{"id":27349,"date":"2020-02-14T11:15:18","date_gmt":"2020-02-14T04:15:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=27349"},"modified":"2020-02-14T11:15:58","modified_gmt":"2020-02-14T04:15:58","slug":"review-bus-bumel-jogja-solo-sebagai-solusi-jika-kehabisan-tiket-prameks","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/review-bus-bumel-jogja-solo-sebagai-solusi-jika-kehabisan-tiket-prameks\/","title":{"rendered":"Review Bus Bumel Jogja-Solo Sebagai Solusi Jika Kehabisan Tiket Prameks"},"content":{"rendered":"<p>Sebagai seorang yang kerap <em>ngelaju<\/em> Jogja-Solo, saya kerap menggunakan alat transportasi berupa bus. Bus bumel Jogja-Solo adalah alternatif saya ketika kehabisan tiket KA Prameks. Beda dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-tempat-wisata-di-solo-buat-warga-jogja-yang-tidak-jauh-dari-stasiun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">KA Prameks<\/a> yang jadwal keberangkatanya sedikit, bus bumel Jogja-Solo mempunyai armada yang cukup banyak dan tersedia setiap saat. Tak perlu repot-repot pesen tiket, kita tinggal melambaikan tangan di pingir jalan kita bisa langsung <em>cuss<\/em> naik.<\/p>\n<p>Banyak sekali PO bus trayek Jogja-Solo yang pernah saya tumpangi, dari yang paling pelan kaya bekicot sampai yang ngebut seperti alap-alap. Karena telah berkesempatan menumpangi bermacam-macam PO bus Jogja-Solo, oleh sebab itu saya akan mencoba mereview PO bus yang melayani trayek Jogja-Solo yang pernah saya tumpangi dan bisa jadi referensi kamu jika ingin berpergian Jogja-Solo maupun sebaliknya<\/p>\n<h4>Satu: PO Antar Jaya<\/h4>\n<p>Bus yang bergarasi di Karanganyar ini banyak mengadopsi armada bus dari PO lain. Seperti lungsuran bus dari <a href=\"https:\/\/tirto.id\/kronologi-kecelakaan-bus-sumber-selamat-mira-dan-eka-di-ngawi-cHVU\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">PO Eka-Mira<\/a> dan PO Safari yang dipilih PO Antar Jaya untuk regenerasi armada mereka yang sudah dimakan usia. Tetapi menurut saya, PO Antar Jaya kurang handal dalam memilih lungsuran armada bus yang digunakan untuk regenerasi. Terbukti ketika saya menaiki bus Antar Jaya bekas bus Mira, banyak seat yang sudah rusak dan AC yang mati. Tetapi fasilitas yang kebanyakan rusak itu ditutupi dengan driver yang handal dengan jam terbang banyak dan yang tidak ketingaalan adalah <em>suoss<\/em>-nya. Pengalaman saya menaiki bus ini Jogja ke Solo hanya ditempuh dengan waktu 1 jam 15 menit.<\/p>\n<h4>Dua: PO Langsung Jaya<\/h4>\n<p>PO Bus yang juga bermarkas di Karanganyar ini juga meregenerasi armada bus-nya. Tetapi bus tipe medium lah yang dipilih PO untuk meregenerasi armadanya. Walaupun didominasi bus medium PO ini juga tidak kalah <em>suoss <\/em>dengan PO yang lain. Seperti tren bus bumel jaman sekarang ini, PO Langsung Jaya ini dilengkapi AC untuk bus mediumnya sedangkan untuk bus tipe besar belum semuanya dilengkapi AC.<\/p>\n<h4>Tiga: PO Sedya Utama<\/h4>\n<p>PO Sedya Utama adalah bus favorit saya. PO Sedya Utama adalah anak perusahaan dari PO Raya, salah satu PO dengan manajemen terbaik di Solo. Armada bus PO Sedya Utama semua juga sudah diregenerasi. Armada bus dari PO ini kebanyakan bermesin Mercedes-Benz. Suara mesin yang halus dan tarikan yang empuk membuat bus ini menjadi favorit saya. Untuk kecepatan sendiri tergolong kalem, tidak ngebut dan juga tidak lambat.<\/p>\n<h4>Empat: PO Suharno<\/h4>\n<p>Bus Suharno cocok ditumpangi untuk kamu yang berjiwa santuy. PO yang bermarkas di Godean ini rata-rata supirnya memacu dengan kecepatan rendah. PO Suharno ini menurut saya PO yang paling santuy di antara bus bumel Jogja-Solo. Pernah suatu ketika saya menumpangi bus ini dengan kecepatan rendah, tiba-tiba bus yang saya tumpangi ini disalip oleh bus Jogja-Solo lain, bukannya malah memacu kecepatan untuk berkompeteisi mendapatkan penumpang, bus ini malah tetap memacu kecepatan yang sama, bener-bener sopir berjiwa santuy. Tetapi walaupun berjiwa santuy, saya sangat mengacungi jempol untuk urusan fasilitas, PO ini sangat menjaga kebersihan kabin penumpang.<\/p>\n<h4><strong>Lima: PO Jaya Putra<\/strong><\/h4>\n<p>PO Jaya Putra merupakan bus yang juga berjiwa santuy tetapi kadang-kadang juga <em>suoss <\/em>tergantung jam dan mood supirnya. Bus yang bermarkas di Delanggu, Klaten ini juga merupakan salah satu PO favorit saya. Armada bus PO Jaya Putra kebanyakan juga sudah di regenerasi. Sepert PO Sedya Utama, kebanyakan armada bus Jaya Putra memiliki suara mesin yang halus. Seat kursinya semua juga sudah di-<em>upgrade<\/em> sehingga terasa empuk. Ketika saya menumpangi bus ini saya selalu terlelap, tidak tahu apa sebabnya mungkin karena seat kursi yang empuk atau karena memang ngantuk. <em>Hahaha.<\/em><\/p>\n<p>Itulah tadi lima bus bumel Jogja-Solo yang pernah saya tumpangi. Untuk harga tiket sendiri yaitu 15 ribu untuk yang AC dan 10-12 ribu untuk yang non AC. Oh iya, bus bumel Jogja\u2013Solo tidak beroperasi 24 jam. Apabila kamu berpergian malam hari di atas jam 9 malam kamu bisa menumpangi bus jawa timuran seperti PO Sumber Selamat, PO Eka\u2013Mira. Untuk harga tiket sendiri juga sama seperti bus bumel Jogja-Solo.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-hal-yang-janggal-dari-kisah-bus-hantu-cikampek-bandung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Hal-hal yang Janggal dari Kisah Bus Hantu Cikampek-Bandung<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/adien-tsaqif-wardhana\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Adien Tsaqif Wardhana<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beda dengan KA Prameks yang jadwal keberangkatanya sedikit, bus bumel Jogja-Solo mempunyai armada yang cukup banyak dan tersedia setiap saat.<\/p>\n","protected":false},"author":300,"featured_media":27368,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[483,115,2284],"class_list":["post-27349","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-bus","tag-jogja","tag-solo"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27349","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/300"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27349"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27349\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27368"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27349"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27349"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27349"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}