{"id":275706,"date":"2024-05-12T08:28:25","date_gmt":"2024-05-12T01:28:25","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=275706"},"modified":"2024-05-14T13:50:25","modified_gmt":"2024-05-14T06:50:25","slug":"3-keunikan-kota-solo-yang-nggak-mungkin-ditiru-kota-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-keunikan-kota-solo-yang-nggak-mungkin-ditiru-kota-lain\/","title":{"rendered":"3 Keunikan Kota Solo yang Nggak Mungkin Ditiru dan Diterapkan Kota Lain karena Bakal Jadi Aneh dan Ambyar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Solo adalah salah satu daerah dengan kekayaan budaya yang amat besar. Hal itu akhirnya menjadi ciri khas atau keunikan tersendiri. Mulai dari bangunan, tata kota, makanan, hingga transportasinya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua keunikan dan ciri khas ini menjadi pesona tersendiri. Ini yang membuat Kota Solo tidak kalah, bahkan bisa melampaui pesona budaya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/krl-jogja-solo-karanganyar-jogja-banyak-masalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja<\/a>. Bahkan, lewat slogan The Spirit of Java, daerah ini ingin menjadi pusat budaya di Pulau Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara sederhana slogan \u201cThe Spirit of Java\u201d dapat diartikan sebagai \u201cJiwanya Jawa\u201d. Hadirnya slogan tersebut karena Kota Solo ingin dikenal sebagai pusat perkembangan budaya jawa. Slogan ini menawarkan keunikan wilayah. Meliputi kekayaan peninggalan warisan budaya, kekhasan karakter masyarakat yang hangat dan ramah, dan kekuatan tradisi perdagangan dan industri yang tangguh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Segala keunikan itulah yang menjadi daya tarik yang tidak mungkin ada di daerah lain. Oleh sebab itu, jika daerah lain memaksa ingin seperti Kota Solo, jatuhnya malah aneh. Berikut 3 keunikan dalam perspektif saya sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Keberadaan rel kereta di Jalan Slamet Riyadi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu bisa menemukan salah satu keunikan Kota Solo di Jalan Slamet Riyadi. Kalau beruntung, kamu bisa melihat kereta api tiba-tiba melintas di sebuah rel kereta yang melintang dan membelah jalan besar tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penampakan rel kereta ini memang sangat unik. Ia selalu menjadi pemandangan menarik bagi banyak pendatang atau wisatawan.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalur kereta yang sangat unik ini sudah ada sejak zaman Belanda (1922). Lalu, pada 2009, Pemkot Surakarta melakukan revitalisasi dan peremajaan jalur kereta. Sejak saat itu, jika membahas Kota Solo, wisatawan pasti sangat tertarik melihat kereta api melintas di sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu kereta yang melintas adalah KA Bathara Kresna. Kereta ini berangkat dari Stasiun Purwosari dan berakhir di Stasiun Wonogiri atau sebaliknya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, jika ingin merasakan sensasi naik kereta di tengah jalan, kamu bisa membeli tiketnya via aplikasi KAI Access. Kamu juga bisa membeli tiket secara langsung di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-tempat-wisata-di-solo-buat-warga-jogja-yang-tidak-jauh-dari-stasiun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Stasiun Purwosari<\/a>, Stasiun Solo Kota (Sangkrah), Stasiun Sukoharjo, Stasiun Pasar Nguter, dan Stasiun Wonogiri. Tiketnya cuma Rp4 ribu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sekarang coba bayangkan kalau ada daerah meniru keunikan jalur kereta di Kota Solo ini. Misalnya Jogja atau Jakarta. Sudah sangat kacet, pasti bakal tambah runyam ketika ada kereta api melintas di jalan raya.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-keunikan-kota-solo-yang-nggak-mungkin-ditiru-kota-lain\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Solo itu khas dan tidak mungkin ditiru daerah lain.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>#2 Laweyan yang bisa bikin bingung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Solo memiliki sebuah daerah yang jalan dan gang di sana semua mirip. Bagi yang kali pertama berkunjung, pasti sulit membedakan dan bisa tersesat. Nama daerah tersebut adalah Laweyan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Laweyan sendiri adalah sebuah kecamatan yang terletak di sebelah barat Kota Solo. Kecamatan ini juga terkenal sebagai kampung batik<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, salah satu titik yang paling membuat pusing pengunjung anyaran adalah jalanan ke arah Masjid Keraton. Ketika melintas di sini, seakan-akan semuanya sama. Bahkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-nggak-ramah-bagi-orang-yang-buta-arah-mata-angin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Google Maps<\/a> bisa nggak berguna. Ada jalan 1 arah, yang membingungkan pengendara yang baru melintas di sini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu-satunya yang bisa kamu andalkan di sini adalah bertanya ke orang lokal. Tenang, orang Kota Solo terkenal akan keramahannya. Mereka pasti dengan senang hati memberi tahu arah, sekaligus tips supaya bisa \u201cselamat\u201d menembus Laweyan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b># Selat Solo yang menjadi ikon Kota Solo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang kita bergeser ke kuliner di mana Kota Solo punya keunikan bernama selat. Selat Solo sendiri adalah <a href=\"https:\/\/surakarta.go.id\/?p=30720\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kreasi kuliner salad, modifikasi dari makanan Eropa<\/a>. Begitu masuk ke Solo, para juru masak memodifikasi rasanya supaya sesuai dengan lidah para raja-raja Kasunanan Solo.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, kecap manis menggantikan kecap inggris dan mayones. Alhasil, tercipta sebuah saus khas berwarna cokelat. Nama \u201cselat\u201d sendiri berasal dari Bahasa Belanda slachtje, yang artinya \u2018salad\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kecap, para juru masak mengganti daging setengah matang dengan daging sapi cincang matang. Juru masak lantas menambahkan sosis, tepung roti, dan telur. Mereka membentuk campuran ini seperti lontong, membungkusnya dengan daun pisang, dan kemudian mengukusnya sampai matang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah dingin, juru masak mengirisnya dengan ukuran tebal, lalu digoreng dengan sedikit margarin. Juru masak kala itu menyajikan selat dengan sayuran rebus seperti wortel, buncis, tomat, dan daun selada, serta kentang goreng untuk memberi rasa kenyang. Maka jadilah, keunikan Kota Solo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, itulah dia 3 keunikan Kota Solo. Menurut saya, daerah lain akan sulit untuk mencontek keunikan tersebut. Jika memaksa meniru, setidaknya, tidak akan mendapatkan \u201crasa yang otentik\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Sholy Khoirudi Zuhri<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-hanya-bisa-anda-dapatkan-di-kota-solo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Hal yang Hanya Bisa Anda Dapatkan di Kota Solo<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kota Solo mempunyai 3 keunikan budaya yang nggak mungkin ditiru oleh daaerah lain karena bakal terlihat aneh dan ambyar.  <\/p>\n","protected":false},"author":2553,"featured_media":275738,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[20820,24292,24290,14262,24291,18944],"class_list":["post-275706","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jalan-slamet-riyadi","tag-ka-bathara-kresna","tag-kampung-batik-laweyan","tag-kota-solo","tag-laweyan-solo","tag-selat-solo"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/275706","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2553"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=275706"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/275706\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/275738"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=275706"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=275706"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=275706"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}