{"id":274989,"date":"2024-05-06T12:30:17","date_gmt":"2024-05-06T05:30:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=274989"},"modified":"2024-05-07T08:06:18","modified_gmt":"2024-05-07T01:06:18","slug":"pensiun-di-desa-nggak-selamanya-indah-apalagi-bagi-orang-kota","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pensiun-di-desa-nggak-selamanya-indah-apalagi-bagi-orang-kota\/","title":{"rendered":"Orang Kota Nggak Cocok Menghabiskan Masa Pensiun di Desa, Nggak Usah Sok-sokan"},"content":{"rendered":"<p><em>Orang kota nggak usah sok-sokan ingin pensiun di desa, belum tentu cocok.\u00a0<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering membaca beberapa artikel di Terminal Mojok tentang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/klaten-tempat-pensiun-paling-ideal-mengalahkan-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tempat pensiun ideal<\/a>. Siapa tahu ada yang cocok jadi tempat pensiun bagi saya dan istri kelak. Terus terang, dari sekian banyak yang saya baca, lumayan banyak tempat yang klop di hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, setelah merenung lebih dalam, saya rasa desa nggak bakal cocok buat jadi tempat menua. Sebelum banyak yang tersinggung, saya perlu tegaskan terlebih dulu pernyataan tadi. Maksud saya di sini, orang dari perkotaan kayak saya kurang cocok menua di desa. Bukan orang desa yang nggak bakal cocok menua di daerah pedesaan. Biar argumennya valid, saya akan menjelaskan latar belakang argumen saya tersebut, sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<h2><b>Jarak fasilitas kesehatan perlu dipertimbangkan ketika memutuskan pensiun di desa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin tua, badan kita semakin dekat dengan penyakit. Ketika sakit tentu yang kita butuhkan adalah keberadaan fasilitas kesehatan (faskes). Minimal faskes tingkat I macam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tarif-puskesmas-tangerang-melonjak-5-kali-lipat-rakyat-miskin-dilarang-sakit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">puskesmas<\/a> dan klinik. Sayangnya banyak daerah pedesaan di Indonesia yang masih jauh dari faskes. Terlebih daerah pedesaan di pegunungan yang jadi salah satu tempat ideal untuk pensiun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika memasuki usia tua dan masa pensiun, memandangi daerah pegunungan dengan udara sejuk memang kegiatan yang enak. Namun, coba bayangkan ketika sakit dan harus mengakses fasilitas kesehatan, kalian harus jauh turun gunung juga bakal sangat merepotkan. Apalagi kalau hanya tinggal berdua dengan pasangan, repotnya bakal dobel-dobel.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAh, biasa aja itu, Bang. Buktinya para orang tua di desa biasa aja menghadapi kondisi tersebut.\u201d Memang kalau orang asli desa tersebut mesti sudah biasa dengan kondisi itu. Akan tetapi, orang dari kota seperti saya mungkin bakal kaget dengan faskes yang jauh dari tempat domisili. Mengingat, di daerah perkotaan lazimnya dekat dengan segala macam faskes.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pensiun-di-desa-nggak-selamanya-indah-apalagi-bagi-orang-kota\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Kualitas fasilitas &#8230;<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Kualitas fasilitas kesehatan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSantai aja, Bang. Di desa pelosok yang mau saya jadikan tempat pensiun sudah ada pustu (puskesmas pembantu). Jadi, perkara faskes beres.\u201d Eiits, belum tentu beres, Gaes. Sekali pun di desa pelosok tempat pensiun kelak sudah ada faskesnya, perlu ditinjau lebih dalam lagi. Apakah faskesnya memiliki peralatan medis yang lengkap? Apakah\u00a0 jumlah nakesnya sudah cukup untuk mengakomodir kebutuhan desa tersebut?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita sama-sama tahu, peralatan medis lengkap hanya ada di kota-kota besar Indonesia. Makanya, misalnya kamu sakit di sebuah puskesmas di Cilacap. Jika penyakitmu nggak sanggup ditangani puskesmas, kemudian kamu akan dirujuk ke rumah sakit di pusat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cilacap-masih-kalah-dari-purwokerto-sebagai-kota-pensiunan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kota Cilacap<\/a>. Andai rumah sakit Cilacap nggak mampu menangani juga, biasanya akan dirujuk ke Purwokerto. Begitu seterusnya, bahkan bisa sampai Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi fakta bahwa jumlah nakes di daerah pelosok jelas lebih sedikit ketimbang di kota. Walaupun faskes punya peralatan medis yang lengkap, bila yang mampu mengoperasikannya terbatas, tetap amsyong juga, Gaes. Malah nggak terpakai itu barang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebab itu, buat orang kota, pikir-pikir lagi deh kalau mau pensiun di desa yang pelosok. Pasalnya, ketika kamu sakit, tak semudah itu cari faskes yang berkualitas dan cocok. Beda kalau di kota, pilihan faskesnya jauh lebih banyak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sarana dan prasarana untuk kelompok rentan jarang di pedesaan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin tua, bukan hanya faskes yang dekat dan berkualitas saja yang dibutuhkan. Kita perlu juga yang namanya sarana dan prasarana untuk kelompok rentan. Yang termasuk <a href=\"https:\/\/tirto.id\/mengenal-kelompok-rentan-contoh-dan-hak-haknya-gSrH\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kelompok rentan<\/a> adalah lansia, anak, perempuan dan penyandang disabilitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kala masih muda, kita nggak butuh yang namanya lift untuk berpindah lantai. Lha wong tubuhnya masih bugar. Cuma naik satu atau dua lantai mah nggak bakal terasa. Silakan bandingkan ketika sudah masuk usia senja. Buat naik tangga satu lantai saja, pasti akan nyari-nyari lift. Lantaran tulang dan sendi mulai melemah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kira-kira fasilitas untuk kelompok rentan itu sudah ada belum di desa-desa tempat kamu pensiun besok? Apabila belum ada, rajin-rajin olahraga dan biasakan naik tangga. Agar kaki tetap kuat sampai memasuki usia uzur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat seluruh orang yang tinggal di daerah perkotaan, sebelum terlambat, susun kembali rencana tempat pensiun kelak. Jangan sampai sudah mantap pindah ke desa saat pensiun, tapi malah menyesal. Jangan berharap pemerintah bakal menyulap beberapa persoalan tadi dengan sekejap. Karena di antara semua kepahitan hidup, yang paling pahit adalah berharap pada pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ahmad Arief Widodo<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-tempat-tinggal-setelah-pensiun-gerbang-keruwetan-daerah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Menjamurnya Rekomendasi Tempat Tinggal setelah Pensiun Adalah Gerbang Menuju Keruwetan Daerah<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang kota bermimpi pensiun di desa boleh-bolah saja, asal tahu betul medan yang dihadapi kelak. Nggak selamanya pensiun di desa itu indah. <\/p>\n","protected":false},"author":1760,"featured_media":275204,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[322,5880,2581,24229,19721],"class_list":["post-274989","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-desa","tag-kota","tag-orang-kota","tag-pensiun-di-desa","tag-tempat-pensiun"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/274989","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1760"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=274989"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/274989\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/275204"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=274989"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=274989"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=274989"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}