{"id":275037,"date":"2024-05-06T08:37:15","date_gmt":"2024-05-06T01:37:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=275037"},"modified":"2024-05-06T10:32:49","modified_gmt":"2024-05-06T03:32:49","slug":"4-jalan-di-jogja-yang-perlu-dihindari-karena-menguji-pengendara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-jalan-di-jogja-yang-perlu-dihindari-karena-menguji-pengendara\/","title":{"rendered":"Nggak Semua Jalan di Jogja Bisa Diromantisasi, 4 Jalan Ini Sebaiknya Dihindari karena Menguji Nyali dan Kesabaran Pengendara"},"content":{"rendered":"<p><em>Berani nggak melintasi beberapa jalan di Jogja berikut ini<span style=\"font-weight: 400;\">?<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Romantisnya Jogja jelas sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Perkara bukti juga saya kira tak perlu repot-repot membeberkannya kepada Anda. Jelas sekali bahwa segala sesuatu tentang Jogja adalah hal yang bisa diromantisasi sebesar-besarnya dan seagung-agungnya. Mulai dari tempat wisata, kondisi dan bentang alam, makanan, keramahan penduduknya, bahkan UMR-nya yang tidak seberapa itu pun oleh sebagian orang tetap bisa diromantisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana soal romantisasi jalan? Salah satu ikon wisata paling terkenal di Jogja itu adalah Jalan Malioboro. Saya rasa, hampir semua orang di Indonesia juga kenal dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/malioboro-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Malioboro.<\/a> Beberapa daerah yang kehilangan identitasnya bahkan menjadikan Jalan Malioboro sebagai standar cara membangun jalan untuk dijadikan tempat wisata berkelas. Di sudut-sudut Jogja yang lain, tak ketinggalan jalan-jalan kampung dengan nuansa alamnya yang khas pedesaan itu jadi semacam daya tarik wisatawan soal jalan di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saya rasa tidak semua jalan di Jogja bisa diromantisasi. Alih-alih diromantisasi, sebagaimana judul tulisan ini, saya malah menyarankan Anda untuk menghindari beberapa jalan di Jogja berikut ini, baik Anda sebagai orang Jogja, lebih-lebih sebagai wisatawan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sepanjang Jalan Solo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-solo-jogja-kelewat-ramai-coba-lewat-wonosari-pakis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Solo<\/a> adalah salah satu akses masuk-keluar Jogja dari arah timur. Selain jalan ini, ada juga akses dari arah timur di selatan, yakni JJLS. Selayaknya akses masuk ke sebuah daerah wisata yang sudah mulai go international, jalan ini selalu padat dengan kendaraan, terlebih saat musim liburan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan Solo pada waktu-waktu biasa adalah jalanan yang terus bekerja dan tidak pernah terlelap. Manusia lalu-lalang di jalanan ini selama 24 jam. Imbasnya jelas saja kemacetan. Memang tidak macet selama 24 jam penuh. Namun, sebagai contoh dan pembuktian saja, Anda bisa uji nyali dengan berkendara di sepanjang Jalan Solo ini pada pagi atau pada sore hari. Jika Anda bisa menahan diri untuk tidak misuh sekali saja, rasanya sudah sebuah keajaiban.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-jalan-di-jogja-yang-perlu-dihindari-karena-menguji-pengendara\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Sepanjang Jalan Godean&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Sepanjang Jalan Godean<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan satu ini mungkin tidak se-macet Jalan Solo. Apalagi, daerahnya cenderung bukan akses menuju tempat wisata. Namun bukan berarti tidak ada masalah di jalan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan status jalan provinsi, rasa-rasanya Jalan Godean ini tidak ada layak-layaknya dengan status tersebut. Bagaimana tidak,<\/span><a href=\"https:\/\/jogjapolitan.harianjogja.com\/read\/2024\/03\/19\/510\/1168503\/pemda-diy-akui-sepanjang-ruas-jalan-godean-banyak-kerusakan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\"> jalan sepanjang kurang lebih 15 kilometer itu masuk kategori rusak ringan dan rusak sedang, dan 0% kategori baik<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Atau dengan kalimat sederhana, Jalan Godean itu rusak semua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya, saran saya agar Anda tidak perlu menghindari Jalan Godean ini lebih dari sekadar masuk akal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan Ringroad Jogja di malam hari<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/ringroad-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ringroad<\/a> adalah salah satu jalan dengan kategori cukup baik di Jogja. Di beberapa ruas memang masih ada sedikit kerusakan, walau tidak sampai membahayakan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat pagi sampai sore hari, saya hanya akan meminta Anda untuk berhati-hati saat melewati perempatan UPN dan perempatan Condongcatur via Ringroad ini. Perkaranya jelas, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">macetnya<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> padatnya kendaraan tidak bisa lagi dinalar versi orang Jogja. Antrean kendaran di jalan ini memanjang ke barat dan ke timur bahkan mencapai 1 kilometer. Sudah nggak masuk akal lah pokoknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sebagaimana sub judul di atas, saya lebih cenderung akan melarang Anda untuk berkendara di Ringroad saat malam, entah sekalut apa hidup Anda. Pokoknya jangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan Ringroad Jogja di malam hari tidak ubahnya sebuah terowongan besar tanpa penerangan. Benar-benar sangat menyeramkan. Bayangkan, jalanan sebesar, sebagus, semegah, dan se-bersejarah ringroad itu sangat minim penerangan jalan. Di sepanjang Jalan Ringroad Jogja ruas barat-utara, lampu penerangan jalan hampir semuanya tidak menyala. Beberapa kali saya melewati ruas tersebut dengan bergidik, padahal hari belum malam betul (sekitar jam 7 atau 8 malam). <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri membayangkan bagaimana horornya ruas Jalan Ringroad pada saat tengah malam. Tanpa perlu melarang, rasa-rasanya orang-orang akan dengan sukarela menghindari jalan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi Jalan Ringroad Jogja ini tentu diperparah dengan isu (kalau tidak mau disebut sebagai kejadian nyata) tentang klitih yang sepertinya tidak pernah selesai. Ringroad tanpa penerangan dan ancaman klitih ini semacam \u201cdikondisikan\u201d seperti itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Seluruh jalan di Jogja saat musim liburan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa kali saya menemukan berita perihal pemerintah Jogja yang menyarankan agar orang-orang Jogja di rumah saja sementara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/wisatawan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wisatawan<\/a> menyerbu pelosok-pelosok Jogja yang romantis itu. Saya adalah orang yang menentang, awalnya. Menurut saya, itu adalah kebijakan sangat sepihak (jika mau disebut sebagai sebuah kebijakan) dan tidak memikirkan tentang penduduk aslinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan, saya melihat kenyataan yang memang mendukung berita terkait saran tersebut di atas. Saya sendiri tidak punya pilihan lain selain menyarankan agar orang Jogja menghindari jalan di Jogja saat musim liburan. Dan ini bukan isapan jempol belaka. Beberapa kali ketika musim liburan tiba, saya memberanikan diri berkendara di sekitaran Jogja. Hasilnya? Saya kapok dengan macetnya jalanan Jogja.<\/span><\/p>\n<p>Jadi, it<span style=\"font-weight: 400;\">ulah beberapa jalan di Jogja yang sebaiknya dihindari karena menguji kesabaran dan nyali pengendara. Ingat ya, tidak semua hal bisa diromantisasi di sini, tak terkecuali jalanan-jalanan di atas.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Taufik<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-kesehatan-ugm-jalan-paling-syahdu-dan-sendu-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Kesehatan Depan Fakultas Teknik UGM, Jalan Paling Syahdu Sekaligus Paling Sendu di Jogja<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak semua hal di Jogja bisa diromantisasi. Misalnya saja beberapa ruas jalan di Jogja berikut ini karena berpotensi menguji pengendara.<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":275157,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[14315,23103,16714,24069,115,13098,21446],"class_list":["post-275037","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jalan","tag-jalan-di-jogja","tag-jalan-godean","tag-jalan-solo","tag-jogja","tag-pilihan-redaksi","tag-ringroad-jogja"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/275037","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=275037"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/275037\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/275157"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=275037"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=275037"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=275037"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}