{"id":27589,"date":"2020-02-17T10:50:50","date_gmt":"2020-02-17T03:50:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=27589"},"modified":"2020-02-17T10:51:03","modified_gmt":"2020-02-17T03:51:03","slug":"kkn-di-desa-kayangan-tidak-ada-angkringan-di-sini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kkn-di-desa-kayangan-tidak-ada-angkringan-di-sini\/","title":{"rendered":"KKN di Desa Kayangan: Tidak Ada Angkringan di Sini"},"content":{"rendered":"<p>Ketika ibadah di angkringan tiba, tidak ada hal yang menarik selain obrolan tentang Mia Khalifa yang akan menikah atau Siska E-nya tiga yang hendak plesiran ke mana. Itu hukumnya wajib, tanpa ditulis di dalam undang-undang atau malah tidak termuat dalam sila-sila sakral Pancasila. Jika bukan tentang wanita, ya pasti obrolan liar itu larinya ke bola.<\/p>\n<p>Namun, terkadang obrolan bergulir bak bola liar yang panas. Misalnya, tentang pencapaian jamaah angkringan dalam setiap sendi kehidupan mereka. KKN salah satunya, terwajib dan seperti sebuah keharusan yakni menjabarkan kejadian unik yang meliputinya.<\/p>\n<p>Ada yang KKN di Kutowinangun. Bercerita dengan bergebu dan memburu. Ia rela pulang pergi Jogja dengan lokasi KKN-nya. Seperti saat ia bercerita salah satunya. Katanya, demi ibadah angkringan. Rela <em>ngelaju<\/em> karena mau melewatkan ibadah angkringan meskipun yang sunnah seperti mengunyah mendoan panas sekalipun.<\/p>\n<p>Ada pula yang KKN di Raja Ampat. Melalui media sosialnya, ia membuka galeri demi galeri, pulau demi pulau dan keindahan rekan-rekan KKN-nya. Katanya, Raja Ampat adalah potongan surga yang terjatuh. Dan bumi Papua lah tempat yang beruntung mendapatkannya. Ia juga menyandingkan Raja Ampat seperti sepotong senja yang dicuri oleh Sukab-nya Seno Gumira.<\/p>\n<p>Yang KKN di dekat Terminal Giwangan tidak mau kalah. Ia bercerita tentang betapa menyeramkannya makam kuno di dalam terminal tersebut. Katanya, kisah KKN di Desa Penari tidak ada apa-apanya ketimbang legenda di tempat itu. Bedanya, tidak ada adegan \u201cnalar pincang\u201d seperti apa yang dilakukan oleh Bima dan Ayu.<\/p>\n<p>Sedangkan yang KKN di Gunungkidul daerah Bintaos menceritakan betapa serunya mencari tempat laundry yang eksistensinya setara dengan mitos. Ada namun seperti disembunyikan. Harus memecahkan berbagai misteri terlebih dahulu sebelum masuk ke babak bonus. Nah, laundry di Bintaos setara dengan babak bonus tersebut.<\/p>\n<p>Saya, selaku imam besar angkringan, hanya manggut-manggut mendengarkan. Sampai semua mata jamaah angkringan menatap saya yang sedang mengelus jenggot. Mereka menunggu giliran saya bercerita. \u201cKKN saya tidak seseru kalian,\u201d kata saya, mereka malah semakin khusyuk mendengarkan. \u201cTidak ada angkringan di sana,\u201d wajah mereka begitu terkejut. Ketakutan. Salah satu jamaah angkringan bahkan berlari sembari berteriak dan tak sanggup mendengarkan.<\/p>\n<p>Saya pun mulai berdakwah. Sembari memegang teh anget dengan ritmis. \u201cDi Kayangan, tidak ada yang namanya potongan senja atau celengan rindunya <a href=\"https:\/\/tirto.id\/konser-menuju-istirahat-fiersa-besari-pamit-dari-panggung-musik-eoiR\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mas Fiersa Besari<\/a>. Juga tidak ada yang namanya misteri penuh teka-teki yang membingungkan seperti menjawab <em>chat<\/em> kekasih yang hanya menjawab <em>terserah!<\/em>\u201d<\/p>\n<p>\u201cTerserahnya harus pakai tanda seru?\u201d tanya salah satu jemaah angkringan.<\/p>\n<p>\u201cPakai tanda seru!\u201d<\/p>\n<p>\u201cBiar apa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cBiar ramai!\u201d jawab saya dengan gundah. Menyeruput teh yang tidak lagi panas. Saya melanjutkan, \u201cKKN saya prokernya hanya bergaul dengan warga sekitar. Dalam artian, ketika mereka minta ditemani tidur, saya musti hadir. Ketika mereka berkumpul dan berbincang sore hingga malam seperti ini, saya musti hadir. Walau pada dasarnya saya tidak paham apa yang mereka obrolkan. Bukan bermaksud tidak menghargai, tapi menurut saya pribadi dan kapasitas otak saya yang terbatas, Bahasa Sasak itu tidak mudah.\u201d<\/p>\n<p>\u201cSungguh menyiksa!\u201d<\/p>\n<p>\u201cTidak. Sama sekali tidak. Saya justru bahagia karena memahami satu hal, bahwa negeri kita ini luas. Mereka yang menyebut bumi seluas daun kelor mungkin belum pernah berjalan dari Kayangan sampai Pansor Daya dengan rute menanjak. Atau belum pernah membelai Rinjani melalui rute pendakian Sembalun. Namun, menjadi dilema ketika mereka meminta ditemani mendengarkan lagu dangdut\u2026\u201d<\/p>\n<p>\u201cAstaga! Musik dangdut itu dosa! Tidak ada musik dangdut dalam perkumpulan kita. Anda ingat?\u201d<\/p>\n<p>\u201cTentu\u2026tentu saya ingat,\u201d saya kembali menyeruput teh dengan perlahan. Kini teh tersebut menjadi panas seperti semula. Ternyata, yang saya seruput bukan teh milik saya. \u201cMaaf,\u201d kata saya kepada si pemilik teh.<\/p>\n<p>\u201cSuatu berkah teh saya diminum oleh Anda.\u201d<\/p>\n<p>\u201cHey, musik dangdut itu dosa!\u201d desak yang lainnya. Seakan tak mengizinkan saya untuk meminta maaf.<\/p>\n<p>\u201cIya, dalam pandangan kita musik itu dosa. Namun, di Kayangan, dangdut adalah andalan. Rhoma Irama dan gitar buntungnya adalah <em>fighter<\/em> terbaik dalam menemani badai gunung di Rinjani. Didi Kempot sedang masuk perlahan, mencoba menerobos gendang telinga yang biasanya dihujani oleh dendangan maut Tabir Kepalsuan atau Sebujur Bangkai. Kalian tahu, saya malah tidak suka dengan kedua lagu itu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cNah! Itu baru imam besar angkringan kami yang konsisten!\u201d<\/p>\n<p>\u201cIya. Menurut saya lagu itu sangat kurang. Malah lebih enak Setetes Air Hina karena mengingatkan saya kepada jutaan kasus pelecehan yang belum diselesaikan,\u201d semua mata menatap saya dengan dinginnya. \u201cAh, lupakanlah. Yang jelas, pola makan selama di sana hancur tidak karuan. Bahkan saya mendapat hadiah berupa penyakit maag. Titik didih saya terjadi ketika tidak bisa membedakan antara perihnya maag atau ingin berak karena keduanya ternyata rasanya sama.\u201d<\/p>\n<p>\u201cItu penyakit kaum miskin! Anda sudah terjangkit!\u201d<\/p>\n<p>\u201cIya,\u201d saya menjawab dengan sopan. Tak ingin wibawa ini melayang karena penyakit maag. \u201cTapi apa bedanya dengan dirimu yang sibuk mencari laundry yang seperti mitos itu?\u201d aku melihat salah satu jamaah angkringan yang tadi bercerita, ia hanya diam. \u201cYa, penyakit maag saya seperti itu. Kenang-kenangan abadi yang selalu mengingatkan saya ketika telat makan. Bahkan, maag itu lebih indah ketimbang oleh-oleh foto indah yang kalian kirimkan ke media sosial.\u201d<\/p>\n<p>\u201cHak saya!\u201d teriak jamaah angkringan yang tadi bercerita tentang Raja Ampat.<\/p>\n<p>\u201cKKN Anda saya rasa hanya menambah dosa! Terlebih, tidak ada angkringan!\u201d ujar salah satu di antara mereka.<\/p>\n<p>\u201cAngkringan adalah tempat terindah di bumi. Di mana ceker dan tepung yang bersetubuh secara utuh membentuk gugusan rasa yang tiada tara. Ada pula ibadah sunnah kita, memisahkan seledri dengan bakwan. Bukankah kita benci jika seledri ditumis secara halus?\u201d<\/p>\n<p>\u201cSeledri dosa!\u201d<\/p>\n<p>\u201cIya,\u201d saya mengambil napas panjang. Menyeruput teh yang dingin dan hambar. Nah, teh ini benar-benar milik saya! \u201cApa lagi di angkringan terdapat obrolan yang kadang kala menimbulkan gejolak kebatinan yang teramat dalam. Obrolan-obrolan kehidupan; kisah kita mendaki tapak demi tapak pencapaian tanpa memikirkan perasaan lawan bicara. Atau berkeluh kesah tentang satu hal, kemudian kita menjawab; <em>aku juga berkeluh kesah tentang hal itu!<\/em>\u201d<\/p>\n<p>\u201cPakai tanda seru lagi?\u201d<\/p>\n<p>\u201cPakai.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBiar apa? Biar ramai?\u201d<\/p>\n<p>\u201cBiar kita paham, terkadang suatu hal yang menimbulkan dosa, terkadang malah memunculkan nilai. Dosa-dosa yang kita pakemkan pribadi. Disahkan secara mandiri. Dengan tanda-tangan kita yang dibubuhi. Hingga akhirnya kita malah panik sendiri. KKN di Kayangan mengingatkan akan satu hal yang selama ini hilang dalam diri saya, selaku imam besar angkringan, yakni yang sangat mendasar; kemanusian.\u201d<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cerita-kkn-benar-nggak-sih-mahasiswa-itu-agen-perubahan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Cerita KKN, Benar Nggak sih Mahasiswa Itu Agen Perubahan?<\/a> <b><\/b>atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teman saya yang KKN di Gunungkidul daerah Bintaos menceritakan betapa serunya mencari tempat laundry yang eksistensinya setara dengan mitos.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":27602,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1641,275],"class_list":["post-27589","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-angkringan","tag-kkn"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27589","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27589"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27589\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27602"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27589"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27589"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27589"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}