{"id":273793,"date":"2024-04-22T11:53:14","date_gmt":"2024-04-22T04:53:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=273793"},"modified":"2024-04-22T11:53:14","modified_gmt":"2024-04-22T04:53:14","slug":"pasar-semawis-secuil-keindahan-di-tengah-kacaunya-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pasar-semawis-secuil-keindahan-di-tengah-kacaunya-semarang\/","title":{"rendered":"Pasar Semawis, Secuil Keindahan di Tengah Semarang yang Semakin Kacau"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pasar Semawis dengan berbagai keunikannya bak angin segar di tengah Semarang yang kian kacau.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan ini nama Semarang kembali mencuat karena ramainya pemberitaan mengenai banjir yang nyaris melumpuhkan aktivitas warga di sejumlah titik. Praktis, citra Semarang lagi-lagi tercoreng dan menjadi bulan-bulanan banyak orang. Sudah katanya bising, biaya hidup mahal, masih pula tak mampu menuntaskan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-banjir-besar-rata-di-banyak-daerah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> masalah banjir Kota Atlas<\/a> yang sudah seperti agenda rutin tahunan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kalau berpikiran terbuka sedikit, Semarang sebenarnya kota yang nyaman untuk ditinggali. Oh, kita tidak sedang bicara tentang seberapa banyak tabungan yang harus dipersiapkan maupun daerah mana saja yang terbebas dari ancaman banjir kalau mau menjadi penduduk di sini. Kenyamanan yang dimaksud lebih merujuk pada perilaku saling menghormati dan menghargai antar warganya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana yang orang ketahui, Semarang adalah ibukota provinsi sekaligus kota pusat perdagangan yang juga memiliki pelabuhan besar. Maka dari itu, tidak heran jika jumlah penduduk kota ini yang berketurunan Tionghoa tidak kalah sedikit dengan mereka yang beretnis Jawa. Hebatnya, interaksi antar keduanya beriringan dengan penuh kekerabatan hingga memunculkan suatu perpaduan yang menjadi ciri khas kota dengan bangunan ikonik Lawang Sewu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pasar Semawis simbol Semarang yang harmonis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu bukti nyata keselarasan budaya tersebut adalah keberadaan Pasar Semawis yang juga kerap disebut Waroeng Semawis. Masyarakat awam memahami arti kata Semawis sebagai panggilan lain dari Semarang dalam Bahasa Jawa yang lebih sopan atau krama inggil. Lucunya, orang Jawa sendiri justru akan terbahak bila mendengarnya. Itu karena tidak ada tatanan tingkatan bahasa untuk penamaan daerah. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Di luar itu, Pasar Semawis menjadi cerminan bagaimana masyarakat setempat berhasil menjaga toleransi di tengah pluralitas dan gempuran isu berbalut etnis maupun agama. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, Pasar Semawis resmi muncul pada 2005 sebagai respon positif diizinkannya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/dua-toko-cina\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">perayaan Imlek<\/a> secara terbuka.\u00a0 Mulanya, kelahiran pusat kuliner ini digagas oleh sebuah perkumpulan yang menamakan dirinya Kopi Semawis yang merupakan akronim dari Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka menyadari betul, Semarang menyimpan potensi untuk destinasi pariwisata. Terlebih, banyak sekali berdiri bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda dengan arsitekturnya yang megah dan mewah, khususnya di kawasan Kota Lama Semarang. Lokasi Pecinan sendiri terletak tak jauh dari Kota Lama sehingga upaya revitalisasi Kota Lama turut pula mencakup wilayah Pecinan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Wisata kuliner malam hari yang sulit ditolak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai gerbang revitalisasi, Pasar Semawis menawarkan daya tarik utama berupa wisata kuliner malam hari. Keputusan ini merupakan strategi yang cerdik mengingat tidak banyak tempat yang menawarkan berbagai jenis makanan di satu lokasi pada malam hari. Puluhan tenda semi permanen tampak berbaris rapi di sepanjang Jalan Gang Warung, Kecamatan Semarang Tengah. Variasi makanan khas Semarang dijajakan menjelang petang seperti es puter, nasi ayam, tahu gimbal, lumpia, pisang planet, dan bubur kacang. Kalau berkenan pun, pengunjung juga bisa menemukan sajian non-halal berbahan dasar daging babi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya lagi, Pasar Semawis hanya dibuka pada akhir pekan, mulai dari hari Jumat hingga Minggu. Jam operasional pasar tersebut juga terbilang singkat, yaitu dari pukul 6 sore sampai pukul 10 malam. Untuk menuju ke sana, pengunjung cukup meluangkan waktu sekitar 10 menit berkendara dengan roda empat dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/simpang-lima-semarang-saksi-bisu-lika-liku-prostitusi-di-kota-lumpia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lapangan Pancasila Simpang Lima<\/a> melalui Jalan Gadjah Mada. Akan tetapi, mengingat biasanya volume kendaraan dan area parkir cukup padat di hari-hari tersebut, penggunaan motor dirasa lebih bijak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kawasan pecinan yang unik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kenikmatan kuliner, area sekitar Pasar Semawis juga diselimuti dengan nuansa budaya serta religi yang kental. Seperti halnya kawasan Pecinan di daerah lain, sejumlah bangunan khas warga Tionghoa dan klenteng juga berjajar di sana. Klenteng yang cukup terkenal dan menjadi destinasi para wisatawan di seputar lokasi itu adalah <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kelenteng_Tay_Kak_Sie\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Klenteng Tay Kak Sie<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun Pasar Semawis tidak berkegiatan setiap hari, pasar ini memiliki peran penting dalam mengukir identitas Kota Semarang. Eksistensi Pasar Semawis semakin memperkuat imej Semarang sebagai kota yang tidak layak dipandang sebelah mata. Melalui Pasar Semawis sebagai pintu masuk utama, wawasan publik menjadi tercerahkan bahwa Semarang adalah kota yang unik dengan perpaduan potensi wisata heritage, budaya, dan kuliner sekaligus. Lebih dari itu, segala perbedaan serta warisan tersebut dapat mengalir dengan harmonis yang patut ditiru oleh warga kota lain. Jadi, kapan mau ke Pasar Semawis?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Paula Gianita Primasari<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pasar-barongan-jombang-pasar-paling-kalcer-tujuan-muda-mudi\/\"><b>Pasar Barongan Jombang, Pasar Paling Kalcer yang Wajib Dikunjungi Muda-Mudi Masa Kini<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pasar Semawis menjajakan kuliner lezat dengan nuansa pecinan yang kental. Benar-benar secuil keindahan di tengah Semarang yang kacau. <\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":273800,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[24062,24058,24057,4652],"class_list":["post-273793","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kawasan-pecinan","tag-pasar-semawis","tag-pasar-semawis-semarang","tag-semarang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/273793","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=273793"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/273793\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/273800"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=273793"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=273793"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=273793"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}