{"id":273660,"date":"2024-04-22T16:00:22","date_gmt":"2024-04-22T09:00:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=273660"},"modified":"2024-04-24T08:07:36","modified_gmt":"2024-04-24T01:07:36","slug":"wonosobo-nggak-mungkin-ada-klitih-seperti-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wonosobo-nggak-mungkin-ada-klitih-seperti-jogja\/","title":{"rendered":"Wonosobo Nggak Mungkin Ada Klitih, Geng Anak Muda Melempem dan Udara Malam Terlalu Dingin"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Klitih menjadi fenomena yang meresahkan di Jogja. Memang, saat ini praktiknya mulai diberantas, tapi masih ada saja satu atau dua kasus yang luput. Sebagai warga Wonosobo saya nggak habis pikir. Bagaimana kota dengan julukan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/jogja-sudah-tidak-pantas-menyandang-status-kota-pelajar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Kota Pelajar<\/a> itu memiliki permasalahan terkait pelajar\/anak muda sepelik itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal di tempat saya, Wonosobo banyak juga anak-anak muda. Namun tidak pernah sekalipun saya melihat fenomena klitih di jalanan. Berkendara menjadi lebih tenang, jam berapapun perginya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh pengamatan saya, ada beberapa faktor yang membuat Wonosobo nggak memungkinkan terjadi klitih. Tentu saja pengamatan ini bisa saja salah karena hanya berdasar pandangan mata yang sesaat.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Geng sekolah tidak punya kegiatan mencolok di luar sekolah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkumpulan pertemanan di sekolah adalah hal yang wajar. Menjadi tidak wajar kalau perkumpulan ini memiliki energi dan keberanian lebih untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan. Tentu saja di Wonosobo juga ada perkumpulan semacam ini. Bedanya, perkumpulan geng semacam ini hanya ditemui di sekolah saja. Ketika di luar lingkungan sekolah atau selepas jam sekolah, mereka menjadi warga biasa. Seandainya melakukan aktivitas, mereka sekedar bermain <a href=\"https:\/\/mojok.co\/penjaskes\/5-cara-melatih-teknik-dasar-futsal-biar-nggak-malu-maluin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">futsal<\/a> atau tur wisata ke beberapa tempat wisata.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Munafik kalau saya pelajar di Wonosobo tidak punya perselisihan. Sejauh pengamatan saya, memang ada perselisihan, hanya saja penyelesaiannya secara baik-baik. Daripada tawuran atau melakukan aksi berbahaya lain, mereka menyelesaikan masalah dengan baik-baik atau secara pribadi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wonosobo-nggak-mungkin-ada-klitih-seperti-jogja\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Terlalu dingin untuk melakukan klitih&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Wonosobo terlalu dingin untuk melakukan klitih<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wonosobo adalah salah satu kabupaten terdingin di pulau Jawa, untuk keluar pada malam hari membutuhkan niatan yang lumayan tinggi. Selain karena faktor udara yang begitu dingin, para anak sekolah di Wonosobo juga lebih menghabiskan waktu dengan kegiatan keagamaan yang cukup intens pada malam hari, hampir tidak ada anak Wonosobo memiliki riwayat untuk tidak mengikuti keagamaan pada malam hari. Faktor kegiatan kegiatan agama pada malam hari menjadi kunci untuk mengurangi aktivitas anak sekolah pada malam untuk sekedar nongkrong atau berpergian di malam hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila tidak ada aktivitas keagamaan pada malam hari, maka para anak muda biasanya akan menghabiskan waktu dirumah atau sekadar nongkrong di warung-warung yang buka ketika malam hari sembari mengobrol hingga terserang rasa kantuk. Tidak pernah ada obrolan untuk melakukan perbuatan kriminal di jalan, anak-anak sekolah itu sadar bahwa konsekuensi besar akan menghampiri bila melakukan itu, belum lagi nama mereka akan menjadi jelek di sekolah apabila melakukan perbuatan klitih di malam hari.<\/span><\/p>\n<h2><b>Fokus masuk dunia kerja, nggak ada waktu main-main<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faktor lain yang perlu dilihat adalah bagaimana anak sekolah di Wonosobo melihat masa depan mereka. Saya pernah beberapa kali bertanya kepada anak sekolah tentang apa yang mereka pikirkan tentang masa depan. Beberapa menjawab akan langsung menikah karena sudah memiliki pacar. Ada juga yang menjawab, mereka akan bekerja serabutan untuk menyambung kehidupan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawaban itu bukan berarti bahwa anak sekolah Wonosobo tidak berminat kuliah. Bagi masyarakat setempat, dunia perkuliahan hanya bagi mereka yang diberkati oleh kecerdasan atau anak-anak dari keluarga kaya. Sehingga, bekerja serabutan bagi anak sekolah di Wonosobo adalah pilihan yang paling realistis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu pilihan jalan hidup itu membuat anak muda di sana berpikir berkali-kali kalau mau melakukan tindakan yang aneh-aneh. Mereka akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga nama baik. Jangan sampai kegiatan semasa muda bisa mencoreng kesempatan kerja di masa mendatang,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa hal yang membuat saya berpikir Wonosobo tidak memungkinkan untuk terjadi klitih. Saya nggak ingin membandingkan apalagi menyarankan solusi untuk klitih di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Daerah_Istimewa_Yogyakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja<\/a>,. Saya tahu kondisi masyarakat di sana berbeda. Selain itu, akar permasalahan klitih begitu rumit dan panjang. Namun, bagaimanapun, saya berharap Jogja seperti Wonosobo yang bebas klitih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yoga Aditya L<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alun-alun-wonosobo-alun-alun-terbaik-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Banyak Kota di Indonesia Harus Belajar dari Keberhasilan Wonosobo Menata Alun-Alun sebagai Ruang Terbuka Hijau Sekaligus Memanusiakan PKL<\/a>.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wonosobo nggak memungkinkan ada klitih. Geng hanya ada di dalam sekolah, anak mudanya fokus dapat kerja, dan udara malam terlalu dingin. <\/p>\n","protected":false},"author":2611,"featured_media":273848,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5194,115,5193,8615],"class_list":["post-273660","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-geng-sekolah","tag-jogja","tag-klitih","tag-wonosobo"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/273660","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2611"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=273660"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/273660\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/273848"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=273660"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=273660"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=273660"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}