana saja perginya, pasti sambal petis akan selalu dicari. Kurang lebih mirip slogan iklan Teh Botol Sosro, \u201cApa pun makanannya, sambalnya tetap sambal petis.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Arief Rahman Nur Fadhilah<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-orang-madura-makan-martabak-tanpa-petis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Culture Shock Orang Madura Saat Makan Martabak dari Luar Pulau Madura: Kok Nggak Pakai Petis?<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Obsesi orang Surabaya akan sambal petis memang sungguh kuat. Makan pisang goreng saja bisa dicocolin ke sambal dengan aroma khas ini.<\/p>\n","protected":false},"author":2008,"featured_media":277977,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[2501,24523,24524,24525,24522,22780,10103,24521,6143,24520,944,405,17270,14206,24526],"class_list":["post-277614","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-jawa-timur","tag-kuliner-khas-surabaya","tag-lontong-balap","tag-lontong-kupang","tag-makanan-khas-surabaya","tag-pecel-semanggi","tag-petis","tag-petis-udang","tag-rujak-cingur","tag-sambal-petis","tag-sidoarjo","tag-surabaya","tag-tahu-campur","tag-tahu-tek","tag-tahu-telur"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/277614","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2008"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=277614"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/277614\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/277977"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=277614"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=277614"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=277614"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}