{"id":2752,"date":"2019-06-02T07:30:55","date_gmt":"2019-06-02T00:30:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2752"},"modified":"2022-01-17T15:42:53","modified_gmt":"2022-01-17T08:42:53","slug":"disorientasi-daerah-dan-pendidikan-geografi-kita-yang-di-bawah-rerata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/disorientasi-daerah-dan-pendidikan-geografi-kita-yang-di-bawah-rerata\/","title":{"rendered":"Disorientasi Daerah Dan Pendidikan Geografi Kita yang Di Bawah Rerata"},"content":{"rendered":"<p>Pada suatu ketika, saya ditanyai daerah saya oleh seorang teman yang kebetulan baru kenalan. Saya memastikan kepada dia bahwa <a href=\"https:\/\/tirto.id\/tempat-dan-cara-bayar-zakat-di-kab-wakatobi-dY4z\">rumah saya itu ada di Wakatobi<\/a>, Sulawesi Tenggara. Dengan pede dan sigapnya dia menanyakan, \u201cdekat Medan ya?\u201d Sebuah pertanyaan yang bahkan bikin saya geli sendiri jika mengingatnya. Bayangkan, sejauh mana Wakatobi di Sulawesi dan Medan di Sumatra? Jauh sangat itu\u2014dari Indonesia bagian barat menuju Indonesia bagian Tengah.<\/p>\n<p>Saya tidak tahu bagaimana kita di sekolahan diajarkan tentang peta, tentang bentang alam dan yang lebih umum lagi, tentang Geografi. Mungkin semacam kecenderungan melihat sebuah nama daerah yang mirip karena saya menduga teman saya ini sulit membedakan Sumatra dan Sulawesi hanya karena dua daerah ini memiliki nama yang sama-sama berinisial S. Atau ada juga orang dengan kecenderungan melihat bentuk manusia lalu menyimpulkan asal daerahnya. Padahal bisa jadi salah. Saya yang berambut keriting ini lebih banyak dicap sebagai orang Nusa Tenggara Timur (NTT), Ambon atau Papua. Padahal dari awal juga saya sudah tegaskan, saya ASELI WAKATOBI, SULAWESI!!!<\/p>\n<p>Padahal untuk orang-orang yang besar dan bersekolah di pulau-pulau besar, saya yakin dan percaya mereka memiliki tingkat pendidikan di atas rerata kami sebagai orang-orang pelosok. Namun kejadian ini seakan menjadi semacam template ketik saya bertemu dan berkenalan dengan orang-orang. Saya bahkan berpikir <span style=\"text-decoration: line-through;\">kotor <\/span>dalam hati, apakah emang guru mereka tidak memberi pelajaran Geografi. Atau justru nilai mereka tidak lulus untuk mata pelajaran Geografi. Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang muncul di kepala.<\/p>\n<p>Di SD saya dulu ada sebuah peta tematik yang menjadi rujukan untuk saya dan teman-teman saya mengetahui berbagai daerah di Indonesia. Tidak cukup sampai disitu saja, peta tematik itu dirancang sedemikian rupa sehingg jika kita <em>tune<\/em> seperti layaknya radio, di suatu daerah bahkan bisa muncul tarian daerah, pakaian adat, fauna bahkan flora endemik di daerah tersebut. Dan bahkan dari sebuah peta yang tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang dimiliki teman-teman saya di kota besar (mikir saya), bisa sedikit banyak tahu nama daerah dan pernak-perniknya. Maka pesimisme selalu muncul setelahnya\u2014karena <a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/corak\/curhat\/kampus-dan-ekspektasi-orang-tua-membuat-saya-depresi\/\">ekspektasi saya orang-orang<\/a> yang bersekolah di kota bakal lebih banyak kenal Indonesia dibanding saya.<\/p>\n<p>Ke-Indonesiaan kita secara keseluruhan memang tidak bisa kita nilai dari besarnya nilai UN kita yang di atas rerata. Lebih dari itu. Bahwa jika kita mendapat nilai bagus dalam mata pelajaran Geografi, misalnya, tidak serta merta kita hafal semua letak geografis daerah di seluruh Indonesia. Padahal untuk hal-hal yang lumrah, kita sudah diperkenalkan sejak dalam pikiran. Menyanyikan lagu \u201cDari Sabang Sampai Merauke\u201d saja, kita sudah bisa menebak begitu besar negara kita tercinta ini membentang. Bahkan disebutkan di sana, batas timur dan baratnya juga.<\/p>\n<p>Hal diatas hanya bagian kecil dari usaha\u2014para Pahlawan Nasional\u2014memperkenalkan Indonesia kepada kita generasi sekarang. Ada beberapa lagu lain\u2014entah nasional atau bukan\u2014yang begitu tegas memberi kabar gembira tentang bentang alam Indonesia kita. Maka sangat tidak etis, jika hal yang begitu mendasar saja soal geografi negara kita tidak kita ketahui. Malu bos! Kalopun tidak tahu daerahnya, mbok ya tanya, \u201citu dimana?\u201d\u2014biar dijelasin sama yang punya daerah. Biar gak kelihatan sotoy padahal kosong mlompong.<\/p>\n<p>Kembali kepada nilai Geografi tadi, memang tidak serta merta ketika tidak tahu lokasi suatu daerah atau kekeliruan memberi nama suatu daerah bukan kahir dunia. Sayangnya, dari sini saja sudah memberi kita gambaran begitu apatisnya kita. Bahwa secara spesifik kita harus lebih kenal daerah kita dibanding tempat lain, itu sah-sah saja. Tapi kan ya mbok sekali-sekali cari gitu lho daerah ini di mana, daerah itu di mana. Kan gak harus dipelajari di sekolah juga dengan guru Geografi. Sudah ada Google Maps\u2014tinggal tulis nama suatu daerah terus <em>enter<\/em>, bakal muncul tuh lokasi.<\/p>\n<p>Oh iya, kecuali daerah tersebut hanya mitos\u2014tidak akan pernah muncul walau kamu ketik dan <em>enter<\/em> barang seribu kali. Atau misal, jangan sekali-sekali cari nama daerah yang terkenal saat sebelum era modern macam Kerajaan Pajang begitu. Kalo itu mah ya sampai peot juga tidak akan pernah muncul di pencarian peta. <em>hahaha<\/em>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya tidak tahu bagaimana kita di sekolahan diajarkan tentang peta, tentang bentang alam dan yang lebih umum lagi, tentang geografi.<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":2822,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[738,740,739,359],"class_list":["post-2752","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-geografi","tag-mata-pelajaran","tag-peta","tag-sekolah"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2752","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2752"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2752\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2822"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2752"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2752"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2752"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}