{"id":276710,"date":"2024-05-23T09:01:22","date_gmt":"2024-05-23T02:01:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=276710"},"modified":"2024-05-23T07:48:29","modified_gmt":"2024-05-23T00:48:29","slug":"pasar-tradisional-binjai-lebih-diminati-daripada-pasar-modern-karena-bisa-drive-thru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pasar-tradisional-binjai-lebih-diminati-daripada-pasar-modern-karena-bisa-drive-thru\/","title":{"rendered":"Di Binjai, Pasar Tradisional Lebih Diminati daripada Pasar Modern karena Bisa Drive Thru"},"content":{"rendered":"<p><em>Meski pasar tradisional di Binjai terkesan kotor dan becek, yang datang berbelanja ke sini lebih banyak daripada ke pasar modern.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah resign dan lebih memilih untuk berbisnis <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kasta-pempek-menurut-orang-palembang-dilihat-dari-isinya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pempek<\/a>, saya jadi tahu kalau belanja di pasar tradisional itu memang menawarkan adrenalin tersendiri. Sebelumnya, cuma istri yang rutin belanja ke pasar seperti ini, saya mah cuma terima bersih di meja makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Kota Binjai sendiri ada beberapa pasar tradisional, mulai dari yang beroperasi setiap hari sampai sejumlah pekanan yang cuma ada setiap satu hingga dua hari dalam seminggu. Sayangnya, di kota tempat saya tinggal ini, pasar\u2014orang Sumatra Utara biasa menyebutnya pajak\u2014memang terkesan kotor dan becek.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak sampai di situ saja, di tempat kayak gini juga banyak penjual yang menggunakan lapak sampai ke badan jalan. Jalan umum yang harusnya bisa dilewati satu sampai dua mobil pun jadinya cuma bisa dilewati beberapa sepeda motor. Sempit bukan main. Belum lagi kalau ada yang belanja pakai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pyramid-cafe-klub-malam-di-bantul-yang-kalah-lawan-jathilan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">motor RX King<\/a>, seisi pasar auto diselimuti asap knalpot.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun karena itu pula, orang-orang Binjai yang berbelanja di pasar tradisional ini bisa bertransaksi langsung tanpa harus turun dari motor, lho. Semacam drive thru gitu. Habis transaksi, tarik gas, lalu pergi mencari kebutuhan lain. Ada kerennya juga kalau dipikir-pikir.<\/span><\/p>\n<h2><b>Di Kota Binjai ada gedung pasar modern, tapi sepinya minta ampun tak seperti pasar tradisional yang selalu ramai<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan muncul di kepala saya ketika melewati sebuah gedung bertuliskan <a href=\"https:\/\/sumut.antaranews.com\/berita\/120107\/pemkot-binjai-akan-bangun-pasar-tradisional-modern\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pasar Rambung<\/a> Kota Binjai yang berada di Jalan Sibolga, Rambung Barat, Kecamatan Binjai Selatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLah, ini ada pasar modern, tapi kok sepi?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gedung tersebut tampak besar, sepertinya terdiri dari dua lantai. Ada space khusus untuk parkir kendaraan roda dua maupun empat. Namun, tampak dari luar, hanya ada tiga atau empat kios yang terisi, itu pun seperti toko baju atau aksesori.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak ada kepadatan pengunjung di dalam pasar modern itu, tak seperti pasar tradisional di Kota Binjai yang selalu ramai. Dari depan gedung, saya memicingkan mata untuk melihat jauh lebih dalam. Ya, kios bagian dalam tak terisi satu pun. Pasar modern ini tampaknya tidak diminati walaupun kelihatan banget masih sangat baru. Gagal total.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kata inang-inang, sewanya mahal dan warga belum terbiasa karena lokasi yang jauh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ke pasar tradisional di Kota Binjai di lain hari, iseng saya coba bertanya ke salah satu inang-inang penjual bawang dan cabai langganan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNang, ada rupanya pajak yang modern di Rambung itu, ya? Kok nggak pindah ke sana kita, Nang?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHalah, sewanya mahal, yang datang juga nggak ada. Mau kalian ke sana rupanya? Lokasinya aja nggak strategis!\u201d Kkata Inang tersebut, lengkap dengan logat Karo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawaban inang-inang itu cukup membekas di benak saya. Di satu sisi, pemerintah kota bukannya tak punya niat untuk membuat taraf hidup warganya jadi lebih baik. Tapi, mungkin saja warganya yang memang belum siap beralih ke pasar modern selama pasar tradisional yang lama masih dirasa lebih efisien di Kota Binjai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, kalau belanja di pasar tradisional, kita bisa langsung beli keperluan dari badan jalan, nggak perlu repot parkir-parkir motor lagi. Kalau soal becek dan sumpek, kayaknya bisa dimaafkan dengan harga yang juga cenderung lebih murah. Kita bisa nego sampai jadi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara di pasar modern, saya sendiri punya anggapan kalau harga-harga di sana cenderung lebih mahal. Gedung yang bersih dan terawat mungkin harus dibayar dengan harga sewa kios atau lapaknya yang tinggi, dan karena itu pula para penjual berpotensi akan menaikkan harga dagangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faktanya, inang-inang yang sudah puluhan tahun berjualan di pasar tradisional Binjai tadi mengatakan demikian. Itu berarti desas-desus mahalnya harga sewa di gedung pasar modern memang benar adanya, di samping lokasinya yang kurang strategis.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Pesan untuk pemerintah yang memang niat bangun pasar modern<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, buat para pemangku kebijakan, ketimbang uangnya habis untuk bangun pasar modern yang akhirnya tak terpakai dan jadi usang, mending dipikir ulang saja deh niatan tersebut. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Atau kalau mau, harga sewa kios atau tenant di sana jangan ketinggian. Kasihan tuh para penjual bawang, cabai, ikan, dan sebangsanya. Bisa-bisa mereka malah terpaksa menaikkan harga demi nutupin biaya sewa lapak mereka yang tinggi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, letaknya pasar juga perlu diperhatikan. Jangan di pinggir-pinggir kota banget. Susah dijangkau sebagian warga. Di tengah-tengah kota sudah paling pas. Baru, deh, nilai-nilai modern bisa diaplikasikan pada sisi kebersihan dan penataan yang jauh lebih oke.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh iya satu lagi, pasar modern seharusnya tetap bisa menjunjung tinggi nilai-nilai pasar tradisional, contohnya dengan menyediakan jalur motor seperti di Binjai. Jadi pengunjung tetap bisa belanja dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/drive-thru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sistem drive thru<\/a> layaknya pasar tradisional. Kalau semua itu terpenuhi, pasar modern di Binjai pasti lebih diminati!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Irsyad<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pasar-tradisional-dengan-segala-keunikan-transaksi-dan-interaksinya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pasar Tradisional dengan Segala Keunikan Transaksi dan Interaksinya<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meski pasar tradisional di Binjai terkesan kotor dan becek, yang datang ke sini untuk berbelanja lebih banyak daripada pasar modern.<\/p>\n","protected":false},"author":2663,"featured_media":276872,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[24406,7291,5109,24405,1200,2397,10612],"class_list":["post-276710","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-binjai","tag-drive-thru","tag-pasar","tag-pasar-modern","tag-pasar-tradisional","tag-sumatera-utara","tag-sumatra-utara"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/276710","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2663"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=276710"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/276710\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/276872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=276710"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=276710"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=276710"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}