{"id":275046,"date":"2024-05-05T10:41:19","date_gmt":"2024-05-05T03:41:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=275046"},"modified":"2024-05-08T14:31:54","modified_gmt":"2024-05-08T07:31:54","slug":"sahoun-ayam-makanan-khas-purwokerto-yang-jarang-dilirik-karena-nggak-menarik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sahoun-ayam-makanan-khas-purwokerto-yang-jarang-dilirik-karena-nggak-menarik\/","title":{"rendered":"Sahoun Ayam, Makanan Khas Purwokerto yang Jarang Dilirik Orang karena Nggak Menarik"},"content":{"rendered":"<p><em>Bicara soal makanan khas Purwokerto, tentu kita akan membayangkan sroto Sokaraja atau bahkan mendoan. Padahal ada satu lagi makanan Purwokerto yang jarang dilirik tapi rasanya nggak kalah sedap, yakni sahoun ayam.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap berkunjung ke daerah Purwokerto, saya akan merekomendasikan makanan khas Banyumas dan sekitarnya yang banyak dikenal masyarakat. Misalnya saja sroto Sokaraja, get<span class=\"selectable-text copyable-text\">uk goreng,<\/span> atau bahkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/meluruskan-keresahan-purwokerto-perihal-mendoan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mendoan<\/a>. Sayangnya, karena perbedaan selera, nggak semua orang suka dengan makanan khas Banyumas yang sudah saya sebutkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner Banyumas dikenal mempunyai keunikannya sendiri. Misalnya, sroto Sokaraja menggunakan saus kacang sebagai sambalnya dan kerupuk yang disajikan akan direndam dalam kuahnya. Getuk goreng juga akan terasa asing karena umumnya makanan ini disajikan dengan cara dikukus atau direbus. Selain itu, nggak semua orang suka dengan mendoan yang digoreng setengah matang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berangkat dari keresahan ini, akhirnya saya mencari-cari kuliner yang sepertinya bisa diterima di lidah semua orang. Pencarian soal makanan khas Banyumas ini akhirnya menemukan titik terang setelah melihat YouTube.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Tahu saho<span class=\"selectable-text copyable-text\">un ayam<\/span> dari Nex Carlos<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu itu saya iseng buka YouTube dan kebetulan muncul di beranda video dari salah satu food vlogger Indonesia, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bondan-winarno-dan-nex-carlos-pengulas-makanan-terbaik-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nex Carlos,<\/a> yang lagi jalan-jalan di Purwokerto. Dalam salah satu videonya, saya baru tahu kalau ada makanan khas Purwokerto yang namanya saho<span class=\"selectable-text copyable-text\">un a<\/span>yam. Setelah saya lihat lagi, ternyata war<span class=\"selectable-text copyable-text\">ungnya<\/span> sering saya lewati ketika perjalanan dari rumah ke kampus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketidaktahuan saya soal makanan khas Purwokerto ini bukan tanpa alasan. Setiap saya lewat depan warung itu, kondisinya terlihat sepi dan jarang ada pelanggan. Padahal saya termasuk orang yang punya prinsip berani coba makanan kalau warungnya terlihat ramai.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Sahoun dan soun berbeda<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, alasan kedua yang bikin saya nggak pernah mencicipi kuliner tersebut adalah saya kira sahoun dan soun sama! Iya, saya berpikir, \u201cL,ha ngapain saya coba soun, di mana-mana juga ada!\u201d Tapi setelah menonton video Nex Carlos, ternyata saya hanyalah orang awam yang sok tahu sebelum mencicipi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan menjual soun, sahoun yang dimaksud pada k<span class=\"selectable-text copyable-text\">uliner sahoun ayam<\/span> bentuknya justru <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kwetiau\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mirip dengan kwetiau<\/a> yang pipih dan memanjang. Bedanya, kwetiau punya bentuk lebih tipis sementara sahoun lebih tebal. Selain itu, sahoun hanya disajikan dengan kuah kaldu ayam dan daun bawang saja, bukan digoreng atau dikasih kuah siram seperti kwetiau.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Comfort food yang nggak ditemukan di daerah lain<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika berkunjung ke Purwokerto, saya mencoba untuk mencicipi hidangan yang cukup sederhana ini. Kalau dilihat dari bentuknya, sebagai generasi visual dan pencinta micin, sekilas tampilan dari sahoun ayam memang nggak menarik sama sekali. Kuahnya bening dan cuma ada ayam suwir rebus plus daun bawang. Terlihat seperti makanan sangat sehat. Tapi setelah dicicipi, sepertinya ini kuliner paling sederhana tapi enak yang pernah saya coba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa saho<span class=\"selectable-text copyable-text\">un ayam<\/span> memang nggak neko-neko dan hanya mengandalkan gurihnya kaldu ayam dan bumbu dasar. Mungkin bagi sebagian orang yang suka rasa yang kuat dan medhok, makanan ini memang kurang memuaskan lidah. Tapi percayalah, saat sakit atau lagi nggak ingin makan yang aneh-aneh, makanan khas Purwokerto ini j<span class=\"selectable-text copyable-text\">ustru<\/span> cocok di lidah dan pas jika disantap sebagai comfort food.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang sedang berkunjung ke Purwokerto, saya rekomendasikan untuk mencoba makanan khas sat<span class=\"selectable-text copyable-text\">u<\/span> ini. Sejauh yang saya tahu, ada tiga warung di Purwokerto yang berjualan sahoun ayam. Biasanya, penjualnya akan buka mulai pagi sampai sore hari. Nah, sebagai pengingat, hidangan ini hanya tersebar di Kecamatan Purwokerto, bukan di kecamatan lain yang ada di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/banyumas\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Banyumas.<\/a> Jadi jangan sampai salah lokasi dan selamat mamam enak~<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Laksmi Pradipta Amaranggana<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/purwokerto-aneh-ada-bakso-hingga-opor-ayam-kacang-di-sini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Purwokerto Aneh: Ada Soto, Bakso, hingga Opor Ayam Campur Kacang di Sini<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penampilan sederhana dari sahoun ayam membuat makanan khas Purwokerto satu ini kurang dilirik kebanyakan orang. Padahal rasanya sedap, lho.<\/p>\n","protected":false},"author":1531,"featured_media":275089,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[19092,17988,24216,8526,24215],"class_list":["post-275046","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-kota-purwokerto","tag-kuliner-purwokerto","tag-makanan-khas-purwokerto","tag-purwokerto","tag-sahoun-ayam"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/275046","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1531"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=275046"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/275046\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/275089"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=275046"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=275046"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=275046"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}