{"id":274809,"date":"2024-05-02T11:33:19","date_gmt":"2024-05-02T04:33:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=274809"},"modified":"2024-05-02T12:01:46","modified_gmt":"2024-05-02T05:01:46","slug":"warmindo-sidoarjo-kalah-dari-jogja-menunya-mengecewakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/warmindo-sidoarjo-kalah-dari-jogja-menunya-mengecewakan\/","title":{"rendered":"Warmindo di Sidoarjo Semakin Menjamur, tapi Kalah Jauh dari Warmindo Jogja karena Menunya Monoton dan Mengecewakan"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga Jogja, saya kecewa dengan warmindo di Sidoarjo. Menunya monoton dan mengecewakan.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi jobseeker dari Jogja mengharuskan saya menjadi manusia nomaden untuk sementara waktu. Pindah kota sana dan sini untuk membuka peluang. Salah satu wilayah yang saya singgahi adalah Sidoarjo di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-kuliner-jogja-yang-cocok-untuk-lidah-jawa-timur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Timur<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pribadi cukup nyaman dengan suasana di sini. Suhu di Sidoarjo yang nggak jauh beda dengan Jogja. Selain itu, biaya hidupnya relatif masih murah ketimbang wilayah lain di Jawa Timur seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-di-mata-orang-sidoarjo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surabaya<\/a> dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kafe-di-malang-sudah-terlalu-banyak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malang<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai perantau dari Jogja yang perlu menghemat biaya hidup, saya cukup senang melakukan pencarian kuliner di berbagai wilayah. Saya pikir, makanan di Sidoarjo terbilang cukup murah dan rasanya juga masih masuk di lidah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ada satu culture shock yang membuat saya cukup kecewa dengan dunia kuliner Sidoarjo khususnya warmindo. Bagaimana nggak, saya yang biasanya mengandalkan warmindo di tempat asal saya, yaitu Jogja, harus rela kecewa setelah tahu terdapat banyak perbedaan dengan warmindo di sini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Warmindo di Sidoarjo menunya itu-itu saja, beda banget sama Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya merupakan pecinta warmindo. Menurut saya, \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/resep-rahasia-bikin-indomie-seenak-warmindo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">warung rakyat<\/a>\u201d itu bisa menjadi alternatif kuliner dengan menu variatif. Sudah begitu rata-rata enak dan murah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sesampainya di Sidoarjo, saya melihat begitu banyak warmindo atau di sini lebih familiar disebut warkop. Pemandangan tersebut tentunya membuat hati saya sedikit lega, \u201cWah, aman kalau mau cari makan tetap dekat.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bayangan tersebut sirna begitu saja setelah mengetahui fakta bahwa mayoritas warmindo di sini hanya menjual minuman dan mie instan saja. Tentu hal tersebut jauh dari ekspektasi saya yang terbiasa dengan warmindo Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya membayangkan adanya menu lain seperti nasi telur, nasi goreng, sampai nasi bandeng. Tiga menu di atas biasanya menjadi menu default warmindo Jogja. Kalau ada warmindo yang menjual menu nasi, jaraknya begitu jauh dan hanya ada di warung besar saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau nggak mau, saya harus memutar otak untuk mencari menu lain. Sayangnya, tempat saya tinggal, yaitu daerah Buduran, juga nggak punya banyak opsi tempat makan semacam warteg atau ramesan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya di Sidoarjo lebih banyak warung kecil rumahan yang menjual menu berupa nasi campur, yang mirip ramesan juga. Jujur saja, makanannya enak, tapi tempatnya kurang memadai dari segi luas sehingga kurang nyaman untuk makan sambil ngopi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tempat ngopi perlu dibedakan dengan makan berat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan pengamatan, warmindo di Sidoarjo memiliki jarak yang sangat berdekatan. Hampir setiap 50 meter ada dan ramai pengunjung. Saking dekatnya, saya sampai berpikir bahwa warga Sidoarjo lebih suka ngopi daripada makan. Sebenarnya saya suka dengan suasana nongkrong sambil ngopi. Tapi, biasanya, saya nggak cuma ngopi saja. Perut juga perlu diisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sepertinya, <a href=\"https:\/\/www.idntimes.com\/food\/dining-guide\/fina-wahibatun-nisa\/10-tempat-wisata-kuliner-sidoarjo-rekomendasi-untuk-si-doyan-makan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">perbedaan kultur<\/a> di Sidoarjo dengan Jogja adalah membedakan warung untuk nongkrong dan ngopi. Kalau ingin makan, ya silahkan cari warung makan. Beda halnya kalau ingin nongkrong dan ngobrol, warmindo adalah tempat paling pas dan opsi minumannya tetap banyak. Kalau satu penuh, kalian hanya perlu berjalan beberapa meter dan menemukan warung lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya juga, saya nggak bermasalah makan mie instan lalu ngopi. Tapi, tentu nggak sehat kalau setiap hari makan mie instan. Akhirnya, untuk urusan makan, saya memutuskan untuk kembali ke warung makan yang sama dan lebih memilih take away.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang bosan karena suasana makannya cuma melihat dinding kos. Tapi, bagaimana lagi? Kalau makan di tempat, tempatnya kurang nyaman. Kalau cari yang tempatnya nyaman, mereka cuma jual menu minuman dan mie instan saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya sudah, sebagai orang Jogja yang terbiasa berhemat, yang terpenting perut kenyang dan dompet aman. Menunya gitu-gitu aja juga nggak masalah, pada akhirnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Iqbal Habiburrohim<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-menu-red-flag-dari-warmindo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Menu Red Flag dari Warmindo yang Perlu Banget Diwaspadai<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Warmindo kini sudah menjamur di Sidoarjo. Namun, nyatanya mengecewakan karena menunya monoton. Kalah jauh dari warmindo di Jogja.<\/p>\n","protected":false},"author":1167,"featured_media":274813,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[2501,115,2942,944,1640,24188,2945],"class_list":["post-274809","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-jawa-timur","tag-jogja","tag-mie-instan","tag-sidoarjo","tag-warkop","tag-warkop-sidoarjo","tag-warmindo"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/274809","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1167"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=274809"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/274809\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/274813"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=274809"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=274809"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=274809"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}