{"id":2757,"date":"2019-06-01T10:15:25","date_gmt":"2019-06-01T03:15:25","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2757"},"modified":"2022-01-17T15:45:21","modified_gmt":"2022-01-17T08:45:21","slug":"kepalsuan-kepalsuan-yang-bikin-muntah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kepalsuan-kepalsuan-yang-bikin-muntah\/","title":{"rendered":"Kepalsuan-Kepalsuan yang Bikin Muntah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dunia ini, kehidupan sudah sumpek sama puing-puing informasi yang tercecer sembarangan seperti sampah. Di mana pun kita berada, kita akan selalu disuguhi oleh potret-potret pemengaruh yang menjelma malaikat. Seperti saat menjelang pemilu belakangan misalnya\u2014banyak terpampang baliho-baliho dengan foto para calon dengan wajah berseri seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/mfu\/esai\/panduan-memahami-iklan-pks-yang-adiluhung-lucunya\/\">artis iklan lotion pemutih badan<\/a>. Memang benar-benar!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sepanjang jalan, tak lagi kutemui keasrian. Warna-warni baliho raksasa menyilaukan mata. Menutupi cantiknya langit sore. Padahal, nggak ada tuh paparan visi misi yang jelas. Foto saja segede gaban buat apa? Dikira mereka\u2014kami ini tolol hanya memilih pemimpin berdasarkan kecantikan atau ketampanannya saja? Benar-benar tidak ada esensi sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari berhenti membahas baliho. Ada hal yang lebih menjemukan daripada itu. Zaman ini, kita tentu acap kali menemukan laporan-laporan palsu alias pencitraan yang tidak sesuai kenyataan. Kita sering menemukannya hilir mudik di beranda atau kolom <em>explore<\/em> media sosial. Di sana, akan kita temui banyak pemimpin yang terjun langsung ke sawah yang berlumpur, atau sekadar ikut nimbrung makan bersama para buruh\u2014atau merangkul para pengais sampah. Katanya\u2014guyub rukun sama rata, tidak ada ketimpangan di antara penguasa dan rakyatnya. <em>Eh<\/em> <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ndilalah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, hanya di depan kamera saja <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">to<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Oalah Paaaak Pak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">~ <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Buuuu Bu~<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejujurnya, saya bicara begini bukan asal tuduh. Karena beberapa kali saya menemukan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/pencitraan-anies-baswedan-di-pulau-reklamasi-deJc\">pemimpin yang suka <em>action<\/em> di depan dokumentator<\/a> saja. Asal klik, unggah, dengan <em>caption<\/em> yang terlampau bijak, citra yang tergambar akan menampilkan sosok pemimpin yang penuh kesahajaan dan citra baik\u2014padahal aslinya sampah abis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak semuanya sih yang busuk begitu. Ada kok beberapa pemimpin yang berhati tulus, yang bersungguh-sungguh ingin membantu rakyat kecil\u2014namun tidak sedikit pula yang cuma pura-pura. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada salah satu penelitian yang bilang, rata-rata milenial main telepon genggam adalah 5 jam per hari. Itu artinya, sekitar satu pertiga waktu melek kita digunakan untuk hidup di dunia maya. Iyaaa\u2014dunia yang berbanding terbalik dengan dunia nyata dan dipenuhi kelancungan itu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lhooo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">~ <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, tidak heran bila para penguasa punya strategi licik untuk mengelabui kita\u2014menyesatkan persepsi dan prasangka kita. Karena mereka berpikir kita akan menelan cuma-cuma melalui unggahan yang mereka sandiwarakan di social media. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka tahu betul, kita adalah orang yang malas riset, kita sering tersulut emosi dengan cepat, atau sering asal setuju dengan satu kali lihat saja, dan kita adalah orang yang mudah percaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, atas nama transparansi yang sekarang lagi digembor-gemborkan dan\u2014katanya sih\u2014dijunjung oleh para petinggi negeri, kita dijejali tipu muslihat\u2014oleh siasat mereka yang membuat kita buta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kepalsuan media sosial kini memang jadi racun yang merusak batin, mengotori pikiran-pikiran waras kita, membuat kita jadi gila. Kamu tahu kan, tak jarang orang merasa depresi hanya karena media sosial. Sering juga kita jadi super cinta, rela memihak dan membela seseorang demi hal-hal yang tidak rasional. Media sosial jadi seperti tuhan, sebab begitu mudahnya orang menghamba dan membela pesohor mati-matian. <\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Pencitraan, hoaks, dan kebenaran yang dilebih-lebihkan. Di mana kini kebenaran yang benar-benar benar? <\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa sebenarnya yang salah? Apakah orang-orang yang suka pamer? Atau orang-orang yang jualan <em>online<\/em> barang <em>branded<\/em> harga mahal dengan kualitas picisan? Atau netizen yang suka julid dan mengumbar kebencian di kolom komentar sana sini? Atau para penguasa yang suka pura-pura baik bak dewa? Atau para pengembang media sosial? Atau pencita telepon genggam? Atau saya yang suka menyalahkan orang-orang? <em>Entahlah<\/em>~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita semua tahu, di dunia ini tidak ada kebenaran yang hakiki kan? Bukankah kita hanya membenarkan apa-apa yang kita yakini saja? Dan kepalsuan itu hanya diri sendiri yang tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang pasti\u2014tidak ada yang benar-benar salah atau benar, yang ada hanya kita yang tidak bijak. Maka, memang begitulah manusia. Untuk menjadi dirinya sendiri saja lupa bagaimana caranya\u2014termasuk saya yang suka menyalahkan semua orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga sakit mual ini lekas sembuh.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kepalsuan media sosial kini memang jadi racun yang merusak batin, mengotori pikiran-pikiran waras kita, membuat kita jadi gila.<\/p>\n","protected":false},"author":42,"featured_media":2761,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12905],"tags":[180,718,301,561],"class_list":["post-2757","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik","tag-caleg","tag-kepalsuan","tag-pemilu-2019","tag-politik-indonesia"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2757","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/42"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2757"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2757\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2761"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2757"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2757"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2757"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}