{"id":276908,"date":"2024-05-23T17:12:37","date_gmt":"2024-05-23T10:12:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=276908"},"modified":"2024-05-23T21:44:40","modified_gmt":"2024-05-23T14:44:40","slug":"upin-ipin-ditonton-orang-dewasa-yang-ingin-nostalgia-dan-ghibah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/upin-ipin-ditonton-orang-dewasa-yang-ingin-nostalgia-dan-ghibah\/","title":{"rendered":"Alasan Orang Dewasa Masih Suka Nonton Upin Ipin, Ingin Nostalgia hingga Episode yang Ghibah-able"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu terakhir, tulisan tentang Upin Ipin sering wara-wiri di Terminal Mojok. Ada tulisan dengan angle yang biasa, seperti episode<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">terbaik<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> hingga<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">terburuk<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Upin Ipin. Ada pula tulisan dengan angle yang tidak biasa. Misalnya, tulisan tentang investigasi siapa<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">ayah Mail<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> sebenarnya, atau kenapa bisa ada<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">foto Susanti<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> di kamar Jarjit. Termasuk, itu lho, yang membayangkan-membayangkan. Salah satu yang paling ngena adalah membayangkan<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/upin-ipin-kkn-mei-mei-mail-jadi-kesayangan-karang-taruna\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin ikut KKN<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dan duo kembar itu jadi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">joki skripsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketahuan banget kalau jamaah Mojokiyah ternyata penggemar militan serial anak-anak asal Malaysia ini. Saya berani jamin, mereka yang menulis tentang Upin Ipin pasti orang dewasa. Itulah hebatnya tontonan ini. Pemujanya tidak hanya mereka yang usia belia, tapi juga orang dewasa yang setia menonton setiap episodenya. Kira-kira kenapa ya?<\/span><\/p>\n<h2><b>Zaman mereka kecil, nggak ada animasi seperti Upin Ipin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Layaknya pepatah yang menyebut <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/katanya-cinta-tak-butuh-alasan-lalu-kenapa-witing-tresno-jalaran-seko-kulino\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">witing tresna jalaran saka kulina<\/span><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kegemaran orang dewasa menonton duo botak itu bisa jadi karena rutinitas menemani bocil di depan TV. Kebetulan, tontonannya adalah Upin Ipin. Akhirnya, dari yang semula hanya menemani, eh malah ikutan jatuh hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang kita tahu, latar belakang serial Upin Ipin adalah kehidupan sehari-hari tokoh utama beserta dengan keluarga, teman, dan warga kampungnya. Cerita jenis ini, jarang sekali ditemukan pada serial kartun yang ada di era tahun 2000-an apalagi 90-an. Sebagian besar animasi pada tahun itu bercerita tentang kekuatan super. Sebut saja The Powerpuff Girls, Ultraman, Power Rangers, Saints Seiya, Satria Baja Hitam, dll. Bahkan, sekelas Doraemon pun, meski latarnya adalah kehidupan Nobita, tetap saja mengandung unsur kekuatan super. Yaitu, lewat alat-alat ajaib milik si kucing robot masa depan, Doraemon. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, menonton Upin Ipin bagi orang dewasa itu seperti menemukan sesuatu yang baru, yang tidak mereka dapatkan di masa lalu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hidup orang dewasa sudah ruwet, butuh tontonan yang ringan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tebakan saya, alasan lain kenapa orang dewasa masih suka nonton Upin Ipin adalah karena alur ceritanya yang sederhana. Kalau boleh mengibaratkan, serial tentang kehidupan duo bocil kembar ini seperti es teh yang bisa segera kamu minum untuk meredakan dahaga. Kamu tidak perlu takut tersedak boba, jelly, kelapa muda, dan hal lain yang biasa dimasukkan dalam minuman kekinian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba bandingkan dengan animasi lain.<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/one-piece-bukan-sekadar-komik-dia-maha-karya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> One Piece<\/a> atau Naruto, misalnya. Saya nggak bilang Naruto maupun One Piece itu jelek, ya. Hanya saja, kedua animasi tersebut terlalu banyak lipatan konflik sehingga cenderung bikin mikir. Bayangkan. Uripmu sudah dibuat ruwet di pekerjaan, ehhh, masih harus mikir apa yang terjadi dengan klan Uzumaki, kapan Sasuke jatuh cinta pada Sakura, dll. Ruwet&#8230; ruwet.<\/span><\/p>\n<h2><b>Upin Ipin lebih dari sekadar hiburan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesederhanaan cerita Upin Ipin ternyata sukses memikat hari penonton dewasa. Serial ini makin istimewa di mata orang dewasa sebab seringkali mengingatkan mereka dengan hal-hal yang terjadi saat mereka masih kecil. Misalnya saja, saat si kembar dan kawan-kawan main di sungai atau saat mencari belalang. Termasuk ketika duo botak itu seluncuran dengan menggunakan daun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak kecil jaman sekarang belum tentu merasakan betapa serunya melakukan hal-hal tersebut. Beda dengan mereka yang saat ini sudah dewasa. Main di kali dan cari belalang sudah jadi hal yang biasa. Itu sebabnya, bagi orang dewasa, menonton Upin Ipin lebih dari sekadar hiburan semata. Menonton Upin Ipin tak ubahnya seperti sedang bernostalgia dengan hal-hal yang kerap mereka lakukan di masa lalu. Bikin candu!<\/span><\/p>\n<h2><b>Episode yang ghibah-able, sesuai dengan jiwa orang dewasa yang doyan tubir<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu lagi nih alasan kenapa orang dewasa suka nonton Upin Ipin. Berdasarkan pengamatan saya, episode-episode Upin Ipin sangat ghibah-able. Hal-hal tersebut, mungkin tampak biasa di mata anak kecil. Tapi di mata orang dewasa? Oh, tunggu dulu. Tidak semudah itu. Kayak nggak ngerti aja bagaimana jiwa-jiwa tubir orang dewasa mudah sekali meronta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pas episode <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rumah Hijau Opah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, misalnya. Ketika episode ini rilis, jagad media sosial X geger. Banyak netizen meributkan betapa nggak masuk akal tugas yang Cikgu Melati berikan kepada murid-murid di Tadika Mesra. Yakali bocah TK disuruh bikin maket rumah waktunya sehari doang. Nggak kalah heboh, kalian masih ingat nggak saat Fizi nyeletuk soal Upin Ipin yang berstatus sebagai anak yatim? Wah, rame banget tuh. Sampai dibuatkan klarifikasinya oleh <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Les%27_Copaque_Production\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Les\u2019 Copaque Production<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukti lain bahwa tontonan itu sangat ghibah-able ya ada di sini. Di Terminal Mojok. Coba saja ketik di pencarian dengan kata kunci \u2018Upin Ipin\u2019. Niscaya kan kau temukan puluhan bahan mungkin ratusan artikel tentang si kembar dan teman-temannya di sana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain 4 alasan di atas, apa lagi ya alasan kenapa orang dewasa suka nonton Upin Ipin?\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dyan Arfiana Ayu Puspita<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membayangkan-bocah-bocah-di-upin-ipin-kuliah-jurusan-pgsd\/\"><b>Membayangkan Upin Ipin dan Anak Kampung Durian Runtuh Jadi Mahasiswa Jurusan PGSD. Jelas Mail yang Paling Lama Lulus karena Jualan Mulu<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak orang dewasa masih suka nonton Upin Ipin karena beberapa alasan, mulai dari ingin nostalgia hingga episode yang ghibah-able.<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":276912,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13083],"tags":[382,213,24414,5855],"class_list":["post-276908","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-acara-tv","tag-anak-anak","tag-orang-dewasa","tag-tontonan","tag-upin-ipin"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/276908","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=276908"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/276908\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/276912"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=276908"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=276908"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=276908"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}