{"id":275600,"date":"2024-05-11T09:40:42","date_gmt":"2024-05-11T02:40:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=275600"},"modified":"2024-05-11T11:01:20","modified_gmt":"2024-05-11T04:01:20","slug":"jogja-nggak-ramah-bagi-orang-yang-buta-arah-mata-angin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-nggak-ramah-bagi-orang-yang-buta-arah-mata-angin\/","title":{"rendered":"Ketika Jogja Nggak Ramah bagi Orang Buta Arah Mata Angin, Google Maps Adalah Penyelamat"},"content":{"rendered":"<p><em>Dear warga Jogja, bisakah memberi petunjuk jalan tanpa menggunakan arah mata angin?\u00a0<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/google-maps-ternyata-juga-hobi-ngeprank\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Google Map<\/a>s alias Gmaps kerap menjadi bualan netizen karena sering memberi rekomendasi jalan yang menyulitkan, bahkan bikin orang kesasar. Itu mengapa, banyak orang lebih percaya pada warga lokal alias warlok ketika menanyakan arah menuju suatu tempat. Petunjuk warlok lebih akurat.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga menganut pemahaman itu.\u00a0 Ketika di tempat baru, saya lebih percaya pada warlok daripada produk Google yang satu itu. Namun, beda ceritanya ketika saya melancong di Jogja. Saya pasrahkan seluruh hidup saya pada Google Maps. Kenapa?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Orang Jogja memberi petunjuk jalan menggunakan arah mata angin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Jogja memang aduhai ramahnya. Ketika wisatawan kebingungan dan tersesat mereka tidak segan-segan membantu. Sayangnya, kebanyakan orang Jogja menjelaskan petunjuk ke suatu tempat dengan menggunakan arah mata angin. Iya, mata angin seperti utara, selatan, barat, timur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara menjelaskan seperti itu tidak salah sama sekali. Penggunaan arah mata angin memang wajar dalam kehidupan sehari-hari warga Jogja. Namun, hal itu sangat asing bagi saya yang bukan berasal dari Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di daerah asal saya, menjelaskan suatu tempat biasanya menggunakan patokan tempat lain. Di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-salah-paham-yang-kerap-terjadi-terkait-jabodetabek\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jabodetabek <\/a>misalnya<em>,<\/em> ada yang menjelaskan tempat dengan patokan jalan, gedung atau berbagai tempat terkenal. Misalnya, gedung a berada di dekat stasiun b. Contoh yang lain, menunjukkan sebuah tempat menggunakan acuan kanan dan kiri. Seperti kalau ke jalan c dari tempat bertanya tinggal belok ke kanan, lalu setelah itu ke kiri masuk ke jalan d. Tinggal ikuti jalan itu saja nanti sampai di jalan c.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menjelaskan arah mata angin dalam bahasa Jawa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahu apa yang lebih memusingkan dari petunjuk arah menggunakan mata angin? Kebanyakan orang Jogja menjelaskan arah mata angin itu dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/istilah-bahasa-jawa-yang-susah-diartikan-ke-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Jawa<\/a>. Iya, mereka suka keceplosan menjelaskan dengan lor (utara), kidul (selatan), wetan (timur), kulon (barat). Alhasil saya yang mendengar itu hanya bisa melongo.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengar-dengar, orang luar Jawa yang sudah lama tinggal di Jogja pun masih kesulitan menjelaskan arah menggunakan mata angin. Apalagi mata angin dalam bahasa Jawa. Apalah saya dan mungkin segelintir orang lain yang hanya mampir sehari atau dua hari, mentok-mentok seminggu ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Kasihanilah kami pelancong yang buta arah mata angin\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi saya tekankan, memberi arahan menggunakan mata angin sama sekali tidak keliru. Itu hanya sebuah kebiasaan yang asing bagi segelintir orang. Namun, kalau boleh sedikit memberi saran untuk warlok Jogja, tolong lihat orang yang kalian beri arahan. Kalau lawan bicara sudah terlihat pening dan kebingungan, tolong pastikan mereka paham. Apabila tidak paham, coba jelaskan dengan cara lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, bagi para wisatawan, tolong menyesuaikan diri. Minimal, jangan kalian berburuk sangka pada para warlok Jogja. Bukannya mereka nggak mau membantu, memberi arah menggunakan mata angin adalah kebiasaan mereka. Kalau kalian tidak paham, cobalah minta tolong mereka untuk menjelaskan ulang dengan cara lain secara halus dan sopan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dengan cara apapun masih kesulitan, jalan terakhir memang pasrahkan diri kalian pada <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Google_Maps\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Google Maps<\/a>, walau kadang ngaco.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ahmad Arief Widodo<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-nggak-ramah-pejalan-kaki\/\"><b>Pejalan Kaki \u201cDilarang\u201d di Kota Semarang<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Warlok Jogja terbiasa memakai arah mata angin untuk memberi petunjuk jalan. Orang yang buta arah mata angin lebih mengandalkan Google Maps.  <\/p>\n","protected":false},"author":1760,"featured_media":275647,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10305,115,7586,3106,9830],"class_list":["post-275600","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-arah-mata-angin","tag-jogja","tag-mata-angin","tag-pariwisata","tag-wisatawan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/275600","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1760"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=275600"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/275600\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/275647"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=275600"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=275600"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=275600"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}