{"id":27135,"date":"2020-02-11T13:30:42","date_gmt":"2020-02-11T06:30:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=27135"},"modified":"2020-02-11T13:52:19","modified_gmt":"2020-02-11T06:52:19","slug":"berbeda-beda-tapi-tetap-hantu-juga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berbeda-beda-tapi-tetap-hantu-juga\/","title":{"rendered":"Berbeda-beda tapi Tetap Hantu Juga"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400;\">Dunia perhantuan sepertinya sedang dan masih akan ramai diperbincangkan oleh warga +62 untuk beberapa waktu ke depan. Saya bisa bilang seperti itu sebab di YouTube, <em>channel<\/em> yang coba melakukan investigasi, analisis keterlibatan mereka terhadap dunia manusia, atau yang sekadar salam sapa, masih sering jadi <em>trending topic<\/em>.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tentu bukan hal yang aneh, mengingat Indonesia memiliki sejarah panjang kedekatan personal maupun komunal antar dua makhluk beda dimensi ini. Kedekatan keduanya bisa karena pesugihan, penglaris, cinta lintas dimensi, atau sebagainya. Macem-macem pokoknya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kedatangan Portugis, Belanda, dan Jepang yang katanya dibarengi dengan alam berpikir rasional nyatanya tak mampu menggeser posisi hantu dari kedalaman alam berpikir masyarakat Indonesia. Malahan, para penjajah ini menambah daftar hantu-hantu di Indonesia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Jika dulunya cuma ada hantu-hantu lokal, semisal pocong, kuntilanak, atau genderuwo, yang banyak dibilang orang punya wajah dan bentuk yang nggak enak dipandang, kedatangan hantu mancanegara ini seolah memberi angin segar. Dari penjelasan salah satu <em>channel<\/em> YouTube yang saya tonton, beberapa di antara mereka memang ada yang berwajah cantik.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri belum pernah melihat, dan tidak ingin melihat. Secantik apa pun mereka. <em>Lah wong<\/em>\u00a0masih ada kamu yang sedap dipandang\u00a0kok, Nduk. Eeaa&#8230;<\/p>\n<h4>Relativitas Ilmu Perhantuan<\/h4>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sejauh ini, ilmu perhantuan saya sebatas apa yang disampaikan oleh para pegiat dan pengamat hantu, baik yang disampaikan secara\u00a0<em>offline<\/em>\u00a0maupun\u00a0<em>online<\/em>. Setiap saya nonton video di YouTube misalnya, selalu ada informasi baru. <span style=\"text-decoration: line-through;\">Informatif tapi\u00a0<em>ndak<\/em>\u00a0mencerahkan<\/span>.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Misal, awalnya saya mengira kalau hantu jenis kuntilanak itu ya berkelamin perempuan. Akar katanya saja \u2018kunti\u2019 dan \u2018anak\u2019. Pun eksistensi mereka dikabarkan karena ada perempuan hamil yang meninggal. Tapi di video itu dibilang, kalau dari jenis yang sama ada yang berkelamin laki-laki. Kuntilanak yang berkelamin perempuan, sementara yang berkelamin laki-laki dikasih nama kuntilaki. Apakah berarti kuntilaki berasal dari laki-laki hamil yang meninggal? Entah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ada lagi. Kali ini dari jenis pocong. Dari informasi yang saya dapat dari tivi ketika masih\u00a0<em>umbelen<\/em>, cuma ada dua jenis pocong; laki-laki dan perempuan, Jefri dan Mumun. Lah, ini kok tiba-tiba dibilang kalau ada pocong biasa (standar), pocong gundul, pocong mata merah, dan lain-lain.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Jadi, informasi yang saya terima puluhan tahun lalu itu keliru? Apa ini yang dimaksud ilmu pengetahuan itu bersifat relatif dan terus mengalami perkembangan? Termasuk di dunia tak kasat mata?<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yah, antara percaya dan tidak, sih. Saya juga nggak bermaksud membuktikan kebenaran informasi tersebut. Biarlah saya dibilang orang yang menerima informasi mentah-mentah. Nggak peduli.<\/p>\n<h4>Apa pun Jenisnya, Hantu ya Hantu<\/h4>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dibanding dengan jenis dan macam hantu di luar negeri yang itu-itu aja, saya akui Indonesia punya perbendaharaan hantu yang bisa dibanggakan di dunia internasional. Tapi saya tetap nggak habis pikir ketika dapat informasi soal jumlah nama hantu di Indonesia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Jadi, beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan\u00a0ngobrol dengan salah seorang budayawan Jogja. Temanya seputar manusia dan kebudayaan. Katanya mengawali, manusia itu punya tiga potensi yang ada pada dirinya: imajinasi, rasionalitas, dan hati nurani. Tiga potensi ini membedakan manusia dari hewan, jin, dan malaikat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Nah, soal imajinasi, warga +62 juaranya. Gimana nggak, selain menghasilkan seni, karya, dan sebagainya, dari hasil optimalisasi nalar imajinatif dan perjumpaan secara langsung, akhirnya oleh manusia dibuatlah data nama-nama hantu di Indonesia yang mencapai angka seratus sembilan puluh tujuh.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yang membuat saya semakin merasa\u00a0<em>makdeg<\/em>, data itu diperoleh dari penelitian akademik. Kok ya kepikiran buat penelitian semacam itu gitu loh? Heran, deh.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Jangan tanya apa rumusan masalah, kerangka teori, dan bagaimana metode penelitiannya, sebab saya juga masih penasaran. Ketika coba saya\u00a0<em>searching<\/em>\u00a0di internet, ternyata datanya nggak ada. Sebabnya apa saya kurang tahu. Atau barangkali saya yang kurang serius mencarinya?<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dari seratus sembilan puluh tujuh nama hantu itu, saya kira cara ngitungnya jenis perjenis. Hantu jenis kuntilanak dan kuntilaki dihitung satu, aneka jenis pocong dihitung satu, dan seterusnya. Itu perkiraan saya. Yang tahu pastinya hanya peneliti, Tuhan, dan hantu sebagai objek penelitiannya. Dan yang jelas, mereka tetap hantu. Apa pun jenisnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selain jenis dan nama, nggak jauh beda dengan dunia manusia, para hantu juga bisa diidentifikasi lewat tempat tinggal, strata sosial, sampai hobi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yang saya belum tahu, apakah di dunia hantu juga ada pelanggaran <a href=\"https:\/\/tirto.id\/sejarah-hari-hak-asasi-manusia-yang-diperingati-tiap-10-desember-em9h\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Hak Asasi<\/a> Hantu (HAH)? Sepertinya ada, soalnya ada perbedaan strata di antara mereka. Tapi kalaupun ada, apa itu bisa dibilang wajar? Kan mereka nggak punya hati nurani. Beda urusan kalo yang ngelanggar manusia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Saya sih berharap, ada\u00a0<em>channel <\/em>YouTube yang mengulas soal pelanggaran HAH itu. Barangkali bisa dijadiin bahan penelitian lagi, kan?<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malamjumat-hantu-baik-yang-mau-gendong-dan-nganterin-pulang-orang-malas-mandi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">#MALAMJUMAT Hantu Baik yang Mau Gendong dan Nganterin Pulang Orang Malas Mandi<\/a> atau tulisan Sirajuddin lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika dulu cuma ada hantu-hantu lokal yang banyak dibilang punya bentuk yang nggak enak dipandang, kedatangan hantu mancanegara seolah memberi angin segar.<\/p>\n","protected":false},"author":555,"featured_media":27169,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1175,2734,3872],"class_list":["post-27135","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-hantu","tag-kuntilanak","tag-pocong"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27135","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/555"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27135"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27135\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27169"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27135"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27135"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27135"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}