{"id":27557,"date":"2020-03-15T10:59:13","date_gmt":"2020-03-15T03:59:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=27557"},"modified":"2021-11-14T00:19:44","modified_gmt":"2021-11-13T17:19:44","slug":"makanan-yang-sering-menimbulkan-perdebatan-di-medsos","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makanan-yang-sering-menimbulkan-perdebatan-di-medsos\/","title":{"rendered":"Makanan yang Sering Menimbulkan Perdebatan di Medsos"},"content":{"rendered":"<p>Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah tulisan di Terminal Mojok mengenai seseorang yang merasa gelisah akan cara orang-orang dalam mengonsumsi makanan, yakni soto. Menurutnya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makan-soto-tapi-nasinya-dipisah-itu-manner-dari-mana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">makan soto atau rawon dengan nasi yang terpisah benar-benar sebuah tindakan yang sok elitis<\/a>. Hmm, masak sih, Mz?<\/p>\n<p>Nggak selesai di situ, beberapa hari kemudian muncul tulisan lain yang mengatakan bahwa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tidak-cuma-cara-makan-soto-cara-makan-sushi-juga-perlu-diperdebatkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">cara makan sush<\/a>i juga perlu diperdebatkan. Apakah memakannya langsung sekali hap, digigit separo dulu, dimakan pakai sumpit atau dimakan pakai sendok? Hmm, saya sih tim yang jarang makan sushi dan nggak inget lagi kapan terakhir saya memakannya, hiks.<\/p>\n<p>Melalui kedua kasus di atas, saya percaya bahwa ada banyak hal yang perlu didebatkan di dunia ini. Hal-hal tersebut barangkali memang terlihat sepele, tapi pantas untuk menarik seluruh atensi kita\u2014khususnya saya. Hal sepele tersebut seperti perdebatan netizen akan makanan-makanan yang ada di Indonesia.<\/p>\n<p>Perdebatannya pun sangat bervariatif, seperti perdebatan akan cara memakan suatu makanan, bagaimana makanan tersebut dinamakan serta bagaimana makanan seharusnya diperlakukan. Perdebatan tersebut memunculkan semacam paham-paham yang kemudian memiliki banyak penganutnya.<\/p>\n<p>Berhubung saya memiliki banyak waktu luang, saya mencoba membuat daftar klasemen makanan apa saja yang keberadaannya selalu menimbulkan perdebatan. Kayaknya sih, perdebatan tersebut akan terus-menerus diturunkan pada generasi selanjutnya, hehe.<\/p>\n<h4><strong>#1 Bubur Diaduk vs Nggak Diaduk<\/strong><\/h4>\n<p>Ini adalah perdebatan paling lawas dan hebatnya nggak pernah lekang oleh waktu. Saya hampir nggak pernah paham, mengapa orang-orang seolah tak pernah lelah dan berhenti untuk berdebat tentang ini. Hey, kalian hanya perlu makan saja buburnya sebelum dingin!<\/p>\n<p>Hebatnya lagi, kedua kubu yang bersiteru ini <a href=\"https:\/\/www.suara.com\/tekno\/2019\/01\/23\/074500\/bubur-diaduk-vs-tidak-diaduk-bikin-warganet-terpecah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">memiliki pengikut dengan kuantitas hampir sama<\/a>. Saya pernah melihat seorang selebtweet yang mengadakan poling untuk mengetahui mana yang paling diminati: bubur diaduk vs nggak diaduk. Hasilnya? Jumlah suaranya sama.<\/p>\n<p>Menurut penganut paham bubur diaduk, bubur yang diaduk itu sangat enak. Semuanya nyampur jadi satu. Rasanya tentu jauh lebih nikmat. Bayangkan saja, saat kamu memasukkan bubur ke dalam mulut, di sana sudah tercampur bawang goreng, telur, kacang, ayam suwir, kecap, kadang juga kerupuk secara bersamaan. Membayangkannya saja sudah sangat nikmat, kan?<\/p>\n<p>Sedangkan penganut paham bubur yang nggak diaduk berpendapat sebaliknya. Mengaduk sama halnya dengan merusak mahakarya abang-abang penjual bubur yang sudah dengan cantiknya menata bubur tersebut tentu. Hal tersebut tentu saja merupakan sebuah penistaan, sangat tidak beradab terhadap makanan.<\/p>\n<p>Bayangkan saja, betapa cantiknya sebuah tampilan bubur yang penataannya sudah sesuai proporsinya, eh lalu tiba-tiba saja diacak, dibaurkan satu sama lain dengan tanpa perasaan. Hish, jahat sekali, ya.<\/p>\n<h4><strong>#2 Makan Soto, Nasinya Dipisah vs Nggak Dipisah<\/strong><\/h4>\n<p>Saya nggak tahu mana yang lebih nikmat, soalnya keduanya memiliki kelebihan masing-masing. Makan soto yang nasinya dipisah itu nikmat, lho. Soalnya, rasa sotonya masih alami, belum bercampur-baur dengan nasi. Lagi pula, ada beberapa tipe orang yang emang suka makan sotonya saja tanpa nasi. Bisa diganti sama lontong, sih, hehe. Kuantitas nasinya dan kuah sotonya juga lebih banyak kalau dipisah.<\/p>\n<p>Lalu, bagaimana dengan makan nasi yang dicampur sama sotonya? Ya nikmat juga, sih. Soalnya, selain menghemat wadah makanan dan nggak ribet, nasi yang sudah tercampur kuah soto dari awal maka rasa sotonya juga meresap ke dalam nasinya. Tinggal tambahin kecap, sambal sama jeruk nipis, langsung makan. Nikmat dan nggak perlu ribet.<\/p>\n<h4><strong>#3 Makan Sate Langsung Dari Tusuknya vs Dicopotin Dulu Dagingnya Lalu Dimakan<\/strong><\/h4>\n<p>Saya sebenarnya baru tahu ada perdebatan semacam ini, alias emangnya penting banget ya perdebatan semacam ini? Tapi, mari saya bahas.<\/p>\n<p>Menurut orang-orang yang menganut paham makan sate dicopotin dulu dagingnya, semuanya itu biasanya demi kemudahan dan keselamatan. Kali aja lagi makan sama gebetan, ya masa mau buka mulut lebar-lebar cuma demi narik sate? Belum lagi kalau tusuk satenya dari bambu, terus nggak sengaja kena gores ke mulut, kan sakit!<\/p>\n<p>Tapi, menurut penganut paham makan sate langsung dari tusuknya, mencopot daging dari tusuknya tersebut merupakan tindakan nggak terhormat. Memangnya enak ya, makan sate nggak dari tusuknya? Kalau nggak mau makan sate dari tusuknya, ya ngapain beli sate? Sate itu pakai tusuk, kalau nggak ya bukan sate namanya!<\/p>\n<p>Lagian, tusuk itu juga untuk mempermudah makan daging satenya, langsung hap! Kalau masih dicopotin satu-satu ya ribet, dong!\u00a0 Oh ya, tusuk tuh bagian dari estetikanya sate, bukan cuma pajangan, ya! Hish, saya jadi ngegas kan.<\/p>\n<h4><strong>#4 Martabak Manis vs Terang Bulan<\/strong><\/h4>\n<p>Ada beberapa daerah yang menyebut makanan berbahan dasar tepung, telur dan di atasnya dikasih toping yang manis-manis sebagai Martabak Manis. Tapi, di daerah lain\u2014termasuk di daerah saya, Madura\u2014nama makanan tersebut adalah Terang Bulan.<\/p>\n<p>Saya nggak paham mengapa orang-orang menyebutnya sebagai martabak. Mungkin karena bentuknya memang mirip martabak telur kali, ya? Bedanya, yang ini rasanya manis. Makanya dinamakan martabak manis.<\/p>\n<p>Tapi, di dalam kepala saya\u2014dan mungkin juga kalian yang menolak penamaan martabak manis pada makanan ini\u2014sudah terpatri sejak dalam kandungan, bahwa martabak itu gurih, bukan manis. Saya jelas-jelas menolak penamaan martabak manis pada makanan ini.<\/p>\n<p>Saya juga nggak tahu gimana sejarahnya, ya. Katanya sih, ada semacam <em>history <\/em>mengapa dinamakan martabak manis atau pun terang bulan. Cari saja sendiri di Google.<\/p>\n<h4><strong>#5 Sereal Dulu, Lalu Tuangkan Susunya vs Susunya Dulu, Lalu Tuangkan Serealnya<\/strong><\/h4>\n<p>Saya akui, saya belum pernah sarapan menggunakan sereal. Jadi, perdebatan tentang makanan ini <em>can\u2019t relate <\/em>bagi saya. Saya saja mengetahui adanya perdebatan ini dari akun-akun <em>base <\/em>yang membahas seputar makanan.<\/p>\n<p>Menurut sebagian netizen, makan sereal itu seharusnya ya diletakkan dulu serealnya di dalam mangkok, lalu tuangkan susunya. Kira-kira seperti itulah persepsi mereka dan memang sesuai dengan doktrin iklan-iklan mengenai sereal tersebut.<\/p>\n<p>Tapi, beberapa orang berpendapat lain. Bahwa jauh lebih nikmat menuangkan susunya lebih dulu, baru kemudian memasukkan serealnya. Orang-orang yang memiliki paham ini tentu saja memiliki kemampuan luar biasa dalam berontak. Meskipun cara yang mereka gunakan sama sekali berbeda dari anjuran dalam iklan sereal kebanyakan, mereka tetap percaya diri dan mendobrak tradisi! <em>Proud of you guys ~<\/em><\/p>\n<h4><strong>#6 Makan Nasi Padang, Pakai Tangan vs Pakai Sendok<\/strong><\/h4>\n<p>Saya nggak tahu apa perbedaan signifikan anatara kedua kubu ini. Entah apa motivasi mereka yang memperdebatkan cara yang paling syahdu dalam mengonsumsi nasi padang.<\/p>\n<p>Menurut kelompok penganut makan nasi padang pakai tangan, hal tersebut mungkin agar lebih nikmat. Makan nasi\u2014apa lagi nasi padang\u2014yang paling afdol ya emang pakai tangan, masa pakai sendok?\u00a0 Kan, nggak nikmat!<\/p>\n<p>Nasi padang yang dimakan pakai tangan tentu lebih fleksibel, tangan dapat dengan leluasa memporak-porandakan nasi dan membaurnya dengan lauk seperti rendang, dendeng batokok, gulai kepala kakap, ayam bakar, ayam pop, tunjang, juga cincang. Bayangkan semuanya bersatu padu di tangan. Hmm, jadi ngiler, nih.<\/p>\n<p>Eh tapi, menurut mereka yang menganut paham makan nasi padang pakai sendok, semuanya jauh lebih praktis. Tangan nggak perlu kotor, lalu nasi padang di piring akan tetap cantik karena nggak perlu <em>diubek-ubek <\/em>sama tangan. Ya, perdebatannya mirip-mirip samabubur diaduk dan nggak kali, ya, hehe.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makanan-yang-sering-menimbulkan-perdebatan-di-medsos-part-ii\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Makanan yang Sering Menimbulkan Perdebatan di Medsos Part II<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/siti-halwah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Siti Halwah<\/a>\u00a0lainnya<\/strong>.<\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak hal sepele yang sering diperdebatkan netizen di sosial media, salah satunya adalah makanan. Bubur diaduk vs tidak diaduk hanya contoh kecil saja.<\/p>\n","protected":false},"author":200,"featured_media":30006,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[5670,5669,5668],"class_list":["post-27557","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-bubur-diaduk-vs-tidak-diaduk","tag-makanan-kontroversial","tag-perdebatan-makanan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27557","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/200"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27557"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27557\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/30006"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27557"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27557"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27557"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}