{"id":27261,"date":"2020-02-13T10:10:57","date_gmt":"2020-02-13T03:10:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=27261"},"modified":"2021-10-14T15:04:45","modified_gmt":"2021-10-14T08:04:45","slug":"gaya-orang-pekalongan-menyantap-nasi-megono-yang-tak-kalah-ribet-dari-soto-dan-sushi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gaya-orang-pekalongan-menyantap-nasi-megono-yang-tak-kalah-ribet-dari-soto-dan-sushi\/","title":{"rendered":"Gaya Orang Pekalongan Santap Nasi Megono yang Tak Kalah Ribet dari Soto dan Sushi"},"content":{"rendered":"<p>Di Terminal Mojok, beberapa waktu terakhir ini, bukannya membahas kenikmatan dan kelezatan makanan, mereka justru memperdebatkan cara memakannya. Yang satu menanggapi soal makan soto yang nasinya dicampur atau tidak, satunya lagi menyinggung cara orang-orang makan sushi. Masak makan aja perlu diatur? Ribet banget. T<span style=\"font-weight: 400;\">ernyata soal cara makan, orang Pekalongan juga punya keribetan tersendiri, loh. Apalagi kalau sudah berhadapan dengan nasi megono. Kalian pasti nggak familiar dengan apa itu megono, kan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">? Pasalnya, makanan yang satu ini mustahil didapatkan kalau nggak di Pekalongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Megono adalah makanan khas Pekalongan yang dibuat dari gori (nangka muda) yang dipotong kecil-kecil, lebih tepatnya dipotong tak beraturan. Selain dari gori, dalam megono juga ada cabai dan kelapa yang membuat rasanya semakin <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yahuddd<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang Pekalongan, megono biasanya dihidangkan dengan nasi yang masih <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kemebul<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Makanan inilah yang selalu menjadi favorit ketika berkunjung ke Pekalongan. Warga di Pekalongan sendiri kerap menyantap nasi megono untuk sarapan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, menyantap makanan ini tak sesimpel itu loh ternyata. Orang Pekalongan punya persyaratan-persyaratan tersendiri sebelum memakannya. Saya termasuk orang yang nggak bisa makan nasi megono kalau persyaratannya tidak terpenuhi.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Harus ada gorengannya<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu prasyarat yang harus terpenuhi sebelum menyantapnya adalah gorengan. Entah ini sudah mulai sejak kapan. Yang jelas sejak saya SD makan nasi megono harus ada gorengannya, mau itu tempe goreng, tahu goreng, atau bakwan. Semua bisa, asalkan jangan pisang goreng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya pengalaman tentang ini. Suatu ketika saya dan kawan-kawan hendak makan siang, tentu lauknya satu di antaranya adalah megono. Karena saya dan teman-teman biasa makan nasi ini harus pakai gorengan, dan waktu itu gorengan belum matang, kami memutuskan untuk menunggu. Tapi ada satu teman saya yang akhirnya menyerah, dan menyantapnya tanpa gorengan melainkan ditambah kerupuk. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dan setelah gorengannya matang, teman saya itu kecewa. Alhasil, dia makan pula gorengan. Itung-itung menebus kekecewaannya yang tadi, katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kejadian serupa tak hanya menimpa saya dan kawan saya. Di sebuah tempat lain, ada seorang pembeli warung. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kebetulan itu adalah warung nasi megono. Si pembeli tadi sudah saya tebak, pasti akan menanyakan gorengannya. Sialnya, ternyata gorengannya sudah habis, nggak ada yang tersisa. Si pedagang belum menggorengnya lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah dia melanjutkan beli dan makan nasi tersebut? Tidak sama sekali. Dia malah pergi beralih ke warung lain yang mungkin lebih lengkap dari warung sebelumnya.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Perlu sedikit tambahan sambal kecap<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya soal gorengan, sebagian orang Pekalongan akan lebih suka makan nasi ini yang ada sambal kecapnya. Ini sangat repot kalau dibuat syarat, tapi buat gaya-gayaan boleh saja, sih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kendati demikian, warung megono pasti bakal sedia payung sebelum hujan. Mereka pasti sudah menyiapkan sambal kecap sebelum datangnya pembeli. Sepertinya, sambal kecap ini memiliki daya magis tersendiri, karena nasi megono sambel kecap memang enak tenan! As<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">li<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paling menyebalkan adalah ketika orang makan nasi ini dan sambal kecapnya banyak sekali. Saya pikir, nih orang menumpahkan satu mangkok sambel kecap ke nasinya, atau gimana, ya? Kelakuan semacam ini terkadang membikin pembeli lain nggak kebagian. Dan di dalam hatinya bisa saja menggerutu.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Dibungkus daun pisang, makin mantap<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Almarhum kakek saya pernah bilang, makan nasi tersebut yang terbungkus daun pisang jauh lebih enak ketimbang yang bungkusnya kertas, atau dihidangkan pada piring. Saya sama sekali tidak mempercayai hal demikian. Mana mungkin?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali itu karena kebetulan orang yang memasak nasi megono itu memang masakannya enak. Jadi mau dibungkus daun pisang kek, dibungkus kertas, dibungkus plastik, semuanya jadi enak. Namun selang beberapa waktu berikutnya, saya kok berubah jadi sepakat dengan kakek saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kejadiannya, saat saya dibelikan nasi megono ibu saya dari dua penjual langganan. Kedua penjual ini terkenal pandai memasak nasi megono. Yang satu dibungkus kertas bungkus berwarna cokelat, satunya lagi dibungkus daun pisang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jingan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Emang nikmat betul makan nasi megono yang dibungkus daun pisang. Ini bukan alay atau gimana ya, tapi jujur, enak banget, kalian coba saja, deh. Sini main ke Pekalongan. Tak tahu apa sebabnya, ketika hal itu diulangi lagi hasilnya sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penjual yang awalnya memakai kertas buat bungkus nasi megono tadi beralih ke <a href=\"https:\/\/tirto.id\/di-balik-proses-membuat-lontong-dan-ketupat-crmt\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">daun pisang<\/a>. Saya pun membelinya dan ajaibnya rasanya seperti berubah, seperti jauh lebih enak dan nikmat. Terkadang terkait bungkus nasi ini juga bisa mempengaruhi orang Pekalongan khususnya pilih-pilih dalam memakan megono.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bisa menyimpulkan kalau nasi ini adalah kearifan lokal yang unik. Tidak hanya cita rasa yang lezatnya bukan main, tapi seluruh gaya dan intriknya juga patut dilestarikan. Pesan saya sih, andaikata suatu saat kalian punya kesempatan datang ke Pekalongan dan ingin mencicipi nasi megono, datanglah pagi-pagi di Alun-alun Pekalongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan sampai kesiangan karena kalau kesiangan sedikit kalian bakalan kehabisan. Kalau mau malam, ya jangan malam-malam. Di alun-alun malam hari masih ada kok penjual nasi megono, tapi paling enak makan nasi ini malam-malam itu di angkringan. Eh, satu lagi, karena Pekalongan punya pantai, serius deh, cobain makan nasi megono di pinggir pantai. Tenang saja, ada penjualnya kok, murah lagi.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-kuliner-sebagai-seorang-mahasiswa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pengalaman Kuliner Sebagai Seorang Mahasiswa<\/a> atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-arsyad\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Arsyad<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h5>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak hanya harus tersedia gorengan, sebagian orang Pekalongan akan lebih suka makan nasi megono yang ada sambal kecapnya.<\/p>\n","protected":false},"author":448,"featured_media":27288,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[438,5342,4576],"class_list":["post-27261","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-kuliner","tag-nasi-megono","tag-pekalongan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27261","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/448"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27261"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27261\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27288"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27261"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27261"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27261"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}